Ini Perbedaan ETF Emas dan Digital, Cek Keuntungan Investasinya

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Investasi emas terus berkembang tak terbatas pada emas fisik, seiring dengan digitalisasi sektor keuangan yang menghadirkan berbagai instrumen baru yang memudahkan investor. Dua di antaranya yang semakin populer adalah emas digital dan exchange-traded fund (ETF) emas.

Keduanya merupakan instrumen investasi yang sama-sama berkaitan dengan eksposur harga emas di pasar spot, tanpa harus menyimpan emas fisiknya secara langsung. Meski sama-sama masuk dalam kategori digital, keduanya memiliki mekanisme, profil risiko dan potensi keuntungan yang berbeda.

Emas digital merupakan bentuk kepemilikan emas dalam satuan gram yang dicatat secara elektronik dan didukung oleh emas fisik yang disimpan oleh penyedia layanan. Di Indonesia, salah satu contoh adalah fitur Tabungan Emas di aplikasi Tring by Pegadaian. Investor dapat membeli emas mulai dari nominal terkecil Rp10.000, kemudian menyimpannya secara digital dan mengakumulasinya hingga dapat mencetaknya menjadi emas batangan.

Pada platform tersebut juga ada fitur deposito emas dengan gramasi minimal 5 gram dan pilihan tenor 1 bulan sampai 12 bulan. Keuntungan yang ditawarkan dalam deposito ini sebesar 1% per tahun.

Menilik potensi pengembalian, simulasi sederhana menunjukkan bahwa imbal hasil deposito emas relatif terbatas jika tidak diiringi kenaikan harga emas secara signifikan. Dengan asumsi nasabah menempatkan 5 gram emas dengan tenor 12 bulan dengan imbal hasil 1% per tahun, maka tambahan emas yang diperoleh hanya sekitar 0,05 gram. Dengan demikian, total kepemilikan emas di akhir tenor menjadi 5,05 gram.

Jika menggunakan harga saat ini, saat harga beli emas berada di Rp27.330 per 0,01 gram atau setara Rp2,73 juta per gram, maka nilai awal investasi mencapai sekitar Rp13,66 juta. Sementara itu, jika emas tersebut dijual kembali pada harga saat ini di Rp26.230 per 0,01 gram atau sekitar Rp2,62 juta per gram, maka nilai akhir dari 5,05 gram emas sekitar Rp13,24 juta.

Baca Juga

  • Target AUM Rp1 Triliun, Mandiri MI Siapkan ETF Emas untuk Investor Domestik
  • ETF Emas Resmi Meluncur Dana Kelolaan Diramal Bisa Tembus Rp5 Triliun
  • Sinarmas AM Bidik Dana Kelolaan hingga Rp1 Triliun dari Produk ETF Emas

Artinya, meskipun terdapat tambahan imbal hasil dalam bentuk emas, investor masih berpotensi mengalami kerugian sekitar Rp418.000 apabila harga tidak mengalami kenaikan dalam masa tenor. Kondisi ini terjadi karena adanya selisih antara harga beli dan harga jual atau spread yang cukup lebar, sehingga imbal hasil 1% per tahun belum mampu menutup gap tersebut. Namun, investor akan mengalami keuntungan apabila harga emas meningkat. Berdasarkan tren, harga emas global cenderung mengalami kenaikan dalam jangka panjang walau ada fluktuasi.

Pada penutupan pasar Jumat (27/3/2026), harga emas di pasar spot (XAU) menguat 2,70% ke US$4.494 per ons. Level harga ini mencerminkan pertumbuhan 4,05% secara year to date (YtD).

Sementara di dalam negeri, harga emas di Pegadaian berada di posisi Rp27.330 per 0,01 gram, atau naik 11,18% secara YtD. Bila diukur secara year on year (YoY), harga beli emas di Pegadaian telah naik 61% dari harga Rp16.970 per 0,01 gram. Sementara untuk harga jual emas di Pegadaian secara YoY mengalami kenaikan 59% dari Rp16.460 per 0,01 gram menjadi Rp26.230 per 0,01 gram.

Bila menggunakan asumsi kenaikan harga emas Pegadaian 61% dalam 12 bulan, nilai total kepemilikan 5,05 gram emas mencapai sekitar Rp21,62 juta. Dibandingkan dengan nilai awal investasi sebesar Rp13,66 juta, maka investor berpotensi meraih keuntungan sekitar Rp7,6 juta dalam satu tahun.

Sementara untuk ETF emas, di Indonesia Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru mengeluarkan landasan hukumnya yang tertuang di Peraturan OJK Nomor 2 Tahun 2026 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang Unit Penyertaannya Diperdagangkan di Bursa Efek dengan Aset yang Mendasari Berupa Emas atau ETF emas. 

Produk ETF emas yang sudah ada misalnya yang diperdagangkan di Amerika Serikat adalah SPDR Gold Shares (GLD). Pada penutupan pasar Jumat (27/3), GLD menguat 3,47% ke US$414,49. Harga produk ETF emas ini dalam setahun melonjak tajam dari kisaran harga US$275.

Menilik risiko kedua instrumen investasi tersebut, emas digital cenderung memiliki profil yang lebih sederhana dibandingkan dengan ETF emas. Risiko utama berasal dari fluktuasi harga emas global serta risiko operasional dari penyedia layanan seperti keamanan penyimpanan dan likuiditas. Namun, karena berbasis emas fisik, instrumen ini relatif stabil dan sering dipandang sebagai pilihan konservatif bagi investor ritel.

Di sisi lain, ETF emas memiliki profil risiko yang lebih kompleks. Selain terpapar fluktuasi harga emas, investor juga menghadapi risiko pasar modal seperti volatilitas harga intraday, likuiditas pasar, serta potensi outflow besar dari investor institusi yang dapat memengaruhi harga. ETF juga sensitif terhadap faktor makro seperti suku bunga dan pergerakan dolar AS.

____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bus Umrah WNI Terbakar di Dekat Madinah, Tak Ada Korban Jiwa
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Terpukau Atmosfer GBK, John Herdman: Momen Ini Tak Pernah Terjadi Sepanjang Karier Saya
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Pemerintah Pastikan Kebijakan WFH Ditetapkan Maret 2026, Berlaku Usai Lebaran untuk Tekan Konsumsi BBM
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Boni Hargens Bersama Anak Yatim Piatu Berdoa bagi Perdamaian Dunia
• 34 menit lalurctiplus.com
thumb
Kota Lama Semarang Dikunjungi 222 Ribu Wisatawan selama Libur Lebaran
• 13 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.