FAJAR, AUSTIN — Sorotan tajam kini datang dari Eropa, khususnya Italia, terhadap performa impresif Veda Ega Pratama di ajang Moto3 World Championship 2026.
Pembalap 17 tahun asal Gunungkidul itu kembali menunjukkan kualitasnya dengan mengamankan posisi start keempat pada kualifikasi di Circuit of the Americas. Catatan waktu 2 menit 12,813 detik hanya terpaut tipis dari pole position milik Alvaro Carpe.
Bagi Veda, hasil ini mempertegas tren positifnya sejak awal musim. Ia tampil konsisten sejak seri pembuka hingga mencetak sejarah dengan podium di Brasil—sebuah pencapaian yang langsung mengubah cara dunia memandang pembalap Indonesia.
Pengakuan dari Negeri Para Legenda
Italia bukan sekadar negara biasa dalam dunia balap. Dari sana lahir nama-nama besar seperti Valentino Rossi, Marco Simoncelli, hingga Giacomo Agostini. Ditambah dengan kekuatan pabrikan seperti Ducati dan Aprilia, standar penilaian mereka terhadap seorang pembalap sangat tinggi.
Karena itu, ketika media Italia mulai memuji Veda, itu bukan sekadar euforia sesaat—melainkan bentuk pengakuan serius.
Mereka menilai Veda bukan hanya cepat, tetapi juga memiliki kematangan taktis yang jarang dimiliki rookie. Aksinya di Brasil menjadi bukti nyata: dari posisi ke-10, ia mampu bangkit, memanfaatkan strategi tim, dan melakukan manuver krusial di lap terakhir untuk merebut podium.
Lebih dari Sekadar Kecepatan
Yang membuat Veda menonjol di mata analis Eropa adalah kombinasi tiga hal: kecepatan, kecerdasan balap, dan ketenangan.
Dalam usia yang sangat muda, ia sudah mampu membaca situasi balapan, mengelola tekanan, serta memaksimalkan peluang—kualitas yang biasanya baru matang di level pembalap berpengalaman.
Tak heran, banyak pengamat menyebut jika performa ini terus terjaga, langkah menuju MotoGP World Championship hanya tinggal menunggu waktu.
Momentum di COTA
Kini, tantangan berikutnya ada di Austin. Start dari baris kedua memberi peluang besar bagi Veda untuk kembali bersaing di barisan depan.
“Saya merasa percaya diri dan siap untuk balapan,” ujar Veda.
Jika mampu mengulang performa seperti di Brasil—atau bahkan meningkatkannya—bukan tidak mungkin nama Indonesia kembali berkibar di podium dunia.
Lebih dari sekadar hasil, setiap lap yang dijalani Veda saat ini sedang membangun sesuatu yang lebih besar: jalan panjang menuju level tertinggi balap motor dunia.





