Washinfton: Kementerian Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon dilaporkan tengah menyiapkan skenario operasi darat di Iran yang dapat berlangsung selama beberapa pekan, di tengah pengerahan ribuan personel AS ke kawasan Timur Tengah.
Laporan Washington Post pada Sabtu, 28 Maret 2026, menyebut rencana tersebut masih menunggu keputusan Presiden Donald Trump dan berpotensi menjadi “fase baru perang” yang dinilai lebih berbahaya bagi pasukan AS dibanding empat pekan awal konflik.
Sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan operasi darat tersebut tidak akan berupa invasi penuh, melainkan mencakup serangan terbatas oleh pasukan khusus dan infanteri konvensional.
Mereka memperingatkan bahwa pasukan AS akan menghadapi risiko tinggi, termasuk serangan drone dan rudal, tembakan darat, serta bahan peledak rakitan.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa Pentagon memang menyiapkan berbagai opsi militer bagi presiden, namun belum ada keputusan yang diambil.
“Ini adalah tugas Pentagon untuk menyiapkan opsi bagi panglima tertinggi. Itu tidak berarti presiden telah membuat keputusan,” ujarnya, dikutip dari Anadolu Agency, Minggu, 29 Maret 2026.
Diskusi internal disebut mencakup kemungkinan operasi yang menargetkan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, serta serangan di wilayah pesisir dekat Selat Hormuz untuk mengamankan jalur pelayaran.
Sejumlah pejabat memperkirakan operasi tersebut dapat berlangsung “dalam hitungan pekan, bukan bulan," meski ada pula yang menilai bisa mencapai beberapa bulan.
Sebelumnya, Trump menyatakan tidak berencana mengerahkan pasukan darat, sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan konflik tidak akan berkepanjangan dan tujuan dapat dicapai tanpa operasi darat.
Sejak konflik dimulai pada akhir Februari, sebanyak 13 personel militer AS dilaporkan tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka dalam berbagai serangan di kawasan.
Survei opini publik menunjukkan 62 persen warga AS menolak pengerahan pasukan darat ke Iran, sementara 12 persen mendukung langkah tersebut.
Analis militer Michael Eisenstadt memperingatkan tingginya risiko operasi darat, terutama dengan kemampuan Iran dalam meluncurkan serangan drone secara intensif.
Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang telah menewaskan lebih dari 1.300 orang.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan berupa drone dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS, yang turut berdampak pada stabilitas kawasan dan pasar global.
Baca juga: AS Targetkan Perang Iran Selesai dalam Hitungan Pekan Tanpa Pasukan Darat




