Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan yang menuai perhatian saat menyebut Selat Hormuz sebagai "Selat Trump" dalam sebuah pidato di Miami, Jumat (27/3) waktu setempat.
Mengutip CNBC pada Sabtu (28/3), Trump awalnya membahas pentingnya selat tersebut dalam konflik yang melibatkan Iran. Namun, dia kemudian menyelipkan candaan dengan menyebut nama selat itu secara berbeda.
"Iran harus membuka Selat Trump, maksud saya, Hormuz," sebut Trump.
Trump lalu mengatakan menyesali perbuatannya yang dinilai sangat buruk.
"Maafkan saya. Saya sangat menyesal. Kesalahan yang sangat buruk," ucapnya.
"Media palsu akan mengatakan, ‘Dia tidak sengaja mengatakannya’, tidak, tidak ada yang tidak sengaja dari saya, tidak banyak. Jika ada, itu akan jadi berita besar," sambung Trump.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan akibat perang, di mana Selat Hormuz jadi titik krusial dalam konflik yang disebut telah memasuki bulan kedua. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia, dengan sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap hari.
Kemampuan Iran untuk menghambat Selat Hormuz berdampak besar terhadap pasokan energi global dan memicu lonjakan harga.
Sebelumnya, Trump juga sempat mengusulkan kemungkinan pengelolaan bersama Selat Hormuz dengan Iran. Dia mengatakan wilayah itu bisa dikendalikan olehnya dan mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, sebagai bagian dari penyelesaian konflik.
Di sisi lain, Trump mengeklaim Iran tengah bernegosiasi dengan AS untuk mencapai kesepakatan. Namun, pihak Teheran membantah adanya pembicaraan langsung.
Media AS melaporkan Trump bahkan mempertimbangkan untuk mengambil alih kendali Selat Hormuz dan mengganti namanya, termasuk menjadi “Selat AS” atau menggunakan namanya sendiri.





