EtIndonesia. Sejumlah media melaporkan bahwa pada Jumat (27 Maret) pagi terjadi insiden yang tidak biasa: dua kapal kontainer besar milik perusahaan negara Tiongkok COSCO Shipping berbalik arah saat mencoba melintasi Selat Hormuz untuk keluar dari Teluk Persia. Peristiwa ini memicu perhatian luas, dan para analis menilai hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara Tiongkok dan Iran tidak sekuat yang dibayangkan.
Mengutip data dari situs pelacakan kapal, dua kapal berbendera Hong Kong—“Zhonghai Indian Ocean” dan “Zhonghai Arctic Ocean”—mencoba melewati Selat Hormuz pada 27 Maret dini hari untuk kembali ke Tiongkok. Namun saat mendekati pintu masuk selat di sekitar Pulau Larak, kapal-kapal tersebut tiba-tiba berbalik arah.
Data sistem identifikasi otomatis kapal menunjukkan bahwa pemilik dan awak kedua kapal tersebut adalah warga Tiongkok.
Padahal dua hari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui media sosial menyatakan bahwa kapal dari negara-negara “bersahabat” seperti Tiongkok, Rusia, dan India diizinkan melintasi Selat Hormuz. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan dengan jaminan keamanan secara lisan, tetap tidak ada kepastian perlindungan.
Pengamat politik Li Linyi mengatakan bahwa dari situasi saat ini terlihat bahwa kepentingan antara Tiongkok dan Iran belum tentu sejalan. Ini menunjukkan hubungan keduanya tidak seerat yang terlihat. Kepentingan Tiongkok tidak sepenuhnya dijamin oleh Iran.
Media The Epoch Times mengutip sumber yang menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri PKT Wang Yi telah beberapa kali meminta Iran untuk menjamin keselamatan jalur pelayaran kapal dagang Tiongkok. Namun Iran hanya menyatakan dapat menjamin “sebagian” keamanan, khususnya untuk barang yang dikirim ke Iran, sehingga mendorong Beijing untuk memilih antara memberikan bantuan militer atau menjaga keamanan perdagangan.
Mengenai apakah Beijing akan menyesuaikan kebijakan, sejumlah pengamat menilai kemungkinannya kecil.
Li Linyi menyatakan bahwa kemungkinan PKT secara terbuka meningkatkan bantuan militer kepada Iran sangat rendah. PKT mungkin hanya memberikan bantuan ekonomi terbatas atau bantuan militer secara tidak langsung, tetapi perubahan besar dalam kebijakan luar negeri—seperti dukungan militer langsung—hampir tidak mungkin terjadi kecuali dalam situasi ekstrem.
Sementara itu, mantan pengacara Beijing sekaligus ketua organisasi demokrasi di Kanada, Lai Jianping, mengatakan bahwa kepentingan hubungan Tiongkok–Amerika Serikat jauh lebih besar dibandingkan hubungan PKT dengan Iran.
Sebelumnya, Beijing berencana memanfaatkan hubungan khususnya dengan Iran untuk berperan sebagai mediator utama dalam konflik AS–Iran, serta berupaya memperoleh pengaruh di “Global South”. Namun rencana tersebut dengan cepat menghadapi hambatan.
Seiring perkembangan situasi, strategi Tiongkok di Timur Tengah terus mengalami kemunduran. Pengamat memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, PKT kemungkinan hanya akan mengambil sikap menunda, dan ke depan hubungan Tiongkok–Iran berpotensi semakin memburuk. (Hui)
Dilaporkan oleh jurnalis NTD, Chen Yue dan Chang Chun.





