AGI Picu Disrupsi Pasar Tenaga Kerja, Profesi Ini yang Rentan Tergeser

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kemunculan Artificial General Intelligence (AGI) atau kecerdasan umum buatan berpotensi menimbulkan risiko serius terhadap pasar tenaga kerja.

Menurut Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, AGI menghadirkan lompatan signifikan dibandingkan gelombang otomatisasi sebelumnya. 

Jika teknologi sebelumnya lebih banyak menggantikan pekerjaan rutin dan fisik, AGI mampu menyasar tugas kognitif seperti analisis, penalaran, hingga pengambilan keputusan.

“Jika sebelumnya teknologi menggantikan pekerjaan rutin, AGI sudah masuk ke ranah kognitif,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (29/3/2026).

Dia menjelaskan, kehadiran AGI akan mendorong pergeseran dari ekonomi berbasis jabatan menuju ekonomi berbasis keterampilan. Pekerja yang mampu memanfaatkan AI berpotensi mengalami peningkatan produktivitas, sementara yang tidak beradaptasi berisiko tertinggal.

Namun demikian, tanpa intervensi kebijakan yang memadai, transformasi ini berpotensi memperlebar kesenjangan antara tenaga kerja berkeahlian tinggi dan rendah.

Baca Juga

  • BCA Perkuat Perlindungan Data, Manfaatkan Kecerdasan Buatan
  • Investasi Kecerdasan Buatan Diramal Masih Tinggi di Tengah Kekhawatiran AI Bubble
  • Kecerdasan Buatan 2026: Indonesia Masih jadi Pasar atau Pencipta Solusi?

“Di Indonesia, ekonomi berbasis jabatan masih sangat kuat. Pekerja yang menguasai AI pun tetap bisa berada di bawah mereka yang memiliki jabatan lebih tinggi,” jelasnya.

Dari sisi sektoral, Heru memperkirakan AGI berpotensi menggantikan lebih banyak pekerjaan dibandingkan teknologi AI saat ini. Profesi berbasis pengetahuan seperti analis, akuntan, layanan pelanggan, serta fungsi administratif dan manajemen menengah menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.

Selain itu, pekerjaan kreatif yang bersifat standar juga mulai menghadapi tekanan. Meski begitu, Heru menekankan bahwa AGI tidak selalu menghilangkan pekerjaan secara total, melainkan mengubah komposisi tugas di dalamnya.

“Banyak peran akan berevolusi. Manusia akan fokus pada aspek strategis, sementara tugas operasional diambil alih AI,” ujarnya.

Kendati demikian, dia menilai sejumlah keterampilan tetap tidak tergantikan oleh AGI, seperti nilai, etika, empati, serta kemampuan membangun kepercayaan. Kepemimpinan dalam situasi tidak pasti dan kreativitas konseptual juga dinilai tetap relevan.

“AGI unggul dalam mengenali pola, tetapi masih terbatas dalam memahami konteks sosial yang mendalam. Keunggulan manusia ke depan ada pada cara berpikir dan kemampuan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu,” jelasnya.

Menghadapi potensi disrupsi tersebut, Heru menilai perusahaan perlu merombak strategi pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Pendekatan berbasis keterampilan dan kolaborasi manusia-AI menjadi kunci, menggantikan sistem kerja berbasis deskripsi jabatan yang kaku.

Selain itu, investasi dalam pembelajaran berkelanjutan menjadi keharusan, terutama untuk meningkatkan literasi AI, kemampuan berpikir kritis, serta adaptabilitas tenaga kerja.

Di sisi lain, dia menekankan pentingnya memastikan transisi yang adil bagi pekerja terdampak. Program reskilling dan upskilling perlu dilakukan secara cepat dan masif, disertai dengan jalur perpindahan karir yang jelas.

Perusahaan juga didorong untuk mengalihkan tenaga kerja ke peran baru, bukan sekadar melakukan pemutusan hubungan kerja sebagai respons terhadap efisiensi teknologi.

“Secara negara, perlu ada re-imagining dan re-strategy dalam membangun peradaban baru di era AI,” kata Heru.

Lebih lanjut, dia menilai peran pemerintah menjadi kunci dalam meredam dampak disrupsi tersebut. Reformasi pendidikan dan sistem pelatihan nasional perlu dipercepat agar lebih adaptif terhadap kebutuhan industri.

Menurutnya, regulasi AI saat ini masih berfokus pada aspek etika dan keamanan, sehingga belum cukup untuk mengantisipasi dampak AGI terhadap pasar tenaga kerja. Diperlukan kebijakan tambahan yang menyasar perlindungan tenaga kerja serta distribusi manfaat ekonomi yang lebih merata.

“AI bukan sekadar jargon. Kita harus mendorong solusi berbasis AI dengan nilai kearifan lokal, memberdayakan petani, UMKM, dan generasi muda agar menjadi generasi emas, bukan generasi cemas,” tutupnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Instruksi Presiden Prabowo Gelar Pasar Murah di Monas, Ini Kata Seskab Teddy
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
3 Prodi UGM Tembus Top 100 Dunia Versi QS WUR by Subject 2026
• 2 menit lalumedcom.id
thumb
Kekuatan Militer Iran Dilemahkan, Garda Revolusi Putus Asa Rekrut Anak Usia 12 Tahun untuk Berperang
• 14 jam laluerabaru.net
thumb
Kementerian PU Bangun Huntara untuk Warga Rel Kereta, Fokus Pada Aceh
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Dinkes Jabar Siagakan Mobil Kesehatan untuk Pemudik
• 52 menit lalubisnis.com
Berhasil disimpan.