Serangan AS-Israel Hancurkan 600 Sekolah hingga Tewaskan 1.000 Siswa dan Guru di Iran

viva.co.id
12 jam lalu
Cover Berita

VIVA – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan bahwa lebih dari 600 sekolah di seluruh Iran telah hancur atau rusak sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan aksi militer terhadap negara tersebut pada 28 Februari, dengan lebih dari 1.000 siswa dan guru tewas atau terluka.

Berbicara melalui sambungan video dalam sebuah diskusi darurat Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Araghchi mengatakan sebuah sebuah sekolah dasar di Kota Minab, Iran selatan, terkena serangan yang disebutnya sebagai serangan "terencana", menewaskan lebih dari 175 siswa dan guru.

Baca Juga :
Ini Daftar Negara yang Diberi Izin Lewati Selat Hormuz, Indonesia Dapat Lampu Hijau
Iran Peringatkan Negara Teluk: Jangan Izinkan Musuh Lancarkan Serangan dari Wilayah Anda!

Araghchi mengatakan bahwa Iran sedang "berada di tengah guncangan perang ilegal" oleh AS dan Israel, menyebutnya sebagai perang agresi yang "secara terang-terangan tidak dapat dibenarkan dan brutal."

Merujuk pada serangan terhadap sekolah di Minab, dia mengatakan bahwa mengingat "teknologi paling canggih serta sistem militer dan data berpresisi tertinggi" yang dimiliki penyerang, "tidak ada yang dapat percaya bahwa serangan terhadap sekolah ini bukanlah tindakan yang disengaja dan direncanakan."

Menlu Iran menegaskan penargetan terhadap sekolah tersebut merupakan "kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan", serta mengatakan insiden itu "bukan sekadar insiden biasa atau miskalkulasi", melainkan tindakan yang "perlu dikecam dengan tegas" dan harus dipertanggungjawabkan.

Dia juga mengecam serangan berkelanjutan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap target-target sipil, termasuk rumah sakit, ambulans, tenaga kesehatan, tenaga penyelamat Bulan Sabit Merah, kilang minyak, sumber air, dan area permukiman, dengan mengatakan bahwa tindakan seperti itu mencerminkan pola serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil "tanpa menghiraukan hukum perang dan prinsip dasar kemanusiaan".

"Pola penargetan penyerang, yang disertai dengan retorika mereka, hampir tidak menyisakan keraguan mengenai niat jelas mereka untuk melakukan genosida," kata dia dikutip Minggu, 29 Maret 2026.

Araghchi mengatakan Iran tidak pernah menginginkan perang, tetapi akan dengan tegas membela diri, seraya menambahkan bahwa rakyat Iran memiliki tekad dan keteguhan untuk melawan apa yang digambarkannya sebagai agresi. Dia juga menyerukan agar pihak-pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban. (Ant)

Baca Juga :
Anaknya Dibully, Istri Netanyahu Serukan Stop Perundungan
AS Bakal Rundingkan Kesepakatan Damai dengan Iran Pekan Ini
Trump Berencana Tambah 10.000 Pasukan Darat untuk Perang Lawan Iran

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jelang Indonesia vs Bulgaria di Final FIFA Series: Zijlstra Out dan Raven In
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Menata Ulang Birokrasi: dari Administrasi Menuju Dampak Nyata
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Besok, Komisi III DPR Gelar Rapat Kasus Korupsi Videografer Amsal Sitepu
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Kanada vs Islandia, Dua Gol Penalti Jonathan David Selamatkan Les Rouges dari Kekalahan
• 17 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Tak Terduga! Ada Kebiasaan Warga RI yang Bikin Perut Buncit
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.