Mengenang Juwono Sudarsono, Menhan yang Terbuka dan Inspiratif

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Mantan Menteri Pertahanan atau Menhan Juwono Sudarsono menurut rencana dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, hari ini (28/3/2026). Semasa hidupnya, pria kelahiran Ciamis, Jawa Barat pada 5 Maret 1942 ini, dikenang sebagai figur yang terbuka dan inspiratif. Saat menjabat sebagai Menhan, sikapnya konsisten dengan semangat Reformasi 1998 untuk menempatkan Kemhan sebagai otoritas sipil di bidang pertahanan negara.

Setelah mendengar kabar kepergian Juwono, Sabtu (28/3/2026), memori Kusnanto Anggoro bergegas kembali ke tahun 1985 saat masih kuliah di Universitas Indonesia.

“Beliau itu pembimbing skripsi saya di UI (Universitas Indonesia) tahun 1985. Jadi, saya merasa kehilangan betul,” tutur pakar pertahanan tersebut, saat dihubungi, Sabtu.

Juwono, menurutnya, tidak sebatas berperan sebagai dosen pembimbing. Lebih dari itu, ia intens memotivasinya agar terus memperdalam ilmu dan menambah wawasan.

“Beliau juga tidak hanya menjadi sosok seorang guru, tetapi juga menganggap kami, murid-muridnya, sebagai rekan dan sahabat,” tambahnya.

Setelah menjabat sebagai menteri, lanjut Kusnanto, Juwono tidak berubah. Juwono masih sama seperti yang dikenalnya semasa kuliah, yakni Juwono tak segan meminta saran, mengajak untuk berdiskusi, dan saling memberikan masukan yang membangun bangsa.

“Secara pribadi, yang saya catat itu, beliau tidak memperlakukan orang dengan otoritas berlebih. Dia mendidik dengan cara persuasif, berhasil memberikan motivasi. Nah, ketika menjadi menteri, tentu saja beliau juga menerima masukan-masukan yang sangat terbuka,” lanjutnya.

Juwono Sudarsono pertama kali ditunjuk menjabat menteri di era pemerintahan Presiden kedua RI Soeharto. Di penghujung pemerintahannya, persisnya pada 1998, ia ditunjuk Soeharto menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Setelah berganti ke pemerintahan Presiden ketiga RI, BJ Habibie, ia kembali dipercaya untuk menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Selanjutnya, selama periode 1999-2000, Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memercayainya menjabat Menteri Pertahanan (Menhan). Ia pun tercatat sebagai Menhan pertama dari kalangan sipil sejak era Orde baru. Sebelumnya, jabatan tersebut diisi oleh figur yang berlatar belakang militer.

Seusai Gus Dur lengser dan menjabat Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri, Juwono kembali dipercaya sebagai pembantunya. Kali ini, Juwono dipercaya sebagai Duta Besar RI untuk Inggris sejak 2003. Selanjutnya, di era Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, Juwono kembali masuk ke pemerintahan dan dipercaya kembali menjabat Menhan sejak 2004 hingga 2009.

Keterbukaan Juwono, lanjut Kusnanto, kian terlihat saat menjabat Menhan. Diskusi dengan berbagai pihak intens dilakukannya karena sangat penting dalam konteks mereorientasikan Kemhan, apalagi setelah TNI dan Polri dipisahkan setelah Reformasi 1998.

“Lebih dari itu, saya kira beliau adalah seorang yang sangat nasionalis. Pemikirannya sangat original, bahwa Indonesia harus mampu merumuskan kebijakan sesuai keindonesiaan. Entah itu dari segi posisi geografis, maupun segi kulturalnya,” kata Kusnanto.

Reformasi pertahanan

Sementara itu, konsultan di Marapi Consulting & Advisory Beni Sukadis memandang Juwono sangat kompeten dan konsisten dalam menempatkan Kemhan sebagai otoritas sipil di bidang pertahanan negara. Hal itu bisa dilihat dari berbagai kebijakan dan agenda reformasi pertahanan.

Salah satunya, untuk meningkatkan profesionalisme militer, TNI diminta lebih fokus di bidang pertahanan sesuai dengan Undang-Undang No 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan UU No 34/2004 tentang TNI.

Beni yang dulu sempat bergabung dalam Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi) juga mengingat Juwono menerima rekomendasi dari lembaga tersebut terkait pengalihan bisnis militer pada 2005.

“Salah satu concern beliau adalah berupaya mengurangi peran bisnis militer agar TNI lebih fokus pada tugas pokoknya. Memang hasil rekomendasi kebijakan tersebut tidak seluruhnya ditindaklanjuti, karena nampak fokus beliau adalah meningkatkan kompetensi dan kapasitas SDM militer,” ujarnya.

Dengan kiprahnya tersebut, kata Beni, Juwono adalah sosok yang menjadi teladan dan dihormati, baik dari kalangan sipil maupun militer dalam konteks penguatan masyarakat sipil dan akademik dalam isu strategis dan pertahanan.

Menhan Sjafrie Sjamsoeddin turut menyampaikan duka cita atas berpulangnya Juwono Sudarsono melalui akun Instagram-nya.

”Kepergian beliau merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi keluarga besar pertahanan dan para insan akademisi yang pernah belajar dan terinspirasi keteladanan beliau,” tulis Sjafrie dalam unggahannya.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rico Ricardo Sirait menyampaikan, Juwono tutup usia di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, pukul 13.45 WIB, Sabtu (28/3/2026). Menurut rencana, jenazah Juwono akan disemayamkan di Gedung Urip Sumoharjo Kemhan, Jakarta, hari ini (29/3/2026). Selanjutnya, jenazah bakal dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.

Juwono Sudarsono memang telah berpulang, tetapi pemikiran dan keteladanannya akan terus hidup dan menginspirasi generasi penerus.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Munafri Ajak Mahasiswa IMM Kembangkan Urban Farming
• 59 menit lalucelebesmedia.id
thumb
Cerita Pemudik Motor Pulang ke Banten, Pilih Bermalam di Pinggir Jalan agar Sang Anak Tak Kelelahan
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Kampus Rusak Dibom AS-Israel, Iran Ancam Serang Universitas AS di Timteng
• 4 jam laludetik.com
thumb
Prabowo Bertolak ke Jepang, Bakal Bertemu Kaisar Naruhito
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Kanada vs Islandia, Dua Gol Penalti Jonathan David Selamatkan Les Rouges dari Kekalahan
• 14 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.