jabar.jpnn.com, BANDUNG - Menjelang momentum regenerasi kepemimpinan di tubuh Partai Golkar Jawa Barat, dukungan terhadap Daniel Mutaqien Syafiuddin sebagai calon pemimpin mulai menguat.
Sejumlah kalangan menilai Daniel sebagai figur yang tidak hanya memiliki popularitas, tetapi juga kapasitas ideologis dan teknokratis.
BACA JUGA: Arus Balik Lebaran: Setiap Jam 3.500 Kendaraan Melintas di Tol Cipali
Ketua Satuan Karya (Satkar) Ulama Provinsi Jawa Barat, M. Sahrul Fadli, menyampaikan dukungan terbuka kepada Daniel Mutaqien.
Dia menilai Daniel memiliki legitimasi historis dan kemampuan kepemimpinan yang relevan dengan kebutuhan politik saat ini.
BACA JUGA: DLH Karawang Uji Sampel Air Sungai di Ciampel, Dugaan Pencemaran Limbah Pabrik Diselidiki
“Dalam pandangan kami di Satkar Ulama, memimpin Jawa Barat memerlukan kombinasi antara kecerdasan (fathanah) dan keterhubungan dengan sejarah perjuangan para pendahulu. Kang Daniel memiliki nasab perjuangan yang jelas dari almarhum Irianto MS Syafiuddin dan Anna Sophanah,” ujar Sahrul dalam keterangannya.
Menurutnya, Daniel dinilai mampu menjaga marwah partai sekaligus menjembatani aspirasi masyarakat, termasuk kalangan ulama, melalui pendekatan komunikasi yang santun tetapi tegas.
BACA JUGA: Hari Terakhir Libur Lebaran, Arus Balik Kendaraan ke Jakarta Meroket
Tiga Pilar Dukungan
Dukungan terhadap Daniel Mutaqien disebut bertumpu pada tiga pilar utama, yakni energi muda, rekam jejak yang teruji, serta latar belakang keluarga politik yang kuat atau “nasab perjuangan”.
Secara politik, Daniel dinilai memiliki pengalaman organisasi dan parlemen yang memadai. Hal ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat posisinya sebagai kandidat potensial dalam kontestasi internal partai.
Tinjauan Teoretis Kepemimpinan
Sejumlah analisis menyebutkan bahwa kemunculan Daniel Mutaqien dapat dipahami melalui berbagai pendekatan teori kepemimpinan modern.
Dalam perspektif teori modal sosial dari Pierre Bourdieu, latar belakang keluarga politik dianggap sebagai bentuk “modal sosial warisan” yang mencerminkan nilai, jaringan, dan legitimasi di mata publik.
Sementara itu, teori kepemimpinan adaptif yang dikembangkan Ronald Heifetz menekankan pentingnya kemampuan pemimpin dalam merespons perubahan sosial, termasuk dinamika pemilih muda dan perkembangan digital.
Daniel dinilai memiliki fleksibilitas untuk menjawab tantangan tersebut.
Adapun dalam teori sirkulasi elit oleh Vilfredo Pareto, regenerasi kepemimpinan dipandang sebagai elemen penting dalam menjaga keberlanjutan dan daya saing organisasi politik.
Harapan Regenerasi
Sahrul menegaskan bahwa kepemimpinan Daniel Mutaqien merupakan bagian dari proses regenerasi yang dinilai penting bagi keberlanjutan Partai Golkar di Jawa Barat.
“Kepemimpinan Daniel adalah titik temu antara tradisi dan modernitas. Ia bukan sekadar penerus, tetapi juga figur yang memiliki kapasitas untuk membawa partai tetap relevan di tengah perubahan zaman,” katanya.
Hingga saat ini, dinamika internal terkait pemilihan kepemimpinan di tubuh DPD Partai Golkar Jawa Barat masih terus berkembang.
Namun demikian, dukungan dari berbagai elemen organisasi disebut menjadi indikator penting dalam menentukan arah kepemimpinan ke depan. (mar7/jpnn)
Redaktur & Reporter : Yogi Faisal (mar7)




