jpnn.com, JAKARTA - Setiap masa memiliki identitas tersendiri. Tak terkecuali di era Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) periode 2024-2029 yang saat ini dimimpin oleh Sultan Baktiar Najamudin sebagai Ketua DPD RI, serta para wakil Ketua, yaitu Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, Yorrys Raweyai, dan Tamsil Linrung.
Ada banyak wajah baru dari 152 senator DPD RI. Semuanya hebat, semuanya memiliki kecerdasan intelektual masing-masing.
BACA JUGA: Apresiasi Kinerja Kementerian Haji, Senator Lia Istifhama: Bukti Negara Hadir untuk Jemaah
Namun saat kita tarik pada pengejawantahan sosok Kartini, maka kita tidak bisa menafikan hadirnya wajah baru Politisi Perempuan yang berhasil memadupadankan kecerdasan dan kepedulian pada Keberlangsungan Bangsa.
Dia adalah Dr. Lia Istifhama atau ning Lia, tokoh politik milenial asal Jawa Timur yang dikenal sangat aktif dan vokal bersuara di tengah ruang publik dan digital.
BACA JUGA: Senator Lia Istifhama Apresiasi Langkah Pemprov Jatim Perkuat Ketahanan Sosial dari Desa
Merespons isu-isu terkini dengan gaya bahasa yang komunikatif dan mudah diterima semua kalangan.
Sekilas tampak sederhana, namun ia sangat bersahaja. Sekilas tampak lugas dan normatif, namun ternyata ia mampu menyampaikan pemikirannya dengan sistematis, rasional, dan tentu intelektual.
BACA JUGA: Senator Lia Istifhama Minta Negara Hadir Tanpa Diskriminasi Terhadap Madrasah Wakaf
Dengan senyum khas, orang mungkin saja tidak akan merasa sakit karena digigit meski yang ia suarakan adalah kritikan atau sorotan tajam. Dalam berbagai forum, ia pun secara gamblang menyebut dirinya sosok yang sangat Idealis.
Bukan tanpa alasan, ia ternyata menyebut sosok Kartini sebagai inspirasi lahirnya pemikiran idealisme dalam dirinya.
\Bagi perempuan yang mengunci suara kemenangan senator perempuan non petahana terbesar nasional dengan raihan suara 2.739.123, sosok RA Kartini adalah Inspirasi.
"Ibu Kartini melalui surat-surat yang ditulisnya di usia sangat muda, adalah tamparan bagi kita semua kaum Perempuan, bahwa kita memiliki peran besar dalam kelangsungan bangsa ini. Kita bicara tentang kesetaraan dan perbaikan peradaban, bukan sebuah kompetisi terbungkus perbedaan jenis kelamin. Karena kita semua, laki-laki dan Perempuan, sama-sama anak bangsa yang menjadi pondasi bagaimana peradaban negeri terjaga. Terjaga atas ilmu dan kuat bertahan di segala dinamika global,” terang Lia Istifhama, Minggu (29/3/2026.
Berbicara kepentingan bangsa di usia yang sangat belia. Itulah yang ditangkap oleh Lia Istifhama pada sosok Raden Ayu Kartini, putri bangsawan dari Desa Mayong, Jepara, yang terlahir pada tanggal 21 April 1879.
Kartini tampil secara berani dan tidak membutuhkan waktu lama untuk kemudian menjadi sosok Pendobrak emansipasi wanita melalui perjuangan kesetaraan pendidikan. Perjuangan Kartini memang tidak dilakukan dalam medan peperangan, melainkan melalui kekuatan ‘tulisan’, yaitu rangkaian surat yang berisi berbagai gagasan, harapan, dan kritik terhadap keterbatasan hak perempuan.
Tidak butuh waktu lama dalam perjuangannya membuka mata dunia, mengingat ia pun meninggal di usia yang teramat muda, yaitu usia 25 tahun pada 1904 silam. Namun ketajaman dan kedalaman makna tulisan dari surat-suratnya yang dikirim pada sahabat-sahabatnya di Eropa, tidak akan padam melainkan justru menginspirasi lahirnya sosok perempuan-perempuan hebat di kemudian hari.
Bagi Ning Lia, surat-surat Kartini merupakan legenda perjuangan peran penting perempuan dalam peradaban bangsa. Salah satunya adalah yang tertuang dalam surat untuk Ovink-Soer (tahun 1900):
“Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan. Dan, siapa yang bisa paling banyak berbuat untuk yang terakhir itu, yang paling banyak membantu mempertinggi kadar budi manusia? Perempuan. Karena, di pangkuan perempuan lah pertama-tama manusia menerima pendidikannya. Di sana anak mula-mula belajar merasa, berpikir, berbicara.”
Surat-surat Kartini tersebut, secara nyata menjadikan Lia Istifhama sebagai politisi dengan suguhan warna yang sangat berbeda. Penampilan Anggun dan kalem khas kultur Jawa, namun memiliki identitas ketegasan dan kedalaman Analisa sejarah. Baginya, analisa tentang sejarah peradaban bangsa, terutama dikaitkan dengan peran perempuan nusantara, memang tak lepas dari sosok Kartini.
