KEBIJAKAN pembatasan akses digital bagi anak sejatinya tidak dimaksudkan sebagai pelarangan total. Anak tetap dapat memanfaatkan teknologi digital, terutama untuk kebutuhan pendidikan, namun penggunaannya harus berada di bawah pengawasan orangtua serta tidak disertai kepemilikan akun pribadi.
Guru Besar Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Indonesia (UI), Rose Mini Agoes Salim menegaskan bahwa pendekatan ini bertujuan untuk mengatur, bukan melarang sepenuhnya aktivitas digital anak.
"Anak masih bisa menggunakan perangkat digital, misalnya untuk keperluan sekolah. Tetapi penggunaannya harus dengan pantauan, dan tidak memiliki akun sendiri," kata Rose Mini saat dihubungi, Minggu (29/3).
Baca juga : Transaksi Digital Melonjak Jelang Lebaran, Menguji Kesiapan Sistem TI Perusahaan
Ia menjelaskan, dalam kondisi saat ini di mana banyak anak sudah terbiasa bahkan cenderung ketergantungan pada gawai dan media sosial, penerapan pembatasan kemungkinan akan memicu reaksi emosional. Anak bisa menjadi rewel, marah, hingga menangis karena merasa kehilangan akses yang selama ini mereka nikmati.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut merupakan bagian dari proses adaptasi yang perlu dihadapi dengan pendekatan yang tepat. Karena itu, orangtua perlu menyiapkan alternatif kegiatan sebagai pengganti.
"Pengganti itu tidak harus selalu media sosial atau sesuatu yang bersifat virtual. Bisa juga dalam bentuk aktivitas di dunia nyata," jelasnya.
Baca juga : Awas Konten AI dan Roblox! Dokter Anak Ingatkan Bahaya Halusinasi Digital pada Balita
Ia mencontohkan, permainan tradisional maupun aktivitas fisik lainnya dapat menjadi pilihan untuk mengalihkan perhatian anak dari penggunaan gawai secara berlebihan. Bahkan jika tetap menggunakan media sosial atau permainan digital, durasinya perlu dibatasi dan tidak dilakukan berjam-jam.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran orangtua dan pendidik dalam membantu anak mengatur penggunaan teknologi. Menurutnya, anak belum memiliki kemampuan yang cukup untuk membatasi diri karena pengalaman hidup yang masih terbatas, serta belum memahami sepenuhnya dampak negatif dari penggunaan digital yang berlebihan.
"Anak tidak bisa membatasi dirinya sendiri jika tidak dibantu dari luar. Pengalaman hidup mereka masih pendek, dan mereka belum memahami dampak negatifnya. Karena itu, kita yang harus membantu mengatur," pungkasnya. (Fik)





