Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Pasuruan
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melakukan serangkaian kegiatan di Provinsi Jawa Timur untuk meninjau langsung penanganan bencana banjir serta mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi ke depan.
Setibanya di Kota Surabaya pada pagi hari, Suharyanto yang didampingi Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB dan Direktur Penanganan Darurat Wilayah I BNPB langsung menuju Kabupaten Pasuruan yang terdampak banjir sejak Selasa, 24 Maret 2026.
Dalam kunjungannya, Suharyanto berdiskusi dengan Wakil Bupati Pasuruan dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) guna membahas perkembangan serta kendala dalam penanganan bencana.
“BNPB akan melakukan langkah-langkah penanganan darurat sesuai kewenangan, serta berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait lainnya,” ujar Suharyanto dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Sabtu, 28 Maret 2026.
Ia menjelaskan, salah satu penyebab banjir di wilayah tersebut adalah tingginya intensitas hujan yang diperparah oleh pendangkalan sungai.
“Wilayah ini relatif lebih rendah dari permukaan sungai. Selain itu, badan sungai sudah menyempit dan dangkal sehingga setiap musim hujan kerap terjadi banjir,” ucap Suharyanto.
Menurut Suharyanto, pemerintah daerah bersama Kementerian Pekerjaan Umum telah melakukan normalisasi sungai. Namun, ke depan diperlukan penanganan terpadu lintas sektor.
Ia merinci, langkah jangka pendek difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Sementara itu, jangka menengah dilakukan melalui normalisasi sungai secara berkelanjutan agar dampak banjir tidak semakin meningkat setiap tahun.
“Untuk jangka panjang, permasalahan ini akan dibawa ke tingkat pusat guna menentukan langkah penanganan lanjutan,” kata Suharyanto.
Usai rapat, Suharyanto meninjau shelter yang difungsikan sebagai dapur umum. Di lokasi tersebut, sebanyak 1.500 paket makanan diproduksi setiap hari bagi para penyintas. Ia juga memastikan ketersediaan logistik dalam kondisi aman.
“Kesiapan shelter seperti ini patut diapresiasi karena sangat membantu saat terjadi bencana,” tutur Suharyanto.
Selanjutnya, Suharyanto meninjau langsung wilayah terdampak banjir di Dusun Balongrejo, Desa Kedungringin, Kecamatan Beji. Akses menuju lokasi tersebut masih terputus akibat genangan air.
Di kawasan tersebut, sejumlah rumah warga dan lahan pertanian masih terendam banjir dengan ketinggian air antara 10 hingga 40 sentimeter.
Suharyanto juga berdialog dengan para penyintas untuk mendengarkan kebutuhan serta memberikan dukungan moril.
“Kehadiran kami di sini merupakan bagian dari upaya memastikan penanganan berjalan cepat dan tepat,” ujar Suharyanto.
Ia menambahkan kehadiran BNPB merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar penanganan bencana dilakukan secara maksimal di seluruh wilayah Indonesia.
Pada akhir kunjungan, Suharyanto menyerahkan bantuan permakanan secara langsung kepada para penyintas, termasuk anak-anak.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Bencana Musim Kemarau di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat, 27 Maret 2026 sore waktu setempat.
Rapat tersebut dihadiri Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan sejumlah lembaga terkait.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, meski beberapa wilayah masih dilanda banjir, pemerintah daerah harus mulai mengantisipasi potensi kekeringan pada 2026.
“Berdasarkan informasi BMKG, pada April mulai terjadi kekeringan dan diperkirakan mencapai puncak pada Agustus,” ucap Suharyanto.
Sementara itu, Suharyanto menekankan pentingnya mitigasi dalam menghadapi potensi bencana, khususnya hidrometeorologi kering, kebakaran hutan dan lahan, serta kemarau panjang.
“Penanganan kekeringan tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja. Diperlukan kolaborasi dari tingkat desa hingga pemerintah pusat,” kata Suharyanto.
BNPB bersama pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, antara lain apel kesiapsiagaan personel dan peralatan, bantuan penyediaan air bersih, serta operasi modifikasi cuaca (OMC).
Selain itu, BNPB juga menyiapkan dukungan pemadaman melalui helikopter water bombing apabila terjadi peningkatan eskalasi kebakaran.
Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meminimalkan dampak bencana serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang akan datang.
Editor: Redaktur TVRINews





