Perjuangan Sulasih di Usia Senja, Jualan Dumbeg Meski Uang Dicopet

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Subuh belum lama berlalu ketika Sulasih (59) mulai menanak adonan tepung beras, santan, nangka dan gula merah di dapurnya di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Di usianya yang tak lagi muda, ia tetap setia membuat dumbeg, jajanan tradisional yang telah ia jual selama lebih dari dua dekade, demi menyambung hidup.

Namun, jerih payahnya seharian berjualan tak selalu berbuah manis. Pekan lalu, sepulang berdagang di Kabupaten Pati, uang hasil jualannya justru raib dicopet di dalam bus. Uang Rp 995 ribu yang rencananya akan dipakai untuk modal jualan dan ditabung, raib seketika.

Sulasih biasa berjualan dumbeg di sekitar Alun-alun Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Sulasih kerap nglaju, yakni berangkat berjualan dumbeg pada pagi hari lalu pulang kembali ke Kabupaten Rembang pada sore harinya. Setiap berangkat dan pulang, ia memilih menaiki bus dengan jarak tempuh satu jam sekali jalan.

"Pekan lalu saya kecopetan, uang saya Rp 1 juta kurang Rp 5 ribu (Rp 995 ribu) hilang. Dompet saya berisi KTP juga dibawa copet," katanya kepada kumparan, Minggu (29/3).

Ia menjelaskan, saat itu dirinya memang dipepet seorang laki-laki di atas bus. Setelah menengok ke belakang, laki-laki tersebut sudah tidak ada. Termasuk dompet berisi uang Rp 995 ribu dan ponsel miliknya ikut raib.

"Rasa menyesal karena kehilangan uang pasti ada. Tetapi ya mau bagaimana lagi, mungkin belum rezeki saya," terangnya.

Meski pernah kecopetan, ia mengaku tak kapok untuk pulang pergi dari Kabupaten Rembang ke Kabupaten Pati maupun ke Kabupaten Kudus. Ia menyadari dapurnya harus tetap ngebul. Di samping itu, ia sudah berniat membantu suaminya yang kesehariannya mengurus hewan ternak. Sulasih juga tidak ingin merepotkan anak-anaknya.

"Tidak kapok karena saya butuh uang untuk makan. Saya juga ingin memberikan uang jajan untuk cucu," ujarnya.

Sulasih menceritakan, sepekan ini dirinya berjualan di Kabupaten Pati. Ia membawa empat keranjang besar setiap harinya yang berisi lebih dari 150 pcs dumbeg atau setara kurang lebih 25 kilogram beras.

"Kalau harus berjualan sambil keliling kaki saya sudah tidak kuat. Makanya saya jualannya duduk di tempat saja karena sudah tua juga," jelasnya.

Memilih tetap berjualan dilakoninya di masa senjanya. Ia enggan merepotkan anak-anaknya lantaran kebutuhan anaknya sudah banyak.

"Kalau di rumah terus saya juga tidak ngapa-ngapain. Lebih baik jualan dumbeg ini," ujarnya.

Sulasih mengaku tak pernah mengeluh berjualan dumbeg. Setiap harinya, ia bangun pukul 02.00 WIB untuk membuat dumbeg. Kemudian, ia berangkat untuk berjualan ke Kabupaten Pati pukul 08.00 WIB. Ia berjualan sampai menjelang magrib.

Ia menjual dumbeg seharga Rp 15 ribu untuk 10 pcs dumbeg. Pembeli dipersilakan memilih sendiri dumbeg yang diinginkan. Sulasih menjamin dumbeg buatannya fresh dan rasanya manis.

Pantauan kumparan di lokasi, sejak pukul 13.27 WIB sampai pukul 14.10 WIB, sudah ada lima pembeli yang menghampiri lapaknya. Jumlah dumbeg yang dibeli beragam, ada yang sepuluh pcs sampai 15 pcs dumbeg.

"Penghasilan hari ini untuk makan, jajan cucu dan ditabung," ucapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Detik-Detik Iran Luncurkan Drone ke Pangkalan Militer Israel di Tel Aviv | KOMPAS SIANG
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
PSSI Dapat Dukungan Kemendikdasmen untuk Pembinaan Sepak Bola
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Jenazah Eks Menhan Juwono Sudarsono Disemayamkan di Gedung Kemhan hingga Pukul 11.00 WIB
• 10 jam laluliputan6.com
thumb
Kalender Jawa April 2026 Pekan Pertama Lengkap dengan Weton dan Penanggalan Hijriah
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Kementerian PU Bangun Huntara untuk Warga Rel Kereta, Fokus Pada Aceh
• 16 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.