Jika Harga BBM dan Barang Naik, Warga Bisa Apa?

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita
Puspita Anggraeni (29), ibu rumah tangga di Kota Blitar, Jawa Timur

Sebetulnya, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan sehari-hari itu sudah sering kita rasakan. Jadi bukan hal baru lagi untuk ibu-ibu saat ini. Setiap kenaikan harga, kami pasti juga akan menyesuaikan dengan kebutuhan.

Sejauh ini, saya belum mempertimbangkan untuk menukar anggaran dengan pos-pos anggaran lainnya sebab sebagian besar kebutuhan yang terdampak itu kebutuhan dasar. Selama kenaikan harga barang tidak terlalu drastis, sepertinya masih aman untuk menggunakan anggaran yang sama.

Untuk kebutuhan primer, aspek dan nominal anggarannya tidak akan banyak berubah karena setiap hari digunakan. Berbeda dengan sekunder dan tersier yang pasti akan dikurangi, bahkan bisa ditiadakan. Contohnya, selama ini anak diberi jatah jajan harian Rp 15.000, maka dihemat menjadi Rp 10.000. Jika tersier, anak bisa sebulan sekali ke taman bermain (playground), maka kini cari alternatif lain dengan bermain ke Ruang Publik Terpadu Ramah Anak.

Saya berharap pemerintah segera menemukan kebijakan terbaik, supaya imbas perang di Timur Tengah ini tidak terlalu lama merugikan masyarakat.

Yulia Astutik, warga asal Palembang, Sumatera Selatan

Sebaiknya para pejabat juga ikut naik transportasi umum, bukan hanya warga yang terus didorong. Apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta, koda transportasi banyak. Mengapa hanya masyarakat biasa saja yang dihimbau untuk naik transportasi umum, dari dulu harusnya pejabat juga terbiasa naik transportasi umum.

Tidak perlu dikawal patwal, kecuali presiden dan wakil presiden. Kalau anggota legislatif yang wakil rakyat semestinya memakai transportasi umum agar ikut menghemat bahan bakar minyak (BBM).

Selain menghemat BBM, mereka bisa jadi contoh bagus untuk warga lainnya juga untuk berpindah ke transportasi umum dan mengurangi polusi. Tidak hanya bagus untuk kondisi saat ini yang mana pasokan BBM terganggu tetapi juga bagus ke depan.

Saya pribadi sudah biasa naik transportasi umum ke mana-mana, termasuk bekerja dan belanja. Kecuali, kondisi liburan tertentu yang memang mengharuskan naik kendaraan pribadi.

Dedi Effriyanto, warga Yogyakarta

Kalau harga-harga nanti naik, termasuk harga BBM, sudah pasti pengeluaran keluarga nambah. Sementara penghasilan sudah pasti tidak nambah.

Jadi kalau nanti harga-harga naik, ya saya akan cari mana pengeluaran yang masih bisa dihemat karena pengeluaran keluarga selama ini juga sudah termasuk tidak aneh-aneh. Tapi mau tidak mau, kalau harga-harga naik, ya pengeluaran mesti harus lebih hemat.

Kalau ada waktu longgar, saya kadang ngojek. Lumayan untuk cari tambahan. Barangkali nanti, misal ada kenaikan harga (termasuk harga BBM), saya tidak akan banyak muter waktu cari penumpang. Akan lebih hemat kalau saya stand by di satu tempat strategis sampai dapat order.   

Resdi Mulyadi (33), warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat

Sejak Menteri ESDM Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan cadangan energi di Indonesia sisa 20 hari, warga di Pontianak khawatir karena mulai harus antre panjang untuk mendapatkan BBM di SPBU.

Puncak antrean di SPBU itu terjadi H-1 Lebaran hingga H+3 Lebaran. Seluruh SPBU di Pontianak dipenuhi antrean sangat panjang. Orang-orang sejak sebelum SPBU buka sudah mengantre.

Antrean bisa sampai empat dan enam jam lebih untuk bisa isi bahan bakar. Situasi antrean kacau sekali karena antrean dari dua arah dan panjang. Sempat keos, kelahi, hingga ada yang membawa parang (senjata tajam). Parah kondisinya, gara-gara kepanikan warga dan distribusi minyak ke SPBU yang tersendat.

Antrean panjang itu mulai mereda ketika sudah masuk H+4 Lebaran. Sekarang kondisinya sudah aman, sudah normal kembali.

Dari kondisi yang terjadi ini bisa terbayang ke depan bagaimana jika pemerintah menaikan harga minyak dan gas karena situasi konflik di Timur Tengah tidak mereda. Warga pasti akan kembali menyerbu SPBU dan khawatirnya akan keos lagi. Takutnya kalau harga naik dan langka minyak dan gas kita ini warga jadi panik karena pasti jadi rebutan.

Kekhawatiran lainnya dari kenaikan harga minyak dan gas pasti akan membuat barang-barang lainnya akan ikut naik. Nah, ini pasti akan memukul sekali. Apa lagi saya buka usaha warung makan. Kelasnya masih UMKM, ada 30 kursi.

Sebagai warga dan pelaku usaha kecil, kenaikan harga pasti sangat memukul. Saya harus menghitung ulang bagaimanan selisih utung dan ruginya. Bisa jadi, karena harga kebutuhan pokok yang naik, harga makanan dan minuman di warung ikut dinaikan juga.

Saya belum membayangkan lebih jauh nanti seperti apa jika harga gas dan minyak naik atau terjadi kelangkaan. Yang pasti untuk kebutuhan primer, rasanya sulit untuk ditekan. Misalnya kayak kebutuhan pokok rumah tangga. lalu, kesehatan itu penting, primer. Apalagi saat ini istri lagi hamil jadi faktor konsumsi dan ke dokter tetap prioritas.

Memang akhirnya mau tak mau ya harus lebih berhemat, beli pakaian nanti dulu karena bukan primer. Jalan-jalan ditunda dulu, keluar hanya saat penting banget.

Jajan atau belanja yang prioritas saja. Dan saya kepikiran untuk membeli kendaraan listrik, mungkin motor listrik dulu untuk mobilitas harian. Kalau harga minyak sudah naik, rasanya akan berat kalau pakai kendaraan konvesional. Bisa semakin membengkak pengeluaran.

Mulai sekarang, bahkan harusnya jauh hari sebenarnya yaitu menabung. Nah, ini harus semakin giat dan ketat lagi.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bung Karno Menyamar sebagai Orang Biasa di Pasar Senen hingga Menyatu dengan Rakyat Jelata
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian di Tengah Perang Israel dan Lebanon
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Tiga Prajurit TNI Turut Terluka dalam Serangan Israel di Markas UNIFIL
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Setelah Tolak Chelsea, Fermin juga Tolak MU demi Bertahan di Barca
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Pemimpin Oposisi Taiwan Terima Undangan Xi Jinping untuk Kunjungi Tiongkok
• 3 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.