Kekeringan akibat El Nino “Godzilla”, Petani Alami Penurunan Produksi dan Gagal Panen

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Musim kemarau yang datang lebih awal dan lebih kering akibat fenomena El Nino “Godzilla” membuat petani di sejumlah wilayah Sumatera Utara mengalami gagal panen, gagal tanam, dan penurunan produksi. Dampak kekeringan semakin parah karena sistem irigasi yang tidak berfungsi dengan baik akibat sedimentasi dan kerusakan.

Sejak awal tahun, hujan di sejumlah wilayah Sumut hanya turun beberapa kali dengan intensitas ringan dan durasi beberapa menit saja. Di Kabupaten Deli Serdang, dampak kekeringan tidak hanya dirasakan petani sawah tadah hujan, tetapi juga petani yang ditopang sitem irigasi.

“Hasil dari sawah saya anjlok hampir setengah dari biasanya. Sawah kami memang didukung sistem irigasi. Namun, air untuk sawah tidak cukup karena musim kering dan salurannya irigasi yang rusak,” kata Lamser Simanjuntak (50), petani di Desa Sei Tuan, Kecamatan Pantai Labu, Deli Serdang, Minggu (29/3/2026).

Cuaca terasa sangat terik saat Lamser memanen padi di Sei Tuan. Tanah di sawahnya sudah mengering dan mulai retak. Saluran irigasi yang berada di dekat sawahnya juga surut dan hanya meninggalkan sedimen lumpur.

Saluran itu dibendung petani di hulu untuk mengairi sawahnya. Para petani menjaga sawah masing-masing agar air tidak dialihkan ke sawah lain. “Kalau sudah musim kemarau seperti sekarang, para petani sering ribut karena berebut air,” kata Lamser.

Baca JugaEl Nino ”Godzilla” Menyerang, Gambut di Riau Terbakar dan Sumut Kekeringan

Hasil padi yang didapat Lamser pada musim tanam ini menurun hampir setengah. Dia biasanya bisa mendapat 3 ton gabah kering panen (GKP) dari setengah hektar sawahnya. Namun, pada musim tanam kali ini, dia hanya mendapat hasil sekitar 2 ton GKP.

Lamser lalu menunjukkan bulir-bulir padi yang banyak kosong. Menurutnya, bulir padi menjadi hampa karena kekeringan sudah terjadi sejak fase pengisian bulir padi saat umur tanaman dua bulan. Para petani sampai begadang untuk menjaga air agar bisa masuk ke sawahnya, tetapi tetap saja airnya kurang.

Hal serupa juga dialami Abdul Gani (65), warga Desa Cinta Damai, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang. Hasil dari sawahnya juga menurun sekitar 30 persen karena musim kemarau yang melanda. “Kemarau tahun ini terasa lebih panas dan lebih kering dari tahun sebelumnya,” katanya.

Gani menuturkan, dampak dari musim kemarau semakin terasa karena saluran irigasi sudah dipenuhi endapan lumpur sehingga fungsinya berkurang. Dia pun menunjukkan saluran irigasi tersier di samping sawahnya yang dipenuhi endapan lumpur dengan ketebalan 30-70 sentimeter (cm). Ketinggian air yang tersisa di saluran itu pun hanya sekitar 20 cm.

Baca JugaCurhat Kepala Daerah kepada Zulhas ketika Diminta Dukung Ketahanan Pangan

Menurut Gani, sentra padi di Kecamatan Percut Sei Tuan dan Pantai Labu biasanya tidak terdampak musim kemarau secara signifikan karena didukung Daerah Irigasi Bandar Sidoras yang membendung Sungai Percut.

Debit Sungai Percut masih cukup meskipun musim kemarau seperti sekarang. Namun, sampah sudah menumpuk di pintu pengambilan air menuju saluran induk. Akibatnya, debit air pun berkurang.

Gani menyebut, tahun lalu pemerintah melakukan perbaikan di pengambilan air di dekat sungai. Namun, saluran endapan di saluran primer maupun tersier belum dikeruk. Beberapa kali petani membersihkan endapan secara swadaya, tetapi biaya yang terkumpul tidak cukup untuk membersihkan semua saluran.

