Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Pengamat: Posisi Indonesia Dilematis

kompas.com
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengatakan Indonesia berada pada posisi tak mudah terkait kapal Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz, Iran. 

“Dalam konteks ini, Indonesia berada dalam posisi yang dilematis,” kata Hikmahanto saat dihubungi Kompas.com, Minggu (29/3/026).

Di satu sisi, Indonesia ingin kapal tankernya dapat melintas di Selat Hormuz demi kepentingan nasional.

Namun di sisi lain, langkah tersebut berisiko membuat Indonesia dianggap berpihak dan dipersepsikan sebagai lawan oleh Amerika Serikat.

Baca juga: Hasto: PDIP Siap Bantu agar 2 Tanker Pertamina Dapat Lintasi Selat Hormuz

“(Tapi) kan sudah diberi lampu hijau (oleh Iran), tinggal masalah teknis saja kok,” tegas dia.

Dalam konteks ini, ia menjelaskan bahwa Iran secara efektif mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Kapal tanker dari sejumlah negara masih diizinkan melintas tanpa gangguan.

Iran mengelompokkan negara menjadi “hostile states” (negara musuh) dan “non-hostile states” (bukan musuh) untuk menentukan kapal mana yang boleh melintas.

Sejumlah negara yang diizinkan melintas antara lain Rusia, China, Pakistan, India, Thailand, Malaysia, dan belakangan Indonesia.

Sementara Turki mendapat akses terbatas.

“Bukannya tidak mungkin jumlah negara yang hendak bernegosiasi dengan Iran akan bertambah,” jelas dia.

Baca juga: Dua Kapal Pertamina Tertahan, RI-Iran Bahas Teknis Lintasi Selat Hormuz

Adapun negara yang dikategorikan sebagai musuh oleh Iran dan tidak mendapat akses melintas adalah Amerika Serikat, Israel, dan Inggris.

Kebijakan Iran ini berpotensi memicu ketegangan, terutama dengan pemerintahan Presiden AS, Donald Trump.

Pasalnya, Iran dinilai dapat menentukan sendiri siapa yang dianggap teman atau musuh.

Padahal, Trump sebelumnya berharap negara-negara sekutunya di NATO, serta Jepang dan Korea Selatan, ikut membantu membuka akses Selat Hormuz.

Namun, upaya tersebut mendapat respons yang kurang positif.

Untuk merespons langkah Iran, bukan tidak mungkin AS juga akan mengelompokkan negara-negara sebagai kawan atau lawan dalam konflik ini.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Repotnya bila negara yang dianggap teman oleh Iran akan dianggap musuh oleh AS,” kata dia.

Oleh karena itu, posisi Indonesia dalam kondisi itu sangat dilematis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Antam Hari Ini Anjlok Rp30 Ribu, Jadi Rp2.807.000 per Gram
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Update Harga Pangan, Cabai hingga Daging Mulai Turun di Awal Pekan 
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Menang di GP Amerika Serikat, Marco Bezzecchi Pimpin Klasemen Sementara MotoGP
• 11 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Menteri ESDM dampingi Presiden Prabowo perkuat kerja sama RI-Jepang
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Rais Aam, Gus Ipul hingga Khofifah Resmikan Gedung Gus Dur RSU Muslimat Ponorogo
• 21 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.