China, VIVA - Kinerja keuangan BYD sepanjang 2025 mencerminkan tekanan besar yang sedang melanda industri kendaraan listrik, khususnya di pasar domestik Tiongkok. Produsen mobil listrik tersebut mencatat laba bersih turun 19 persen secara tahunan menjadi 32,62 miliar yuan atau sekitar Rp 100 triliunan.
Penurunan laba ini tak lepas dari perang harga yang semakin agresif di segmen kendaraan energi baru (NEV). Kompetisi yang ketat memaksa produsen otomotif memangkas harga jual demi menjaga volume penjualan, yang pada akhirnya berdampak langsung pada margin keuntungan.
Dalam laporan resminya dilansir VIVA Otomotif daro Cnevpost, Minggu 29 Maret 2026, BYD mengakui bahwa industri NEV saat ini telah mencapai posisi kuat secara global. Namun di sisi lain, tantangan di dalam negeri justru semakin kompleks. Lingkungan kompetitif yang tinggi membuat produsen harus siap “berkorban” margin untuk bertahan di pasar.
Dari sisi pendapatan, BYD masih mencatatkan pertumbuhan, meskipun tidak signifikan. Sepanjang 2025, total pendapatan perusahaan mencapai 803,97 miliar yuan, atau naik 3,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa permintaan tetap tumbuh, tetapi tidak secepat ekspektasi pasar.
Perlambatan ini juga mencerminkan kondisi ekonomi makro yang belum sepenuhnya pulih, ditambah tekanan dari perang harga yang membuat nilai penjualan tidak tumbuh sebanding dengan volume.
Secara penjualan unit, performa BYD masih tergolong solid. Sepanjang tahun lalu, mereka berhasil menjual 4.602.436 unit kendaraan NEV, naik 7,73 persen secara tahunan. Capaian ini sekaligus memenuhi target penjualan yang sebelumnya telah direvisi menjadi 4,6 juta unit.
Bisnis otomotif tetap menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan, dengan nilai mencapai 648,65 miliar yuan atau sekitar 80 persen dari total pendapatan. Sementara itu, lini bisnis lain seperti komponen ponsel dan perakitan justru mengalami penurunan tipis sebesar 2,74 persen.
Salah satu sorotan utama dalam laporan keuangan ini adalah penyusutan margin laba. Margin laba kotor BYD turun dari 19,44 persen pada tahun sebelumnya menjadi 17,74 persen di 2025. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi strategi harga agresif dan perubahan komposisi produk.
BYD bahkan menggambarkan kondisi industri otomotif saat ini sebagai fase “knockout”, di mana hanya pemain dengan efisiensi tinggi, teknologi kuat, dan skala produksi besar yang mampu bertahan dalam persaingan.





