Aksi besar bertajuk "No Kings" tidak hanya mengguncang Amerika Serikat, tetapi juga meluas ke berbagai kota di Eropa, menandai berkembangnya tekanan global terhadap Presiden Donald Trump.
Selain digelar di lebih dari 3.200 titik di seluruh AS, demonstrasi juga berlangsung di kota-kota seperti London, Paris, dan Roma dalam waktu yang hampir bersamaan pada Sabtu (28/3), seperti dilansir Euronews.
Gelombang protes ini dipicu oleh kemarahan terhadap kebijakan Trump, termasuk perang dengan Iran, kebijakan imigrasi, serta kekhawatiran atas arah demokrasi di AS.
Di Eropa, ribuan orang turun ke jalan di berbagai kota seperti Amsterdam, Madrid, dan Roma, dengan sekitar 20 ribu orang dilaporkan ikut berunjuk rasa di bawah pengamanan ketat aparat.
Di Roma, demonstran tak hanya mengecam serangan AS dan Israel terhadap Iran, tetapi juga mengkritik Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, yang pemerintahannya baru saja gagal meloloskan referendum reformasi sistem peradilan di tengah kritik terhadap independensi lembaga hukum.
Sementara itu di London, massa menggelar aksi menentang perang di Iran dengan membawa berbagai spanduk bertuliskan “Hentikan Ekstremis Sayap Kanan” dan “Lawan Rasisme”.
Di Paris, ratusan imigran AS bersama serikat pekerja dan organisasi HAM berkumpul di Bastille.
“Saya menentang semua perang tanpa akhir Trump yang ilegal, tidak bermoral, sembrono, dan tak bertanggung jawab,” jelas Ada Shen, salah satu penyelenggara aksi di Paris kepada Euronews.
Menurut ABC News, demonstrasi digelar di lebih dari 12 negara, termasuk Amerika Latin hingga Australia, dengan sejumlah negara bermonarki bahkan menyebut aksi ini sebagai “No Tyrants”, sebagai bentuk penolakan terhadap kepemimpinan tirani yang dinilai otoriter.
Protes di berbagai negara juga diwarnai seruan anti-perang di tengah meningkatnya ketegangan global.
Skala aksi lintas negara ini menunjukkan bahwa gerakan “No Kings” telah berkembang menjadi salah satu oposisi paling terlihat terhadap Trump sejak ia memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.