Berdasarkan catatan Kompas, Daerah Irigasi Bandar Sidoras telah dikunjungi oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya pada Januari 2025. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memimpin rapat di Medan untuk perbaikan sejumlah saluran irigasi di Sumut untuk percepatan swasembada pangan (Kompas, 21 Januari 2025).

Kepada Zulkifli, Pemerintah Kabupaten Deli Serdang melaporkan bahwa Daerah Irigasi Bandar Sidoras mengalami kerusakan karena sedimen. Bendungan itu seharusnya bisa mengairi 4.572 hektar sawah untuk dua musim tanam dalam setahun.

Namun, kapasitasnya jauh berkurang dan sebagian hanya bisa ditanami satu kali setahun. Saat itu, Zulkifli menyebut akan menyelesaikan persoalan saluran irigasi kurang dari setahun.

Baca JugaAncaman El Nino ”Godzilla” dan Rapuhnya Sistem Pertanian Indonesia
Gagal panen di Toba

Kekeringan juga terjadi di sejumlah daerah pertanian di sekitar Danau Toba, Sumut. Di Kabupaten Simalungun, para petani yang mengandalkan pengairan tradisional dari mata air dan sungai kecil pegunungan bahkan mengalami gagal panen.

“Hampir semua mata air dan sungai-sungai kecil di desa kami mengering. Padi yang kami tanam pada awal tahun kini sudah mengering dan gagal panen,” kata Damayanti Sinaga, petani di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Simalungun.

Mata air di daerah itu biasanya mengalir sepanjang tahun sekalipun di musim kemarau. Namun, sejak hutan di hulu semakin rusak, kata Damayanti, mata air itu tidak mengalir lagi saat musim kemarau. Tahun ini, musim kemarau datang lebih awal dan lebih kering.

Di Samosir, musim kemarau membuat banyak lahan pertanian terbengkalai. Sawah-sawah tadah hujan masih mengering dan tidak bisa ditanam. Jagung yang seharusnya lebih tahan kemarau juga gagal panen karena musim kemarau yang lebih kering.

”Sejak awal tahun, petani mulai menanam bawang merah karena memprediksi musim hujan akan tiba. Tanaman bawang merah akhirnya banyak yang mati karena hujan yang ditunggu tak kunjung tiba,” kata Wilmar Simanjorang, pegiat lingkungan Danau Toba yang tinggal di Samosir.

Hasil dari sawah saya anjlok hampir setengah dari biasanya. Sawah kami memang didukung sistem irigasi. Namun, air untuk sawah tidak cukup karena musim kering dan salurannya irigasi yang rusak

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, sebagian besar wilayah Indonesia pada tahun ini akan mengalami musim kemarau lebih awal, lebih panjang, dan lebih kering dari biasanya. Menurut BMKG, sebanyak 400 zona musim (zom) atau sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang (Kompas.id26/3/2026).

Analisis BMKG itu juga diperkuat temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyebut sejumlah wilayah Indonesia akan menghadapi El Nino dengan variasi kuat atau El Nino ”Godzilla” dan diperparah dengan munculnya fenomena Indian Ocean Dipole positif (IOD+).

Terkait kekeringan yang dihadapi sejumlah petani di Sumut, Kompas menyampaikan permintaan wawancara kepada Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut Fariz Hutagalung melalui sambungan seluler. Namun, Fariz belum merespons permintaan wawancara tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aston Inn Batu, Hadirkan Pengalaman Pernikahan yang Akan Dikenang Sepanjang Massa
• 4 jam lalurealita.co
thumb
Viral Konten Kreator Cosplay jadi Dedi Mulyadi, Sang Gubernur Langsung Beri Tanggapan Ini
• 17 jam lalugrid.id
thumb
BCA (BBCA) Sebut Layanan Perbankan Berjalan Normal Selama Pelaksanaan Earth Hour
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Bertolak ke Jepang, Presiden Prabowo akan bertemu Kaisar Naruhito
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Mauro Zijlstra Cedera, Jens Raven Gabung Timnas Indonesia di FIFA Series 2026
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.