Liputan6.com, Jakarta - Kesehatan mental anak Indonesia kini berada dalam kondisi yang patut menjadi perhatian serius. Data terbaru yang dirilis Kementerian Kesehatan pada Maret 2026 melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan bahwa satu dari sepuluh anak Indonesia menghadapi indikasi masalah kesehatan jiwa. Program skrining terbesar yang pernah dilakukan pemerintah ini memeriksa sekitar tujuh juta anak berusia 7–17 tahun dan menemukan hampir 10 persen diantaranya mengalami gejala gangguan psikologis.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Dari hasil pemeriksaan tersebut, 363.326 anak (4,8 persen) menunjukkan gejala depresi, sementara 338.316 anak(4,4 persen) mengalami gejala kecemasan. Lebih mengkhawatirkan lagi, prevalensi ini tercatat lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia. Artinya, kelompok usia yang seharusnya berada pada fase pertumbuhan justru menghadapi beban psikologis yang paling berat.
Advertisement
Temuan ini memperlihatkan bahwa krisis kesehatan mental anak bukan lagi isu pinggiran, melainkan persoalan serius yang membutuhkan respons kebijakan yang terstruktur.
Tren Mengkhawatirkan di Kalangan RemajaKondisi ini semakin diperkuat oleh data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) yang menunjukkan tren peningkatan ide bunuh diri di kalangan pelajar. Pada tahun 2015, sekitar 5,4 persen siswa pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Angka tersebut meningkat menjadi 8,5 persen pada 2023, atau sekitar 1,6 kali lipat dalam delapan tahun.
Yang lebih mengkhawatirkan, persentase siswa yang benar-benar mencoba mengakhiri hidup meningkat jauh lebih tajam. Dari 3,9 persen pada 2015, angka tersebut melonjak menjadi 10,7 persen pada 2023, hampir tiga kali lipat dalam kurun waktu yang sama.
Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2023–2025 menunjukkan bahwa kelompok usia 11–17 tahun menjadi rentang usia paling dominan dalam kasus bunuh diri pada anak. Rentang usia ini juga merupakan fase ketika banyak anak mulai aktif menggunakan media sosial secara intensif, sering kali tanpa kesiapan emosional yang memadai.
Akar Masalah dari Lingkungan TerdekatBerbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor pemicu krisis kesehatan mental anak sering kali berasal dari lingkungan terdekat mereka. Data dari Healing119.id (2025) dan laporan KPAI (2024–2025) mengidentifikasi sejumlah faktor utama.
Konflik keluarga dan pola pengasuhan yang tidak sehat menjadi faktor terbesar dengan kontribusi sekitar 24–46 persen. Diikuti oleh perundungan atau bullying sebesar 14–18 persen, masalah psikologis individu 8–26 persen, serta tekanan akademik sekitar 7–16 persen.
Di era digital, faktor-faktor tersebut tidak lagi terbatas pada ruang fisik seperti rumah dan sekolah. Media sosial memperluas dan mempercepat dampaknya. Perundungan Dapat berlangsung tanpa batas waktu melalui cyberbullying, tekanan sosial muncul melalui perbandingan gaya hidup di dunia maya, sementara algoritma media sosial mendorong konsumsi konten secara terus-menerus tanpa jeda.
Fenomena seperti fear of missing out (FOMO), kecemasan sosial, hingga gangguan pola tidur akibat paparan layar pada malam hari menjadi faktor tambahan yang memperburuk kondisi psikologis anak. Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya bahkan mencatat peningkatan kasus pada anak di bawah usia 18 tahun yang berkaitan dengan paparan pornografi dan kecanduan game online dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana ekosistem digital yang tidak dirancang untuk anak dapat memicu dampak psikologis yang serius.




