Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Pemerintah Targetkan Penggantian BBM Impor Melalui Pengembangan E20 dan B50
Pemerintah Indonesia mulai mengakselerasi pengembangan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Kebijakan ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto guna menekan ketergantungan pada impor energi.
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menyatakan bahwa penguatan sektor ini menjadi prioritas utama untuk mencapai swasembada energi.
"Ini adalah hasil tindak lanjut dari arahan Bapak Presiden pada saat kita rapat minggu lalu," ujar Amran dalam konferensi pers di Jakarta, Senin 30 Maret 2026.
Transformasi E20 dan Pemanfaatan Komoditas Lokal
Fokus utama pemerintah saat ini adalah pengembangan E20, sebuah inovasi bahan bakar hasil pencampuran bensin dengan 20 persen etanol. Bahan baku utama etanol tersebut akan mengoptimalkan hasil pertanian domestik seperti jagung, tebu, dan ubi kayu.
Amran memproyeksikan bahwa kehadiran E20 ke depannya mampu mensubstitusi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) konvensional yang selama ini beredar di pasar, seperti Pertalite dan Pertamax.
Terkait ketersediaan bahan baku, pemerintah berencana mengalihkan alokasi ekspor komoditas tertentu untuk kebutuhan dalam negeri. Salah satunya adalah pemanfaatan satu juta ton molase atau tetes tebu yang berpotensi menghasilkan sekitar 300 ribu ton etanol.
Target Penghentian Impor Solar
Selain sektor etanol, pemerintah juga mempertegas komitmen pada program biodiesel berbasis minyak sawit. Target implementasi B50 (campuran 50 persen biodiesel) diharapkan menjadi solusi permanen untuk menghentikan impor solar sepenuhnya.
"Janji Bapak Presiden bahwa kita menyetop impor solar digantikan oleh biofuel sawit B50. Itu 5,3 juta ton. Tahun ini kita targetkan selesai," tegas Amran.
Meski situasi geopolitik dunia, termasuk konflik di Timur Tengah, memberikan tekanan pada ekonomi global, pemerintah memandangnya sebagai momentum untuk mempercepat kemandirian nasional.
Implementasi dan Keberlanjutan
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menambahkan bahwa upaya pengurangan beban impor energi sebenarnya telah direncanakan secara matang,
Bahkan sebelum eskalasi konflik global meningkat. Ia mencontohkan keberhasilan program B40 yang telah berkontribusi signifikan terhadap pengurangan volume impor solar.
"Insyaallah, kemandirian swasembada energi ini bukan lagi sekadar slogan, melainkan sesuatu yang sedang kita wujudkan secara nyata," tutur Sudaryono.
Langkah ini menandai pergeseran strategis Indonesia dalam mengelola sumber daya alamnya, beralih dari eksportir bahan mentah menjadi produsen energi terbarukan yang mandiri secara ekonomi dan politik.
Editor: Redaksi TVRINews





