Minuman manis memang jadi favorit banyak orang. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, sulit rasanya menolak segelas es teh manis, boba, atau kopi kekinian yang menggoda, bukan? Apalagi, kini pilihan minuman berpemanis semakin mudah ditemukan di mana saja.
Namun di balik rasanya yang nikmat, konsumsi gula, terutama dari minuman manis, perlu diperhatikan. Sebab, asupan gula berlebih bisa meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti obesitas hingga diabetes.
Dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr. Zuraidah Nasution, mengingatkan bahwa ada batas aman konsumsi gula yang sebaiknya tidak dilampaui setiap hari.
“Batas asupan gula yang dianjurkan per hari adalah sekitar 10 persen dari kebutuhan energi harian. Jika rata-rata kebutuhan energi 2.000 kilokalori, maka sekitar 50 gram gula atau setara empat sendok makan,” katanya dalam program IPB Podcast di kanal YouTube IPB TV seperti dikutip dari laman IPB University, Senin (30/3).
Menurut Zuraidah, konsumsi minuman berpemanis atau sugar sweetened beverages (SSB) di Indonesia terus meningkat dalam dua dekade terakhir. Bahkan, Indonesia sempat menjadi salah satu negara dengan konsumsi minuman manis tertinggi di Asia.
Yang mengejutkan, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa konsumsi gula dari minuman saja bisa mencapai sekitar 50 persen dari batas harian yang dianjurkan. “Bayangkan, 50 persen itu hanya dari minuman saja. Belum dari makanan atau produk olahan lainnya yang juga mengandung gula tambahan,” tambah dia.
Kondisi ini juga tak lepas dari makin banyaknya pilihan minuman kekinian yang cenderung tinggi gula, yang sering kali tidak mencantumkan informasi kadar gula secara jelas.
Menurut Zuraidah, kebiasaan mengonsumsi minuman manis memang terbentuk sejak usia anak-anak dan terbawa hingga dewasa. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mulai mengontrol pola konsumsi di rumah. Selain itu, ia juga menyarankan agar orang tua mulai membiasakan anak-anak membaca label kandungan gula pada kemasan.
“Secara sederhana, kita bisa mengurangi kemungkinan anak menjadi ketergantungan pada minuman berpemanis. Misalnya dengan tidak menyetok minuman manis di rumah atau mengajak anak memilih minuman dengan kandungan gula yang lebih rendah,” jelasnya.
Meski begitu, bukan berarti minuman manis harus dihindari sepenuhnya. Kuncinya adalah mengatur konsumsi dengan bijak. “Batasi jumlahnya, perhatikan total gula yang dikonsumsi dalam sehari, dan imbangi dengan pola hidup sehat seperti konsumsi sayur dan buah, aktivitas fisik, serta istirahat yang cukup,” tutup dia.





