Maharishi Effect: Bisakah Dunia Damai dengan Meditasi?

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan dipenuhi arus informasi tanpa henti, sebagian orang justru mencari cara untuk berhenti sejenak dengan praktik meditasi. Pada peringatan Hari Meditasi 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan, terdapat 200 juta-500 juta orang yang mempraktikkan meditasi di seluruh dunia. Meditasi merupakan kegiatan untuk memusatkan pikiran atau fokus konsentrasi yang bertujuan untuk menenangkan pikiran atau membuat rileks pikiran.

Lembaga riset pasar global Coherent Market Insights mencatat tingkat popularitas meditasi yang banyak dipakai para penggunanya di 35 negara di Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika. Hasil riset yang dipublikasikan pada 10 Maret 2026 ini menemukan, lima jenis meditasi yang banyak digunakan ialah meditasi kesadaran penuh/mindfulness (26,2 persen), meditasi menggunakan panduan (17,4 persen), meditasi spiritual seperti refleksi batin atau doa (14,6 persen), meditasi transendental (12,5 persen), dan meditasi gerak atau yoga (11,8 persen).

Sementara dari jenis media yang digunakan, tingkat popularitas meditasi dominan dilakukan melalui aplikasi meditasi (35,2 persen), diikuti meditasi dengan bantuan teknologi (22 persen), dan layanan meditasi privat atau secara langsung (18 persen). Perkembangan teknologi digital membuat meditasi kian banyak dikenal melalui aplikasi seperti Miracle of Mind, Headspace XR, Calm, dan Byte Dance. Fitur meditasi juga telah merambah sejumlah media sosial populer, seperti Tiktok. Aplikasi Miracle of Mind yang diluncurkan pada Februari 2025 menyita perhatian dunia karena segera diunduh oleh 1,9 juta pengguna hanya dalam dua bulan setelah dirilis.

Popularitas meditasi ini tidak dapat dilepaskan dari manfaat yang diperoleh penggunanya. Praktik meditasi ini terbukti tidak hanya menenangkan pikiran, tetapi juga berkaitan dengan pemulihan kesehatan, pengurangan adiksi, bahkan penurunan tingkat kejahatan di beberapa tempat.

Cara bermeditasi atau teknik  yang digunakan beragam dan dapat dibedakan berdasarkan tujuan, cara meditasi, serta frekuensi listrik otak atau elektroensefalografi  (EEG). Peneliti dari Pusat Otak dan Kognisi dari Maharishi International University, Amerika Serikat, Frederick Travis, bersama Jonathan Shear menyebutkan setidaknya ada tiga teknik yang cukup dikenal dalam meditasi, yakni focused attention, open monitoring, dan automatic self-transcending.

Pertama, teknik focused attention (FA) dipraktikkan dengan memusatkan perhatian pada suatu pikiran atau proses tubuh tertentu, misalnya keluar masuknya udara dalam proses pernapasan. FA memiliki banyak variasi, seperti meditasi welas asih (compassion meditation), Qigong, dan beberapa bentuk Zen. FA dikaitkan dengan frekuensi EEG yang lebih tinggi, yaitu beta dan gamma (13-50 Hz) yang biasanya muncul ketika seseorang sedang aktif memproses informasi dan belajar.

Selanjutnya, ada teknik open monitoring (OM) atau sering disebut sebagai mindfulness yang dilakukan dengan mengarahkan kesadaran tanpa menghakimi dan tidak mengevaluasi pengalaman yang sedang berlangsung. Tujuan OM adalah melatih pikiran agar lebih sadar terhadap momen saat ini dan tidak bereaksi secara irasional dan emosional terhadap ingatan traumatis.

Frekuensi EEG terkait dengan OM yang jauh lebih lambat, yang disebut theta (4-7 Hz), muncul, misalnya, ketika pikiran sedang memecahkan masalah matematika. Contoh meditasi dengan teknik OM ini adalah meditasi Vipassana, insight meditation, dan beragam jenis meditasi mindfulness.

