Eretan Sungai Cisadane Masih Jadi Pilihan Warga di Tengah Modernisasi Transportasi

kompas.com
11 jam lalu
Cover Berita

BOGOR, KOMPAS.com - Transportasi yang memudahkan perjalanan setiap warga selalu berkembang mengikuti arus perkembangan zaman. Mulai dari penggunaan hewan seperti kuda yang tergantikan oleh motor maupun mobil.

Moda transportasi juga dapat menghubungkan jarak tempuh dengan waktu yang singkat, seperti penggunaan pesawat melalui jalur udara dan kapal yang melalui jalur air.

Di Kota Bogor, tepatnya di Kampung Cibalagung terdapat eretan yang menghubungkan dua wilayah berbeda yakni Kelurahan Panaragan dan Kelurahan Pasir Jaya.

Seperti saung di tengah aliran Sungai Cisadane, eretan yang beralaskan lima ban dalam dan pijakan dari triplek, pada bagian badan eretan tertutup pelat yang dicat berwarna putih dan pada bagian atap menggunakan seng agar penumpang tidak merasakan panas terik secara langsung.

Baca juga: Kerap Picu Macet di Cawang, Pemkot Jaktim Tegur Tempat Usaha yang Gunakan Bahu Jalan

Selain itu, terdapat seutas tambang yang memanjang mulai dari Kelurahan Panaragan sampai Kelurahan Pasir Jaya.

Tambang tersebut digunakan untuk menjalankan eretan dengan cara menariknya.

KOMPAS.com/REGI PRATASYAH VASUDEWA Pengerek eretan di aliran Sungai Cisadane, Kota Bogor, Supandi Rahman saat ditemui Kompas.com, pada Minggu (29/3/2026).

Warga dapat menyeberang antara wilayah Kelurahan Pasir Jaya dengan Kelurahan Panaragan mulai dari pukul 06.00 sampai 17.00 WIB. Waktu tersebut dapat berubah apabila aliran pasang terjadi di Sungai Cisadane.

Pengemudi eretan, Supandi Rahman (50) mengatakan, sebagai generasi ketiga melanjutkan penarikan eretan yang dimulai oleh Kakeknya Mad Karhi sejak tahun 1960-an dan Ayahnya Maman Suparman.

Supandi mengungkapkan, ingin berbakti untuk meneruskan usaha jasa milik orangtuanya dengan cara mengerti kondisi orangtua yang sudah masuk masa rentan.

"Kitanya aja ngerti, orangtua sudah tua, masa dibiarin ke sini kita enak-enak nonton TV. Emang udah kesadaran, namanya orangtua mah sudah tua istirahat aja," ungkap Supandi saat ditemui Kompas.com di Cibalagung, Minggu (29/3/2026).

Baca juga: Pramono Berterima Kasih Kasus Truk DLH Buang Sampah ke Sungai Viral

Meski sudah ada Supandi, Maman disebut masih memiliki rasa ranggung jawab seperti tetap mengawasi air aliran Sungai Cisadane.

Apabila aliran air menjadi pasang, Maman akan menginstruksikan Supandi untuk berhenti menawarkan jasa eretan.

"Orangtua masih punya rasa tanggung jawab soal ini, tetep ikut andil tetep stand by air gede atau kecil tetep stand by karena penghasilan orang tua saya dari sini," tutur dia.

Awalnya, eretan terbuat dari bambu yang disusun rapi untuk mengangkut pasir dan menyeberangkan warga yang ingin pergi ke sawah.

"Buat cucurak, buat babacakan, buat ngangkut orang, pasir. Dulu sawah, bikin dari bambu lama kelamaan mau dibikin perumahan, dibikinlah dibagusin lah direnovasi jadi berbentuk gini sama kakek saya sama orang tua saya," kata Supandi.

Ia melanjutkan, sudah empat kali berganti eretan karena terbawa hanyut dan perlu melakukan renovasi alat penyeberangan tersebut agar lebih aman.

Kini, eretan terfokuskan untuk menyeberangkan warga yang memang ingin lebih praktis menuju Alun-alun Kota Bogor dibanding untuk memutar menggunakan angkutan kota (angkot) dengan biaya Rp 2.000 untuk tiap penumpangnya.

Epeng sapaan akrabnya, menambahkan meski memiliki biaya jasa yang dipatok tidak menutup kemungkinan bagi penumpang membayar seadanya.

Baca juga: Sungai Cisadane Pulih Usai Tercemar Pestisida, Bau Hilang dan Warga Kembali Mancing

Dirinya menambahkan, penumpang yang menggunakan jasa eretan seperti pembantu rumah tangga hingga anak sekolah yang berasal dari Kelurahan Pasir Jaya.

"Cuman dua ribu ongkosnya satu orang itu juga kalau emang adanya berapa kita terima, yang penting silakan aja enggak difokusin Rp 2.000, 'saya ada seribu', ya sudah seberangkan saja," ujarnya.

"Biasanya yang naik pembantu rumah tangga, anak sekolah yang di SMPN 7, SMAN 9, sama SMAN 1. Jadi dari Kampung Cibalagung campur dari perumahan atau dari perkampungannya," lanjut dia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Namun, lanjut Epeng, pengguna jasa eretan menurun karena mulai beralih menggunakan jasa ojek online (ojol) yang dapat mengantar penumpang sampai tempat tujuan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
​​​​Teknologi PHEV Mampu Pangkas Biaya Bensin hingga 50%, Ini Perhitungannya!
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Diskominfo Sultra Gencar Edukasi Larangan Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun ke Sekolah
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Bung Karno Menyamar sebagai Orang Biasa di Pasar Senen hingga Menyatu dengan Rakyat Jelata
• 13 jam laluokezone.com
thumb
Buka Muscab PKB Tulungagung, Kang Cucun Wanti-wanti Ancaman Global
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
John Herdman Pastikan Fisik Skuad Garuda dalam Kondisi Prima Jelang Lawan Bulgaria BERUT
• 18 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.