JAKARTA, KOMPAS.com - Sampah yang menggunung di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, dikeluhkan pedagang pada Minggu (29/3/2026).
Keluhan tersebut muncul karena pedagang mengaku rutin membayar retribusi kebersihan kepada pengelola, yakni Perumda Pasar Jaya.
Meski membayar setiap bulan, para pedagang menilai, sampah di pasar induk itu dinilai tidak tertangani dengan baik.
"Mengeluh soalnya per bulan itu bayar, mau enggak mau. Sedangkan usaha kayak begini anjlok drastis usaha, terus telat bayar bulanan sampah, telat dua bulan, tiga bulan dikasih peringatan, disegel," kata salah satu pedagang, Suratno saat ditemui, Minggu (29/3/2026).
Baca juga: Sampah Menggunung di Pasar Kramat Jati, Ini Kata Dinas Lingkungan Hidup
Dia menjelaskan, retribusi kebersihan yang harus dibayarkan setiap bulan mencapai sekitar Rp 600.000 hingga Rp 620.000.
Menurut Suratno, tumpukan sampah tersebut juga mengganggu aktivitas pedagang, terutama saat proses bongkar muat barang.
"Tadinya jalan-jalan lancar karena lega. Sekarang makin menyempit, Ya kemungkinan, ya tahu sendirilah tempatnya keadaan begitu. Jadi aturan yang parkir itu enak sekarang ya udah menyempit begitu," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya, Susanti. Dia menilai persoalan sampah di Pasar Induk Kramat Jati tidak kunjung teratasi.
Padahal, menurut Susanti, pedagang tetap diwajibkan membayar retribusi setiap bulan sebesar Rp 600.000 hingga Rp 900.000, tergantung luas kios.
"Enggak ada, Mas, tetep tiap bulan kita dimasukin CMS, parah. Enggak ada keringanan, malah kita sekarang diketatin, pembayaran telat aja kita udah dikasih peringatan," kata Susanti.
Baca juga: Gunungan Sampah di Pasar Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Ini Penyebabnya
Susanti menambahkan, meski retribusi rutin dibayarkan, sampah tetap menumpuk.
Dia menyebut, pedagang mendapat informasi bahwa kondisi tersebut disebabkan keterbatasan truk pengangkut sampah ke Bantargebang.
"Kita ini pedagang sangat dirugikan sekali dengan adanya sampah numpuk begitu, yang ada kita itu hawanya masuk ke dalem kan," ujarnya.
Sebelumnya, tumpukan sampah terlihat kembali menggunung di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur pada Minggu, 29 Maret 2026.
Gunungan sampah serupa diketahui pernah terjadi pada Januari 2026. Saat itu, ketinggian sampah mencapai enam meter akibat kekurangan armada pengangkut.