Bisnis.com, JAKARTA — Mata uang rupiah diproyeksi masih akan mengalami pelemahan pada pekan depan. Rupiah bahkan diproyeksi dapat menyentuh level Rp17.100 pekan depan.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan rupiah kemungkinan besar akan terus mengalami pelemahan pekan depan.
“Range rupiah dalam satu minggu ke depan adalah Rp16.880-Rp17.100 per dolar AS,” kata Ibrahim, Minggu (29/3/2026).
Sementara itu, lanjutnya, indeks dolar dalam minggu depan diperkirakan masih akan diperdagangkan di rentang 99.300 sampai 101.600.
Ibrahim melihat terdapat kecenderungan indeks dolar masih akan menguat pada pekan depan.
Sejumlah sentimen bagi pergerakan mata uang dan komoditas pekan depan menurutnya akan datang dari kondisi geopolitik di Timur Tengah yang masih memanas, terutama mengenai pembatasan transportasi di Selat Hormuz.
Baca Juga
- Nilai Tukar Rupiah Hari Ini (27/3) Ditutup ke Level Rp16.979
- Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Jumat 27 Maret 2026
- Rupiah Dibuka Melemah, Cek Kurs di Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BCA Hari Ini
Selain itu, terdapat sentimen mengenai penyerangan yang ditunda AS selama 7 hari terhadap pulau-pulau di Selat Hormuz.
“Perang pun juga masih terus terjadi dan wilayah-wilayah basis Amerika yang ada di Timur Tengah, yaitu di Irak, di Uni Emirat Arab, di Arab Saudi, itu pun juga dibombardir,” tuturnya.
Selain itu, Ibrahim juga melihat strategi Iran untuk menyerang Israel, dengan Israel yang juga terus melakukan penyerangan.
Di sisi lain, perdamaian yang diprakarsai oleh Pakistan juga hanya sepihak.
“Iran tetap menginginkan perjanjian yang menguntungkan bagi Iran sendiri karena Iran merasa diserang terlebih dulu oleh Israel dan Amerika, yang akhirnya membuat pemimpin ulama Syiah dan pejabat-pejabat lainnya terbunuh,” kata dia.
Di sisi lain, Ibrahim memperkirakan Kevin Warsh akan menjabat sebagai Ketua The Fed selanjutnya pada April ini, dengan arah kebijakan yang kemungkinan baru akan diumumkan pada Mei.
Ibrahim memperkirakan Federal Reserve (The Fed) di bawah Warsh akan mengikuti langkah Trump untuk menurunkan suku bunga.
“Saya optimistis meskipun inflasi tinggi, kemungkinan besar bank sentral AS akan menurunkan suku bunga di bawah kepemimpinan Kevin Warsh,” ucapnya.
Lebih lanjut, Ibrahim juga menyebut saat ini Amerika Serikat tengah memasuki masa pemilu sela, dengan Partai Demokrat yang kemungkinan akan memenangkan pemilu ini.
Apabila hal ini terjadi, maka kepemimpinan Trump kemungkinan besar akan diuji, sehingga bisa saja terjadi pemakzulan seperti pada periode pertama Trump sebagai Presiden AS.





