SURABAYA, KOMPAS - Gereja Katolik termasuk di Keuskupan Surabaya, Jawa Timur, merayakan Minggu Palem (29/3/2026) sekaligus memasuki pekan suci. Perayaan bersamaan dengan berakhirnya musim libur Idul Fitri 1447 Hijriah atau pengujung arus balik yang kembali menguatkan pesan persaudaraan keagamaan.
Minggu Palem atau lebih kerap disebut Minggu Palma dirayakan dengan misa meriah. Di Surabaya, antara lain, ada prosesi perarakan umat Katolik menuju gereja sebelum ekaristi sambil membawa dan mengibaskan daun palem atau daun janur. Perayaan memaknai peristiwa penting lebih dari 2.000 tahun lalu yakni Yesus memasuki Yerusalem, disambut, dan dielu-elukan sebagai raja tetapi kemudian disesah, wafat disalibkan, dan bangkit.
Injil memuat peristiwa itu dalam kisah ”Yesus Dielu-elukan di Yerusalem”. Keempat penulis Injil mengabadikannya dalam Matius bab 21 ayat 1-11, Markus bab 11 ayat 1-11, Lukas bab 19 ayat 28-44, dan Yohanes bab 12 ayat 12-19. Matius 21:1-11 menjadi bacaan pertama dalam perarakan Minggu Palem. Bacaan Injil untuk Minggu Palem memuat kisah sengsara Yesus menurut Matius 26:14-27.
Dalam homili, Pastor Paroki Sakramen Mahakudus RD FX Hardi Aswinarno mengatakan, tahun ini momentum keagamaan di Indonesia berbarengan seolah mengajak bangsa untuk tetap rukun dan membumi. Sebagai contoh, permulaan Prapaskah umat Katolik dengan puasa dan pantang pada Rabu Abu (18 Februari 2026) dengan awal Ramadhan umat Islam. Itu sehari setelah Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili bagi warga peranakan Tionghoa terutama umat Konghucu.
Selain itu, Nyepi Saka 1948 bagi umat Hindu jatuh pada Kamis (19 Maret 2026). Sehari setelahnya ada umat yang merayakan Idul Fitri, sementara pemerintah menetapkannya pada Sabtu (21 Maret 2026). Minggu Palem dianggap sebagai ujung arus balik masa angkutan Idul Fitri. ”Sungguh suatu yang indah dalam kebersamaan,” kata Hardi.
Hardi melanjutkan, dalam konteks Minggu Palem, umat diajak melihat lebih dalam peristiwa ”Yesus Dielu-elukan di Yerusalem”. Saat itu, Yesus datang menunggang keledai dan disambut pekik hosana/hosiana dari bahasa Ibrani yashana. Pekik itu sesungguhnya harapan atau doa meminta keselamatan.
”Yesus menggenapi penyelamatan melalui sengsara, wafat disalibkan, dan bangkit. Ini menunjukkan Tuhan yang membumi bahkan merendahkan untuk keselamatan umatnya,” ujar Hardi.
Di ujung arus balik, makna lema hosana atau berharap keselamatan juga ada dalam pikiran warga setelah merayakan Idul Fitri. Dalam tradisi Jawa, hari kemenangan ada yang menghiasinya dengan membuat dan menikmati kupat atau ketupat.
Penganan khas ini secara filosofis memuat nilai lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Sehari setelah Idul Fitri atau 2 Syawal 1447 Hijriah, kalangan umat Islam ada melaksanakan puasa syawal selama enam hari. Ujungnya ialah bakda kupat atau hari raya ketupat yang di sebagian warga Surabaya memeriahkannya pada Sabtu (28/3/2026).
Mengutip Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua hari raya yakni Idul Fitri dan kupatan (bakda kupat). Puasa syawal enam hari merupakah sunnah untuk mendapatkan pahala yang besar. Dengan kata lain, demi keselamatan.
Di Surabaya, kalangan warga telah kembali. Mereka segera menghadapi realita kehidupan metropolitan yang mungkin keras dan menantang. Sulit dipungkiri, mereka mendambakan perjalanan hidup alias keselamatan dalam rezeki dan kesehatan sekeluarga.
Bagi umat Katolik, setelah Minggu Palem, mereka menyongsong pekan suci. Masih ada rangkaian perayaan keagamaan untuk diikuti dan dimaknai terutama trihari suci yakni Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci. Perayaan itu memuncak pada Minggu Paskah.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam halalbilahal pada Rabu (25/3/2026), hari perdana masuk kerja setelah libur Idul Fitri, mengatakan, pelayanan publik telah kembali pulih meskipun sebagian warga masih dalam perjalanan arus balik.
”Dari evaluasi, tiada gangguan keamanan dan ketertiban yang serius terjadi di Surabaya. Kami mengapresiasi warga dan aparatur, polisi, TNI dalam pengamanan kota selama Idul Fitri,” kata Eri.
Situasi yang diklaim kondusif ini patut terus dijaga. Surabaya tetap memerlukan harmoni sosial warganya dengan latar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) berbeda. Khazanah ini, lanjut Eri, adalah keniscayaan, kekayaan, sekaligus kekuatan Surabaya sebagai metropolitan yang beradab bagi warganya.





