Imbas Perang AS-Iran, Garudafood (GOOD) Kurangi Eksposur Bahan Baku Impor

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Perang yang berkecamuk antara AS—Iran mendorong kekhawatiran pengusaha Tanah Air. Emiten kini bersiap menghadapi potensi lonjakan harga bahan baku lantaran kian memanasnya harga energi.

Direktur PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (GOOD) Johannes Setiadharma, menerangkan kini pihaknya tengah berupaya mengantisipasi lonjakan harga bahan baku akibat memanasnya harga minyak. Pasalnya, biaya shipping freight diprediksi akan melonjak, dengan ketersediaan kapal kontainer akan lebih terbatas.

Dengan begitu, pencarian atas pemasok bahan baku dalam negeri baru menjadi salah satu solusinya. Hanya saja, Johannes menerangkan bahwa jika pemasok dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan GOOD, maka pihaknya akan mencari sumber pasokan di negara-negara Asia.

”[Kami] berupaya menurunkan ketergantungan terhadap bahan baku impor melalui kemitraan dengan petani Indonesia untuk menjamin pasokan bahan baku komoditas pertanian,” katanya kepada Bisnis, Sabtu (28/3/2026).

Sementara untuk bahan kemas, Garudafood juga berupaya bekerja sama dengan supplier lokal untuk membuat alternatif komposisi bahan penyusun plastik kemasan, sehingga lebih fleksibel dalam penggunaan beberapa varian resin.

Selain itu, berbagai upaya penghematan juga bakal dilakukan GOOD. Salah satunya, berupaya menghemat biaya energi dengan meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan seperti biomassa untuk bahan bakar dan solar panel untuk mengurangi beban penggunaan listrik.

Baca Juga

  • Garudafood (GOOD) Kantongi Laba Bersih Rp688,65 Miliar pada 2025
  • Pemkab Sumedang Gandeng Garudafood (GOOD) Bangun Sentra Produksi Kacang Tanah
  • Garudafood (GOOD) Bakal Bangun Pabrik Baru di Sumedang

Terhadap distribusi, GOOD berencana secara bertahap mengganti truk berbahan bakar solar dengan truk berdaya listrik. Hal itu dilakukan untuk mendukung operasional distribusi yang lebih efisien ke depan.

”Tentu juga diperlukan penyusunan ’scenario planning’ untuk mengantisipasi tiap risiko yang berpotensi muncul sebagai dampak dari perang dan segera membuat alternatif solusi yang optimal dalam tiap kemungkinan risiko yang bisa terjadi, yang kami mapping sehingga lebih siap apabila benar terjadi [kenaikan harga energi],” katanya.

Diberitakan sebelumnya, harga minyak dunia tercatat melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunda tenggat untuk menyerang sektor energi Iran, memberi jeda sementara bagi pasar meski ketidakpastian perang diperkirakan berlanjut hingga April. Pelemahan itu terjadi setelah harga minyak mengalami rally belakangan akibat konflik tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (27/3/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Mei turun 1,4% menjadi US$106,55 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei juga merosot 1,4% menjadi US$93,20 per barel. 

Pergerakan harga minyak dipengaruhi oleh pernyataan Trump yang menyebut meskipun Teheran meminta waktu tujuh hari, pemerintah AS memberikan tenggat 10 hari. Dengan revisi tersebut, batas waktu baru diperpanjang hingga 6 April.  Perpanjangan tenggat ini memberi ruang lebih besar untuk negosiasi sekaligus memungkinkan AS menambah kekuatan militernya di kawasan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Sabtu 28 Maret 2026, Anjlok Rp41.000!
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
7 Kolonel TNI AL Pecah Bintang, Ada Dankopaska Koarmada RI
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Dukungan ‘Aisyiyah terhadap PP Tunas Perkuat Upaya Negara Lindungi Anak di Ruang Digital
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Israel Kembali Serang Situs Nuklir Iran, Teheran Ancam Balasan Keras yang Lebih Besar
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Korlantas Polri Buka Peluang Berlakukan One Way Nasional Arus Balik
• 16 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.