“Ibu Kartini akan terus melegenda dan menjadi pintu terbukanya emansipasi wanita di era penjajahan. Beliaulau yang secara tegas berkata: “Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan Kita yang sesuai keperluan Kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti halnya kaum laki-laki”.
“Bagi Kartini berhasil membuka mata kaum perempuan saat itu, untuk memiliki mimpi besar, yaitu kesamaan dengan kaum laki-laki, terutama dalam hal pendidikan. Tak heran, dunia mengagumi diksi dengan makna sangat mendalam yang menjadi pengejawantahan mimpi Kartini dan spirit perjuangan Perempuan,” ujar ning Lia.
Apa yang dikatakan senator muda Indonesia itu, tentu bukan tanpa dasar karena bukti nyata kekaguman dunia terlihat dalam berbagai penerbitan buku yang terinspirasi oleh Kartini, diantaranya “Door Duisternis tot Licht” (Dari Kegelapan Menuju Cahaya) oleh Jacques Abendanon (1911) dan “Habis Gelap Terbitlah Terang” versi Armijn Pane (1938).
Ning Lia sendiri, menjadikan Kartini sebagai inspirasi gerak politiknya yang sangat dekat dengan generasi muda, terutama generasi Z, satu generasi di bawahnya yang mana ia terlahir sebagai milenial.
“Kartini memberikan kita PR besar tentang sejarah. Mari kita bangun sejarah yang baik selama kita masih bisa berpijak di atas tanah kelahiran, bernafas, dan bertindak dengan segala yang kita miliki sebagai khoirunnas anfauhum linnas. Dan kebaikan yang bisa kita tanam selama kita hidup adalah pesan-pesan menjaga kelangsungan bangsa pada generasi di bawah kita. Sadarkan mereka bahwa mereka-lah syubbanul yaum rijalul ghod, pemegang tampuk kepemimpinan di negara demokrasi, maka seterusnya mereka tidak boleh apatis pada politik.”
Baginya, Langkah menjaga kelangsungan bangsa adalah menebarkan spirit politik yang humble dan humanis, agar publik, terutama generasi muda, tidak memiliki stereotype negative pada proses demokrasi.
Ning Lia menegaskan, Perempuan memiliki psike yang sangat sarat kepedulian. Maka dari itu, sejarah Pendidikan Perempuan yang bermurara dari mimpi Kartini, menunjukkan bahwa Perempuan hadir sebagai pondasi perdaban, bukan kompetisi bagi kaum laki-laki. Ia pun mengutip surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya Anton, 4 Oktober 1901:
“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Dan kini, mimpi Kartini telah diteladani secara baik oleh senator DPD RI Lia Istifhama, Politisi yang populer dengan peran CANTIK yang rutin melakukan penyapaan pada 38 Kabupaten Kota dan vokal menyoroti berbagai isu nasional, seperti MBG, LPDP, serta beragam aturan yang sifatnya otonomi daerah seperti UU HKPD.
Dia pun menunjukkan kepedulian pada aksi-aksi lingkungan dengan inisiasi sampah gantung agar tidak menjadi problem saat banjir melanda pemukiman padat.
Sebagai politisi, Lia Istifhama pun sukses meleburkan karakter kecantikan khas Jawa dengan narasi kecerdasan yang dibangunnya dalam beberapa artikel kebangsaan, diantaranya PPHN Dan Pembangunan Keberlanjutan.
Aktif dan responsif, menunjukkan kedalaman karakter organisatoris sosok Lia Istifhama. Beberapa ruang organisasi yang ia geluti, diantaranya, Ketua DPD Perempuan Tani HKTI Jawa Timur, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Wakil Ketua PW Fatayat NU Jatim, PW Lazisnu Jatim, PW LTN NU Jatim, dan sekarang Bendahara Umum PB IKA PMII.
Daftar panjang organisasinya, selaras dengan daftar panjang penghargaan, diantaranya: 22 Tokoh Muda Inspirasi Jawa Timur dari Forum Jurnalis Nahdliyyin, Best Achievement Penganugerahan Propinsi Terbaik dari HKTI, Penggerak Perempuan Bidang Pertanian dari DP3AK Jatim, Penghargaan Penggerak Shodaqoh Oksigen dari Dinas Kehutanan Jawa Timur, Figur Akselerator Kemajuan oleh DetikJatim, Legislasi Award oleh JTV, Woman of The Year oleh Times Indonesia, Tokoh Penggerak oleh SMSI Jatim, Person Of The Year oleh Radar Surabaya, Tokoh Perempuan Terpopuler oleh Radar Madura, dan sebagainya.
Itulah Lia Istifhama yang saat ini dianggap sebagai jelmaan senator idola Genzy yang tentu terus kita tunggu gebrakan peran legislasi sebagai legislator mewakili Provinsi kedua terbesar nasional.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




