Harapan dan Kecemasan Warga Bantaran Rel Senen Seusai Kunjungan Presiden Prabowo

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Warga yang tinggal di pinggir rel kereta api di Senen, Jakarta Pusat, sempat menyambut gembira kedatangan Presiden Prabowo Subianto. Seumur-umur, sebagian besar warga di sana tak pernah berhadapan langsung dengan orang nomor satu di Republik ini.

Sukacita bertambah ketika Presiden bakal membangun hunian untuk mereka. Warga bahkan mendapat bantuan tunai Rp 2 juta.

Akan tetapi, bahagia itu berubah jadi cemas. Muncul kabar relokasi tanpa kepastian mekanisme dan ke mana warga bakal pindah.

Chono (56) terkejut saat Prabowo muncul dari gang dekat Pasar Gaplok, Kramat, Senen. Presiden blusukan ke bantaran rel dekat Stasiun Pasar Senen itu pada Kamis (26/3/2026) sore. Ia datang bersama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Seketika suasana ramai. Warga dari bedeng di kanan-kiri rel langsung mengerubungi Presiden.

”Pak Prabowo sempat tanya, apakah bersedia pindah jika dibangun rusun. Dengan tegas, saya jawab mau,” kata Chono, mengulangi obrolannya dengan Prabowo, ketika dijumpai Senin (30/3/2026) siang.

Selain tawaran rusun, Presiden juga memberikan ”THR”. Chono menerima amplop dari anggota rombongan kepala negara. Isinya pecahan Rp 100.000 dengan total Rp 2 juta.

Maksimal Rp 500.000

Chono adalah salah satu penghuni bantaran rel. Seperti banyak warga lain, dia tinggal di gubuk dan tenda yang terbuat dari terpal dan tripleks atau tumpukan kayu dan seng.

Bangunan itu berdiri di atas lahan milik PT Kereta Api Indonesia (Persero). Di sana, warga juga menyimpan hasil memulung, seperti plastik, kardus, dan rongsokan.

Chono dan istri, misalnya, tinggal di bedeng berukuran 2 meter persegi. Alasnya terpal. Ada satu kasur busa, lemari kecil, dan ember berisi pakaian di sudut bedeng. Perabotan lainnya diletakan begitu saja di luar.

Sambungan listrik diambil dari warga sekitar dekat Pasar Gaplok. Sementara mandi, cuci, kakus di tempat umum. ”Hanya saya dan istri tinggal di gubuk karena gratis. Kalau anak-anak kos dekat sini. Biar sekolahnya terjamin,” tutur Chono.

Baca JugaBlusukan Prabowo dan Harapan Warga dari Bantaran Rel Kereta Api di Jakarta
Baca JugaAda Kehidupan di Bawah Rel Kereta di Jakarta

Ia bukan asli Jakarta. Chono adalah perantau dari Subang, Jawa Barat. Kakinya tiba di ibu kota sekitar 30 tahun lalu. Profesinya beragam, mulai dari tukang bangunan dan kini pemulung.

Pemasukannya tak tentu, rata-rata Rp 100.000 per hari. Itu sebabnya, hanya empat anaknya yang tinggal di indekos Rp 500.000 per bulan.

”Saya bersedia pindah ke rusun demi kebaikan anak dan istri. Tapi jangan mahal-mahal sewanya. Sama kayak kos saja (Rp 500.000),” ucap Chono.

Rusun baru

Terdapat puluhan bedeng di rel kereta dekat Pasar Gaplok. Sebagian penghuninya ber-KTP Jakarta. Sebagian lagi Jabar dan Jawa Tengah.

Pekerjaan mereka nyaris seragam. Pemulung, kuli bangunan, pengamen, dan serabutan.

Kuntoro (35), juga tinggal di Pasar Gaplok. Dia lahir di Kramat, Jakarta, dari ayah asli Brebes. ayah Kuntoro bekerja sebagai penjaga palang pintu kereta tidak resmi.

Kini, ayahnya sudah berpulang dan tak ada lagi palang pintu tidak resmi. Namun, Kuntoro dan keluarga melanjutkan hidup di pinggir rel. Saat Presiden datang ke sekitar tempat tinggalnya, ia jelas bahagia.

”Kami tidak sangka Pak Presiden sendiri yang datang,” ujar pemulung itu.

Tinggal tidak gratis

Akan tetapi, setelah Presiden pergi, ia justru dilanda cemas. Datang kabar, bedeng tempat tinggalnya bakal dibongkar. ”Kok, tiba-tiba bedeng mau dibongkar. Selama ini tidak ada pemberitahuan,” tambahnya.

