BEKASI, KOMPAS.com – Sejumlah orangtua di Bekasi mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas digital anak, terutama setelah maraknya interaksi tidak terkontrol di platform permainan daring.
Salah satunya, Rino Setiawan (32), yang mengaku khawatir karena sejumlah gim yang awalnya menjadi ruang kreativitas anak kini juga diakses oleh orang dewasa.
“Dulunya game Roblox hanya diisi anak kecil. Tapi sekarang banyak orang dewasa masuk juga ke situ. Setelah itu saya langsung minta anak untuk stop main dengan memberikan alasan yang logis,” ujar Rino saat ditemui Kompas.com di kawasan Stadion Patriot Chandrabaga, Sabtu (28/3/2026).
Rino mengatakan, anaknya kini telah berhenti memainkan Roblox (Roblox) dan memilih menghapus aplikasinya.
Sebagai gantinya, ia mengarahkan anak untuk memainkan gim yang dinilai lebih edukatif.
“Saya lebih memperkenalkan anak dengan gim Minecraft (Minecraft) yang bisa menstimulasi kreativitas anak, dan buat imajinasinya jalan. Jadi bukan sekadar main gim yang lompat-lompat kayak di Roblox saja,” ujarnya.
Baca juga: Aturan Medsos untuk Anak Mulai Berlaku, Orangtua Juga Minta Perketat Filter Konten
Dukung PP Tunas, Bantu Pengawasan OrangtuaTerkait pemberlakuan PP Tunas (Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak), Rino mengaku mendukung kebijakan tersebut.
“Pada dasarnya setuju untuk membantu meminimalisir pengawasan dari kita juga,” kata dia.
Menurutnya, aturan tersebut dapat menjadi alat bantu bagi orangtua dalam mengontrol aktivitas digital anak yang semakin kompleks.
Sebagai bentuk pengawasan, Rino membatasi penggunaan gadget anaknya sekitar lima jam per hari dengan bantuan aplikasi pengontrol.
“Saya pakai aplikasi pembatas. Jadi secara total keseluruhan dia main handphone itu sudah terpantau. Dan itu enggak pernah habis karena dia keburu bosan dan memilih main sama teman-temannya,” ujarnya.
Baca juga: Aturan Pembatasan Medsos Anak Dinilai Efektif, Tapi Lingkungan Jadi Tantangan
Media Sosial Ibarat Dua Mata PisauRino menilai penggunaan media sosial bagi anak memiliki sisi positif dan negatif yang harus disikapi secara bijak.
“Tentunya harus dengan pengawasan juga. Karena sebenarnya sosmed ini kayak dua mata pisau. Jika dibatasi salah, dibebaskan juga enggak boleh,” kata dia.
Menurutnya, pembatasan yang terlalu ketat dapat menghambat perkembangan anak, sementara kebebasan tanpa kontrol berisiko menimbulkan dampak negatif.
Ia mengaku sempat mengalami kesulitan saat pertama kali membatasi penggunaan gadget pada anaknya. Namun, dengan pendekatan emosional, kondisi tersebut berangsur membaik.





