REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi di pesisir Lombok selalu memiliki cara sendiri untuk menyambut kebersamaan. Angin laut bergerak pelan, membawa aroma garam dan suara riuh keluarga yang datang berbondong-bondong.
Di tangan mereka, ketupat dibawa dalam anyaman daun kelapa, sederhana namun sarat makna. Di situlah Lebaran Topat menemukan bentuknya, bukan sekadar perayaan, melainkan ruang perjumpaan yang hidup.
- Kekuatan Tersembunyi Masterplan Ekonomi dan Keuangan Syariah dalam Sistem Hukum Indonesia
- Jenazah Juwono Sudarsono Disemayamkan di Gedung Kemhan Sebelum Dimakamkan di TMP Kalibata
- Duka Penjaga Bandung Zoo, Usup Supriatna: Huru-Hara Seperti Anak Saya
Lebaran Topat di Nusa Tenggara Barat tidak pernah hadir sebagai penutup Idul Fitri yang sunyi. Ia justru membuka babak baru, ketika masyarakat kembali berkumpul dalam suasana yang lebih cair dan membumi.
Pada Sabtu, 28 Maret 2026, denyut itu terasa semakin kuat di Kota Mataram, Lombok Barat, dan Lombok Tengah. Ribuan orang bergerak menuju pantai, makam keramat, dan ruang-ruang publik, membawa ketupat sebagai simbol kebersamaan sekaligus medium perjumpaan sosial.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Di tengah suasana itu, Lebaran Topat tidak lagi berdiri sebagai ritual lokal semata. Ia bergerak menjadi peristiwa sosial, budaya, sekaligus ekonomi. Tradisi yang dulu berlangsung sederhana kini menjelma menjadi ruang interaksi yang luas, mempertemukan masyarakat lintas generasi dan latar belakang.
Di Mataram, Loang Baloq dan Bintaro menjadi titik pertemuan yang dipenuhi wajah-wajah yang datang dengan niat yang sama: bersilaturahmi. Ada yang datang untuk berziarah, ada pula yang sekadar menikmati kebersamaan keluarga.
Di antara tenda-tenda sederhana, ketupat dibuka, lauk dibagi, dan percakapan mengalir tanpa sekat. Tradisi begibung, makan bersama dalam satu lingkaran, menghadirkan suasana kesetaraan yang jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Tak jauh dari sana, tradisi ngurisan atau cukur rambut bayi turut memberi warna tersendiri. Ia menjadi simbol keberlanjutan nilai, sebuah pengingat bahwa tradisi tidak hanya diwariskan melalui cerita, tetapi juga melalui praktik yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Di Lombok Barat, kawasan Senggigi menghadirkan lanskap yang berbeda. Pantai yang biasanya dipenuhi wisatawan kini berubah menjadi ruang budaya terbuka. Ketupat tidak sekadar makanan, melainkan simbol filosofis tentang kesempurnaan ibadah, keikhlasan berbagi, dan kembalinya manusia pada kesucian. Dalam suasana ini, identitas kolektif masyarakat Sasak terasa semakin kuat.
Sementara itu, di Lombok Tengah, Lebaran Topat dirayakan dengan lebih sederhana, namun tetap sarat makna. Pengajian, santunan anak yatim, dan doa bersama menjadi rangkaian yang menegaskan bahwa tradisi ini berakar pada nilai spiritual yang mendalam. Skala yang lebih kecil justru memperlihatkan kehangatan yang intim, ketika masyarakat berkumpul tanpa jarak.




