Tangis di Balik Pensiun Carolina Marín: Cedera Lutut Akhiri Karier Sang Ratu Eropa

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

VIVA – Keputusan besar akhirnya diambil Carolina Marín. Ratu bulu tangkis Eropa itu resmi gantung raket pada Kamis 26 Maret 2026, menutup perjalanan panjang salah satu tunggal putri terbaik yang pernah dimiliki dunia bulu tangkis.

Pensiunnya Marín sebenarnya terasa pahit. Ia semula merencanakan Kejuaraan Eropa 2026 di Huelva, Spanyol, sebagai panggung perpisahan. Kota itu bukan sekadar tempat pertandingan, melainkan kampung halamannya sendiri. Namun, rencana tersebut batal karena kondisi lututnya yang tidak memungkinkan untuk kembali bertanding.

Baca Juga :
MK Perintahkan UU soal Pensiun Eks Pejabat Diubah, Ini Pertimbangan Hukumnya
Marc Marquez Bicara Pensiun dari MotoGP, Asal Satu Syarat Ini Terpenuhi

"Hari ini saya ingin menyampaikan sebuah pesan secara langsung kepada kalian. Perjalanan saya di dunia bulu tangkis profesional telah berakhir, sehingga saya tidak akan tampil pada Kejuaraan Eropa di Huelva," ujar Marín melalui media sosialnya dikutip Sabtu, 28 Maret 2026.

Pemain berusia 32 tahun itu mengakui sebenarnya ingin kembali ke lapangan untuk terakhir kalinya. Namun, ia tidak ingin mengambil risiko lebih besar terhadap kondisi tubuhnya yang sudah berkali-kali mengalami cedera serius.

"Saya sebenarnya ingin kembali ke lapangan untuk terakhir kalinya, tetapi tidak ingin mempertaruhkan kondisi kesehatan demi hal tersebut. Saya telah menyampaikan hal ini berkali-kali dan tetap pada keputusan tersebut. Saya berharap karier saya berakhir dengan cara yang berbeda, tetapi dalam kehidupan, tidak semua berjalan sesuai keinginan dan kita harus menerimanya," sambungnya.

Dalam pernyataan yang disampaikannya, Carolina Marín mengungkapkan bahwa sebenarnya kariernya sudah berakhir di Olimpiade Paris 2024. Saat itu, ia mengalami cedera ACL untuk kedua kalinya di lutut kanan saat semifinal dan sejak momen tersebut ia tidak pernah kembali bertanding. Marín pun mengakui bahwa dalam hatinya, ia merasa pertandingan di Paris menjadi laga terakhirnya, meski saat itu ia dan tim belum benar-benar menyadarinya.

Sepanjang kariernya, Marín menorehkan sejarah besar di dunia bulu tangkis. Ia menjadi satu-satunya tunggal putri non Asia yang berhasil meraih medali emas Olimpiade, yakni di Rio 2016. Tidak hanya itu, ia juga meraih tiga gelar juara dunia dan mendominasi Kejuaraan Eropa selama bertahun-tahun. Sosoknya dikenal sebagai pemain yang ikut mengubah peta persaingan bulu tangkis dunia yang selama ini didominasi negara-negara Asia.

Baca Juga :
Menuju Piala Thomas 2026, Alwi Farhan Soroti Kekuatan Tim Beregu Putra Indonesia
Daftar Lengkap Negara yang Lolos Piala Thomas dan Uber 2026, Indonesia Masuk?
Gaji Habis Buat Biaya Hidup, Milenial Makin Sulit Punya Dana Pensiun

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Serangan Udara Hantam Teheran, Petugas Evakuasi Korban dari Reruntuhan
• 7 jam laludetik.com
thumb
Cuma Tes 2 Bulan, Game PUBG Baru Ini Gak Jadi Rilis
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Sinopsis Drama China Rolling World, Perjuangan Empat Dokter Muda Hadapi Dunia Kedokteran yang Penuh Tekanan
• 17 jam lalugrid.id
thumb
Arus Balik di Pantura Cirebon, Arah Jakarta Ramai Pemudik Motor
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
John Herdman Terkesan dengan Tradisi Timnas Indonesia: Nyanyikan Lagu Kebangsaan dengan Lantang, Keliling Lapangan untuk Hargai Suporter
• 10 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.