Jakarta: Lembaga riset NEXT Indonesia Center menilai meski industri pengolahan Indonesia mencatat pertumbuhan impresif pada 2025, sektor padat karya masih menghadapi tekanan besar dan membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah. Salah satunya soal ketimpangan antar subsektor.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko menyebut, adanya sunrise industry yang tumbuh pesat, seperti logam dasar dan mesin, namun sunset industry seperti tekstil, pakaian jadi, kayu, serta karet dan plastik justru tertinggal. Industri karet dan plastik bahkan mengalami kontraksi sebesar 4,07 persen pada 2025.
Menurut Christiantoko, kondisi ini patut diwaspadai karena sektor padat karya merupakan penyerap tenaga kerja signifikan.
"Sektor-sektor sunset ini membutuhkan perhatian khusus karena mereka adalah penyerap tenaga kerja besar. Perannya mulai tergerus oleh perubahan rantai pasok global dan persaingan biaya produksi," ungkap Christiantoko seperti dikutip dari Antara, Minggu, 29 Maret 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total pekerja di sektor industri pengolahan mencapai 20,3 juta orang pada Agustus 2025, atau berkontribusi 13,86 persen terhadap total tenaga kerja nasional. Jumlah tersebut tumbuh 1,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: Prabowo Perintahkan Percepatan Program Padat Karya dan Penciptaan Lapangan Kerja
(Ilustrasi industri manufaktur. Foto: dok Istimewa)
Stagnasi investasi asing
Dari sisi investasi, realisasi di sektor industri pengolahan mencapai Rp780,9 triliun pada 2025, naik dari Rp721,3 triliun pada 2024. Namun, kontribusi terhadap total investasi nasional justru turun dari 42,08 persen pada 2024 menjadi 40,44 persen pada 2025.
Menurut Christiantoko, penurunan ini dipicu oleh stagnasi penanaman modal asing (PMA) di tengah penguatan investasi domestik (PMDN).
Christiantoko menekankan perlunya kebijakan reindustrialisasi yang menyasar revitalisasi sektor padat karya, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta pemerataan distribusi investasi agar pertumbuhan industri benar-benar inklusif dan berkelanjutan.
BPS mencatat industri pengolahan tumbuh 5,30 persen secara tahunan pada 2025. Industri logam dasar menjadi primadona dengan pertumbuhan mencapai 15,71 persen, sementara industri mesin dan perlengkapan mencatat pertumbuhan 13,98 persen.
Subsektor lain yang menunjukkan performa stabil adalah industri kimia, farmasi, obat tradisional, serta industri barang logam, elektronik, dan peralatan listrik.




