Masih Terjebak, Diplomasi Dikerahkan demi Membebaskan Kapal Tanker Indonesia

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah dan PT Pertamina International Shipping (PIS) tengah berdiplomasi dengan Pemerintah Iran terkait tertahannya kapal tanker Indonesia di Teluk Arab/Teluk Persia. Teluk tersebut terhubung dengan Selat Hormuz yang berperan sebagai jalur perdagangan energi global yang terganggu imbas perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

Penjabat Sementara Corporate Secretary PIS Vega Pita mengatakan, pembahasan teknis agar Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro dapat melintas Selat Hormuz masih terus dibahas. Namun, ia belum dapat memastikan kapan target dapat melewati selat tersebut.

”Masih belum dapat dipastikan. Kami upayakan sebaik-baiknya. Fokus perusahaan adalah menjaga keamanan dan keselamatan kru, kapal, dan muatan. Seluruh upaya diplomasi dan koordinasi dengan otoritas terkait dipimpin Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI),” tutur Vega saat dihubungi di Jakarta, Minggu (29/3/2026).

Dalam keterangan pers, Sabtu (28/3/2026), PIS telah berkoordinasi intensif dengan pihak Kemlu yang secara aktif menjalin komunikasi diplomatik dengan otoritas terkait sejak kedua kapal tertahan. Hingga kini, upaya diplomasi masih terus berjalan.

Secara terpisah, Juru Bicara Kemlu Yvonne Mewengkang mengemukakan, Kemlu dan Kedutaan Besar RI (KBRI) Tehran, Iran telah berkoordinasi dengan pihak Pertamina. Hasilnya, terdapat pertimbangan positif Pemerintah Iran atas keamanan perlintasan kapal milik Pertamina Group di Selat Hormuz.

“Diperlukan kesiapan teknis oleh pihak Pertamina, termasuk perlindungan asuransi dan kesiapan kru kapal, sebelum ditindaklanjutinya tanggapan positif dari Pemerintah Iran tersebut,” kata Yvonne secara tertulis pada Sabtu.

Baca JugaDilema Beban Fiskal Negara akibat Perang AS-Israel dan Iran

Kemlu dan KBRI Tehran akan terus berkoordinasi dengan semua pihak terkait guna memastikan keamanan pelintasan kapal Pertamina di Selat Hormuz.

Hal senada diutarakan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Laode Sulaeman. Pihaknya bersama Kemlu sedang mengoptimalkan jalur diplomatik.

“Kita tentu berharap seperti negara-negara lain yang juga sudah mendapatkan hal yang sama (jaminan keamanan), melalui jalur diplomatik,” ujarnya.

Ketika ditanya mengenai target waktu, Laode menyatakan, pihaknya terus memantau dinamika upaya yang tengah berjalan. Harapannya, tentu lebih cepat kepastian yang didapat akan lebih baik. Kementerian ESDM juga berkomunikasi intens dengan Kedutaan Iran di Indonesia.

Terkait stok BBM, berbagai alternatif telah disiapkan sejak awal perang. Seluruh stok dinyatakan aman.

“Stok sangat baik, aman semua, baik untuk crude (minyak mentah), produk BBM, maupun LPG. Kita tidak bergantung pada kapal yang sedang mengalami kendala tersebut,” kata Laode.

Baca JugaSiapa yang Untung dalam Perang AS-Israel Vs Iran?
AS melunak

Sikap AS mulai melunak setelah tidak mendapat dukungan negara sekutu dalam Kelompok 7 atau G7 terkait perang melawan Iran. Operasi militernya diperkirakan bakal berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, lebih singkat dari pernyataan sebelumnya.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio setelah bertemu dengan para menteri luar negara negara G7 di Perancis, Jumat (27/3/2026) mengemukakan, pihaknya berharap mampu menuntaskan operasi militer ini lebih cepat dari rencana sebelumnya.

Ia menyebut, perang di Iran dapat berakhir tanpa mengerahkan pasukan darat. Sebelumnya, AS mempertimbangkan dan menyiapkan pengiriman ribuan personel pasukan darat ke Iran.

Salah satu yang dibahas mengenai pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz. Sejumlah negara menolak permintaan Presiden AS Donald Trump untuk mengirimkan kapal perangnya ke selat tersebut. Sebab, mereka tidak ingin terlibat langsung dalam perang melawan Iran.

Iran sejauh ini mulai mengizinkan tanker dari beberapa negara melewati Selat Hormuz. Blokade telah dibuka, kecuali bagi kapal AS, Israel, dan sekutunya.

Rubio berpendapat, AS dan sekutunya akan mendapat berbagai tantangan untuk membuka Selat Hormuz. Kemungkinan, Iran akan menetapkan tarif pada jalur vital energi global yang dilewati 20 persen minyak dunia setiap harinya. Hal itu berisiko merusak ekonomi secara signifikan bagi banyak negara (Kompas.id, 28/3/2026).

Baca JugaAda Sinyal AS Melunak Setelah Tak Dapat Dukungan Negara G7


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aston Inn Batu, Hadirkan Pengalaman Pernikahan yang Akan Dikenang Sepanjang Massa
• 31 menit lalurealita.co
thumb
Niall Horan Cerita Duka Kehilangan Liam Payne: Saya Tidak Percaya itu Nyata
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Ciri Kepribadian Orang yang Betah di Rumah Menurut Ilmu Psikologi
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
Anak-anak Kaltara nilai pembatasan platform digital berdampak positif
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Muhammadiyah Sulsel Luncurkan Buku Tauhid, Syawalan Diteguhkan dengan Gagasan
• 9 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.