Meski begitu, Kuntoro tidak menolak angkat kaki ke rusun yang dijanjikan Presiden. Hanya saja, warga butuh waktu untuk menyiapkan segala sesuatu. Ia berharap, unit rusun bisa jadi milik pribadi. Jika dikenai sewa, paling besar Rp 500.000 per bulan.

”Saya memulung dapat Rp 100.000 per hari. Berat kalau biaya sewa terlalu mahal,” ujar Kuntoro yang tinggal bersama anak dan istrinya di bedeng berukuran 2 meter persegi.

Meski hanya berdinding papan, tinggal di bedeng ada biayanya. Ia harus mengeluarkan Rp 25.000 per bulan untuk biaya sambungan listrik. Untuk mandi, cuci, dan kakus, Kuntoro dan anak mengandalkan kamar mandi serta sumur peninggalan orangtuanya.

”Siapa yang tidak mau tempat tinggal layak. Tapi kembali lagi, terjangkau bagi kami orang kecil,” kata Kuntoro.

Tempat layak

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya setelah blusukan menyampaikan bahwa Presiden langsung menghubungi jajaran terkait. Prabowo meminta agar didirikan hunian bagi para warga yang tinggal di pinggir rel.

Arahan tersebut, kata Teddy, akan segera ditindaklanjuti. Proses awal pembangunan hunian baru langsung berjalan tanpa menunggu waktu lama. Bahkan, tim sudah bergerak guna menyiapkan pembangunan yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal lama mereka.

”Menurut penyampaian warga, mereka sudah tinggal puluhan tahun di pinggir rel dengan hunian serta atap terbatas. Dan, Presiden ingin agar warga tersebut dapat dibuatkan tempat tinggal dan MCK yang layak untuk ditempati sesegera mungkin,” tutur Teddy.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait dan Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria kemudian meninjau lokasi untuk rusun di Jalan Kramat Raya pada Minggu (29/3/2026).

Tanah tersebut milik BUMN, tetapi hak guna bangunannya atas nama PT Angkasa Pura Indonesia. Lahannya seluas 1,6 hektar dan berjarak 2 kilometer dari tempat tinggal warga pinggir rel.

Baca JugaMimpi Mahal Rumah Murah di Jakarta
Baca JugaRumah Baru untuk Atun dari Jakarta Menjelang Hari Raya
Harga sangat murah

Maruarar, sesuai arahan Presiden, akan menyiapkan teknis dan perizinan rusun bagi warga pinggir rel. Ia juga menunggu data dari BUMN tentang lahan di kota lain, seperti Bandung, Surabaya, Semarang, Tangerang, Bogor, Medan, Pekanbaru, Makassar, dan Denpasar.

”Tanah untuk rusun ini punya BUMN. Swasta yang bantu bangun nantinya. Kemudian, diserahkan kembali kepada BUMN. Ini salah satu pola supaya sinergi terbentuk yang luar biasa,” kata Maruarar.

Dony menambahkan, pihaknya akan mengoptimalkan seluruh aset BUMN agar lebih bermanfaat bagi masyarakat. Satu di antaranya penyediaan hunian layak.

”Akan segera diputuskan dibangun rusun untuk mereka yang membutuhkan. Dan kami sedang memetakan daerah lain juga. Dibangun dengan skema yang sama,” tutur Dony.

Proyek rusun baru di Kramat, Senen itu ditargetkan mulai berjalan Mei 2026. Waktu pengerjaannya selama delapan bulan.

Dony belum memastikan status unit rusun. BUMN akan mengaturnya sesuai dengan kondisi di lapangan. ”Nanti dilihat strukturnya, tapi kemungkinan besar adalah sewa dengan sangat murah,” ujar Dony.

Warga bantaran rel menantikan janji itu terealisasi. Sudah lama mereka ingin hidup layak, jauh dari temapt tinggal sempit di antara deru kereta api.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kepala Desa Cilangkahan Temui Bonnie Triyana, 20 Tahun Perjuangan Pemekaran DOB
• 4 jam lalujpnn.com
thumb
5 Berita Terpopuler: Perintah Efisiensi dari Prabowo, P3K PW Jadi Bersedih, PPPK Dikorbankan?
• 14 jam lalujpnn.com
thumb
Herdman Antusias Rasakan Atmosfer GBK Penuh saat Lawan Bulgaria
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Pemilik Ayam Geprek di Bekasi Sebut Korban yang Ditemukan Dalam Freezer Suka Bercanda Semasa Hidup
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
PSS Sleman Gagal Menang: Persaingan Grup B Pegadaian Championship Makin Sengit, Ansyari Soroti Ini
• 14 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.