Terakhir, teknik automatic self-transcending (AST) terjadi ketika seorang yang bermeditasi dengan tenang dapat memikirkan atau mendengarkan suara atau gambaran halus dan tanpa usaha keras, sama seperti seseorang tersebut memikirkan hal lain. Tujuan dari teknik AST adalah untuk melampaui (transcend) proses kognitif aktif guna mengalami kesadaran transendental, yaitu keadaan pikiran yang hening.

Meditasi transendental merupakan contoh AST yang paling dikenal. Teknik-teknik ini berasal dari tradisi Veda dan China. Teknik AST dikaitkan dengan aktivitas EEG alpha1 dominan frontal (8-10 Hz).

 

Maharishi Effect

Bentuk meditasi transendental (TM) pernah menjadi fenomena karena dapat meningkatkan kesadaran kolektif. Hal inilah yang dapat memengaruhi kehidupan setiap individu dan selanjutnya mengarahkan tren kehidupan dalam suatu populasi, dalam hal ini suatu bangsa.

Perubahan tren kehidupan tersebut mengarah pada penurunan kasus pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan berat, perampokan, kematian bayi, kematian terkait narkoba, kematian akibat kecelakaan kendaraan bermotor, hingga kematian akibat cedera pada remaja.

Pada 1960, seorang guru pendiri meditasi transendental, yakni Maharishi Mahesh Yogi, memprediksi bahwa 1 persen populasi yang mempraktikkan meditasi transendental akan menghasilkan peningkatan kualitas hidup untuk seluruh populasi. Fenomena ini pertama kali diamati pada tahun 1974 dan dilaporkan melalui sebuah makalah yang diterbitkan pada tahun 1976.

Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa ketika 1 persen dari suatu komunitas mempraktikkan program meditasi transendental, tingkat kejahatan menurun rata-rata 16 persen. Pada saat itu, fenomena ini dinamakan sebagai Maharishi Effect. Secara umum Maharishi Effect dapat didefinisikan sebagai pengaruh koherensi dan hal positif dalam lingkungan sosial dan alam yang dihasilkan oleh praktik program meditasi transendental dan TM-Sidhi.

Berdasarkan analogi dengan sistem fisika, para peneliti memperkirakan bahwa koherensi yang dihasilkan oleh praktik kelompok program TM-Sidhi sebanding dengan kuadrat jumlah pesertanya. Dengan mempertimbangkan temuan 1 persen, diprediksi bahwa sebuah kelompok dengan ukuran sama dengan akar kuadrat dari 1 persen suatu populasi akan memiliki pengaruh yang terukur terhadap kualitas hidup populasi tersebut.

Sebagai contoh, sebuah kelompok berjumlah 200 orang yang mempraktikkan program TM-Sidhi bersama-sama di sebuah kota berpenduduk 4 juta jiwa akan cukup menghasilkan pengaruh terukur terhadap seluruh kota. Lalu, sebuah kelompok berjumlah 1.600 orang di AS akan memengaruhi 256 juta orang yang setara dengan jumlah populasi AS. Lebih jauh lagi, sebuah kelompok berjumlah 7.000 orang akan memengaruhi 4,9 miliar orang, yaitu populasi dunia pada saat itu.

Studi mengenai meditasi transendental ini dilakukan di sejumlah negara dan hasil penelitiannya telah dipublikasikan. Studi ini dilakukan enam negara, yakni AS, India, Filipina, Inggris, Israel, dan Kanada, dengan hasil utama berupa penurunan signifikan tindak kejahatan, kekerasan, dan indikator stres sosial lainnya.

Studi tentang Maharishi Effect sering diragukan dan dianggap tidak lazim. Namun, studi ini dilakukan secara ketat dan dipublikasikan di jurnal-jurnal Q1, seperti Social Indicators Research, Journal of Conflict Resolution, dan Psychology, Crime and Law. Para peneliti juga melakukan kontrol terhadap faktor lain yang dapat memengaruhi indikator sosial.

