Harga Emas Anjlok saat Konflik di Timur Tengah Makin Panas

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas turun tajam setelah konflik Timur Tengah semakin meluas dengan keterlibatan militan Houthi dan tambahan pengerahan militer Amerika Serikat di kawasan.

Mengutip Bloomberg pada Senin (30/3/2026), harga emas di pasar spot gold terpantau turun 1,3% menjadi US$4.436,63 per ounce. Logam mulia itu bahkan sempat merosot hingga 1,7% pada awal perdagangan. 

Penurunan tersebut terjadi setelah emas sempat naik tipis pekan lalu, didorong aksi beli saat harga turun yang sempat menghentikan tren pelemahan sebelumnya.

Serangan terus berlanjut sepanjang akhir pekan saat perang memasuki bulan kedua, memicu kekhawatiran konflik akan berlangsung lebih lama. Kondisi ini dikhawatirkan mendorong bank sentral menjual cadangan emas serta menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi.

Di tengah upaya diplomasi oleh Pakistan, Mesir, Arab Saudi, dan Turki untuk mencari jalan keluar dari perang, Iran dilaporkan menyerang pabrik peleburan aluminium di Bahrain dan Uni Emirat Arab. Sementara itu, sejumlah wilayah di Teheran mengalami pemadaman listrik setelah serangan rudal.

Keterlibatan militan Houthi dari Yaman juga meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur pelayaran di Laut Merah. Pada saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran telah memberikan sebagian besar tuntutan Washington untuk mengakhiri pertempuran.

Baca Juga

  • Harga Emas Antam Sentuh Level Termurah Sejak Januari, Dibanderol Rp2,80 Juta per Gram
  • Harga Emas UBS & Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini Senin 30 Maret 2026
  • Harga Emas Perhiasan Hari Ini 30 Maret Stagnan di Harga Rp2,263 Juta per Gram

Sejak perang dimulai, harga emas telah turun lebih dari 15% dan kehilangan sebagian besar daya tariknya sebagai aset lindung nilai. Pergerakan emas kini cenderung searah dengan saham dan berlawanan arah dengan harga minyak.

Harga minyak mentah kembali naik pada Senin karena konflik yang semakin meluas mengancam stabilitas pasar energi yang sebelumnya sudah terguncang akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz.

“Emas masih berpotensi rentan dalam jangka pendek,” ujar Alexandre Carrier, manajer portofolio di DNCA Invest Strategic Resources Fund. 

Dia menyoroti risiko meningkatnya aksi jual oleh bank sentral serta likuidasi posisi oleh investor.

Selama beberapa tahun terakhir, pembelian oleh bank sentral menjadi salah satu pendorong utama reli harga emas. Namun, bank sentral Turki mengambil langkah berbeda pada 2 pekan pertama perang dengan menjual dan menukar sekitar 60 ton emas senilai lebih dari US$8 miliar.

Banyak negara yang mengakumulasi emas juga merupakan importir energi. Kenaikan harga minyak membuat lebih sedikit dolar AS yang tersedia untuk dialihkan ke pembelian emas.

Selain itu, lonjakan harga energi juga memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve AS dan bank sentral lain akan mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya. Kondisi tersebut menjadi tekanan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jelang Vs Timnas Indonesia di Final FIFA Series 2026, Aleksandar Dimitrov Sebut Skuad Bulgaria Belum Sepenuhnya Adaptasi dengan Cuaca Panas
• 20 jam lalubola.com
thumb
Iran Ancam Serang Fasilitas Pendidikan AS dan Israel, Ada Syaratnya jika Tak Ingin Itu Terjadi
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Bentrokan Demo “No Kings” di Los Angeles, Polisi Tembakkan Gas Air Mata ke Massa
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Daftar Libur April 2026, Apakah Ada Cuti Bersama?
• 1 jam laludetik.com
thumb
Pedoman Baru Pemanfaatan AI untuk Pendidikan
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.