Bisnis.com, MAKASSAR — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meluapkan keresahannya terkait pemberitaan publik mengenai kebijakan ekspor-impor beras nasional.
Dia menilai terdapat ketimpangan narasi yang tajam antara sentimen negatif terhadap rencana impor dengan apresiasi capaian ekspor yang telah dilakukan pemerintah.
Kritik tajam Amran tertuju pada rencana impor 1.000 ton beras khusus yang diributkan belum lama ini, yang menurutnya sangat tidak signifikan dibandingkan total kebutuhan nasional.
Dia merinci bahwa 1.000 ton tersebut diklaim hanya setara 0,0003% dari total kebutuhan. Sementara stok di gudang saat ini jauh lebih banyak sekitar 4 juta ton.
Selain itu Indonesia juga dianggap telah berhasil swasembada bahkan melakukan ekspor. Tercatat sebanyak 2.000 ton telah dikirim ke Arab Saudi dan 10.000 ton ke Palestina.
"Kita baru ancang-ancang impor 1.000 ton, itu pun belum pasti dan untuk beras khusus keperluan wisatawan, ributnya se-Indonesia. Tapi saat kita ekspor 2.200 ton ke Arab dan 10.000 ton ke Palestina, tidak ada beritanya," keluh Amran saat memberi sambutan pada pembukaan Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI 2026 di Makassar, Kamis (26/3/2026).
Baca Juga
- Harga Beras Terancam Naik Imbas Potensi El Nino Godzilla pada 2026
- Bahas BBM, LPG dan Pangan, Prabowo Panggil Bahlil hingga Amran ke Hambalang
Mentan pun mengungkapkan bahwa posisi Indonesia saat ini memang menjadi incaran negara-negara produsen beras yang tengah mengalami surplus dan penurunan harga domestik.
Saat mendampingi Presiden ke beberapa negara seperti Yordania, Turki, Malaysia, hingga Rusia, dia menyebut banyak pemimpin negara yang melobi agar Indonesia kembali membuka keran impor.
Hal tersebut seiring kondisi di pasar global sedang mengalami tekanan harga yang signifikan. Sebagai contoh, harga beras di Thailand yang anjlok ke level Rp5.700 per kilogram dari sebelumnya Rp11.000 per kilogram.
Kondisi ini, menurutnya, sangat memukul nasib petani di negara tetangga, sementara Indonesia berupaya menjaga stabilitas harga di tingkat petani domestik.
"Saya bilang, Pak Presiden, 1 liter dengan 1 juta ton itu sama saja tekanan politiknya di Indonesia," ujar Amran.
Pada kesempatan tersebut, Amran mengklarifikasi bahwa rencana impor yang sempat mencuat sebenarnya menyasar beras khusus.
Beras ini diperuntukkan bagi segmen tertentu, seperti warga negara asing atau ekspatriat yang menetap di Indonesia, sehingga tidak bersinggungan langsung dengan pasar beras medium yang dikonsumsi masyarakat luas.
Oleh sebab itu dia berharap publik lebih proporsional dalam melihat data pangan. Di tengah surplus stok gudang yang mencapai 4 juta ton, keberhasilan menembus pasar ekspor di Timur Tengah seharusnya menjadi sinyal positif bagi penguatan kedaulatan pangan nasional.