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah analisis deret waktu (time-series analysis) karena indikator-indikator sosial mudah dipengaruhi oleh tren tertentu. Melalui analisis deret waktu, maka peneliti dapat mengidentifikasi keteraturan atau pola yang bergantung pada waktu yang sama dan membuat pemodelan matematis yang paling sesuai. Dengan pemodelan ini, pengaruh dari faktor lain dapat lebih terkontrol dan dapat direduksi.

Bukti empiris mengenai Maharishi Effect juga telah diperkuat oleh studi-studi neurofisiologis yang menunjukkan bahwa individu yang melakukan meditasi dengan tingkat kesadaran tertentu selama program meditasi transendental dan TM-Sidhi secara positif memengaruhi kondisi psikofisiologis individu yang tidak melakukan meditasi. Pengaruh psikofisiologis inilah yang menjadi dasar perubahan perilaku kolektif dalam masyarakat yang dihasilkan oleh Maharishi Effect.

 

Meditasi untuk perdamaian dunia

Penelitian mengenai Maharishi Effect memang belum sempurna dan masih memerlukan pengembangan. Misalnya, diperlukan pembuktian ilmiah untuk menegaskan praktik meditasi yang dilakukan sejumlah orang di suatu tempat dapat memengaruhi individu di tempat lain.

Tanpa mengurangi besarnya dampak terhadap konflik atau indikator stres lain, teknik meditasi automatic self-transcending membuat seseorang mampu meningkatkan kesadaran dengan mengakses proses kognitif sehingga berada dalam keadaan hening.

Jika manusia memiliki keinginan untuk meningkatkan kesadarannya dan proses ini dilakukan secara kolektif, hal ini dapat akan memengaruhi sikap dan respons manusia terhadap suatu kejadian. Sikap tenang akan membantu individu mencerna lebih dalam suatu peristiwa dan menemukan solusi dalam bingkai perdamaian.

Baca JugaApa Sebenarnya Manfaat Meditasi bagi Kesehatan Jiwa?

Praktik meditasi di beberapa wilayah Indonesia dikenal dengan istilah tapa brata, semadi, dan laku tirakat. Tapa brata dalam konteks agama Hindu adalah praktik spiritual yang melibatkan pengendalian diri, pengorbanan, dan pembersihan diri untuk mencapai kedamaian batin dan spiritual.

Sementara semedi adalah praktik relaksasi dan memusatkan pikiran yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Senada, laku tirakat dalam tradisi Jawa bertujuan untuk mengendalikan hawa nafsu, menyucikan diri, serta mendekatkan diri kepada Tuhan.

Meski ada perbedaan cara praktik dan penamaan di sejumlah wilayah, praktik meditasi telah diwariskan turun-temurun dan terus lestari karena nilai dan budayanya. Praktik meditasi memengaruhi konsistensi individu dalam memberi respons secara lebih sadar dan tenang.

Praktik meditasi pernah terbukti menyembuhkan diri dan dapat mengurangi kekerasan atau konflik di dunia. Meski demikian, berkurangnya konflik dan terjadinya perdamaian dunia tidak dapat terwujud dengan meditasi saja tanpa melakukan tindakan konkret lain, yakni membangun dialog dan mengupayakan perbaikan bersama untuk lingkungan peradaban. (LITBANG KOMPAS)

Baca JugaMengenali Diri Lewat Meditasi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jembatan Asam Tiga di Kupang Ambles, Akses 5 Kabupaten dan Timor Leste Terputus
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Rano Karno: Ekonomi Jakarta Tetap Solid di Tengah Tantangan
• 17 menit lalutvrinews.com
thumb
Penyakit Ginjal Kronis Anak Muda Minim Gejala, Ini Tanda dan Sebabnya
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Viral Pria Pengidap HIV Sebar Selebaran Jasa Aktivitas Seksual di Pamulang
• 5 jam laludisway.id
thumb
Jadi Target Serangan, Rusia Khawatirkan Situasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Iran
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.