jpnn.com - JOMBANG - Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib mengingatkan agar sumber-sumber kekayaan strategis negara untuk hajat rakyat banyak harus kembali dikuasai, dikelola, dan dikendalikan secara mandiri oleh negara, agar tidak ada monopoli dan manipulasi.
"Ekonomi berbasis gotong royong dan kreativitas inovatif diarusutamakan dan diarahkan agar terjadi pemerataan, tidak konglomerasi segelintir orang," ujarnya, Minggu (29/3).
BACA JUGA: Duet Kiai Said Aqil-Gus Salam Dianggap Pantas Memimpin NU
Gus Salam -sapaan KH Abdussalam Shohib, juga mengatakan dunia pendidikan dan penelitian di Indonesia harus menjadi prioritas secara adil.
"Tidak sekadar memberi Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejayaan peradaban nusantara bisa kembali dengan investasi sumber daya manusia (SDM) unggul," katanya.
BACA JUGA: 6 Prinsip Penataan Kepemimpinan NU Versi Gus Salam
Gus Salam meminta para pejabat dan birokrasi pandai-pandai berpuasa; menahan kemewahan dan kenyamanan demi masa depan bangsa.
Dia lalu menyinggung peran dan komitmen Nahdlatul Ulama (NU). "NU turut melahirkan negara, tidak mungkin mengkhianatinya, tetapi menjaganya," tutur Katib PBNU priode 2015-2018 itu.
BACA JUGA: Gus Salam: NU Butuh Majelis Permusyawaratan Syuriah
Ketua Pengurus Harian Yayasan Gerak Pengabdian Santri Indonesia (GPSI) berkata, sebagai kekuatan civil society, NU turut membidani gerakan reformasi 1998; berharap perubahan sebagaimana amanat UUD NKRI 1945.
"Posisi NU sebagai civil society terbawa arus perubahan. Walau sempat menyadarinya, tetapi karena faktor internal dan eksternal membuat daya tahan NU melemah," katanya.
Menurut Gus Salam, pragmatisme kepengurusan melemahkan idealisme, pengeroposan etika dan moralitas, menonjolkan individualisme dan relatifitas, serta berpikir sumbu pendek.
Perwatakan sebagian pemimpin NU tidak jauh dari perwatakan politisi, aparatur dan pejabat yang mulai menampakkan sikap arogan, superior dan otoriter.
Dia menyatakan bahwa NU tidak boleh melemah karena virus dan bakteri dari internalnya.
"Muktamar ke-35 NU, Agustus-September 2026 yang didahului Konbes PBNU dan Munas Alim Ulama April-Mei 2026 akan menjadi momentum bagi ulama, kiai, pesantren, struktural, dan kader NU untuk menata dan membangkitkan jam’iyyah NU secara arif dan bijak. Bukan saatnya menunjukkan arogansi, tetapi militansi khidmat demi masa depan umat," katanya. (*/jpnn)
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan




