Banda Aceh (ANTARA) - Kalangan penyintas bencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Tamiang, mulai kembali ke rumah setelah sempat mengungsi karena rumah mereka rusak dan tertimbun lumpur.
"Saya sudah kembali ke rumah sejak beberapa hari lalu. Sebelumnya, saya sempat mengungsi di rumah orang tua setelah rumah saya rusak dan tertimbun lumpur akibat bencana," kata Muhammad Hendra yang dihubungi dari Banda Aceh, Senin.
Muhammad Hendra mengatakan dirinya pulang setelah rumah yang ditempati bersama keluarga saat bencana hidrometeorologi akhir November 2025 sudah selesai dibersihkan dan diperbaiki.
Muhammad Hendra merupakan penyintas bencana yang tinggal di Bundar Vilage 1 Dusun Bahagia, Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.
Ia mengatakan rumah yang ditempati sempat tertimbun lumpur dengan ketinggian lebih dari satu meter. Bagian atas dan plafon rumah rusak berat akibat bencana.
Baca juga: Menteri PKP serahkan 120 unit hunian tetap korban bencana di Tapsel
Menurut dia, pembersihan lumpur material bencana hidrometeorologi akibat meluapnya Sungai Tamiang yang menimbun rumahnya memakan waktu lebih dari satu bulan setengah.
"Setelah itu dilanjutkan proses perbaikan rumah, meliputi atap dan plafon serta pengecatan. Setelah semuanya selesai, kami barulah kembali. Sebelumnya, kami sekeluarga mengungsi di rumah orang tua di kawasan Simpang Opak, Kabupaten Aceh Tamiang," katanya.
Muhammad Hendra menyebutkan biaya pembersihan lumpur hingga perbaikan rumah menggunakan uang sendiri. Uang didapat dengan menjual emas istri serta meminjam dari keluarga besarnya.
"Semua biayanya dari kantong sendiri. Bantuan pemerintah seperti yang dijanjikan hingga kini belum kami terima. Kami berharap bantuan untuk korban bencana seperti yang dijanjikan bisa segera direalisasikan," katanya.
Menyangkut dengan fasilitas air bersih dan listrik, Muhammad Hendra mengatakan air bersih dan listrik tidak ada masalah lagi. Listrik dan air bersih sudah tersambung normal.
"Kondisi lingkungan pemukiman juga sudah tidak ada lumpur lagi. Hanya saja, jalanan berdebu masih berdebu dari sisa-sisa lumpur bencana tersebut," kata Muhammad Hendra.
Baca juga: Empat bulan bencana Sumatera: Darurat teratasi, rekonstruksi dimulai
Baca juga: Perjuangan ayah memberi tempat berteduh di tengah musibah banjir
"Saya sudah kembali ke rumah sejak beberapa hari lalu. Sebelumnya, saya sempat mengungsi di rumah orang tua setelah rumah saya rusak dan tertimbun lumpur akibat bencana," kata Muhammad Hendra yang dihubungi dari Banda Aceh, Senin.
Muhammad Hendra mengatakan dirinya pulang setelah rumah yang ditempati bersama keluarga saat bencana hidrometeorologi akhir November 2025 sudah selesai dibersihkan dan diperbaiki.
Muhammad Hendra merupakan penyintas bencana yang tinggal di Bundar Vilage 1 Dusun Bahagia, Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.
Ia mengatakan rumah yang ditempati sempat tertimbun lumpur dengan ketinggian lebih dari satu meter. Bagian atas dan plafon rumah rusak berat akibat bencana.
Baca juga: Menteri PKP serahkan 120 unit hunian tetap korban bencana di Tapsel
Menurut dia, pembersihan lumpur material bencana hidrometeorologi akibat meluapnya Sungai Tamiang yang menimbun rumahnya memakan waktu lebih dari satu bulan setengah.
"Setelah itu dilanjutkan proses perbaikan rumah, meliputi atap dan plafon serta pengecatan. Setelah semuanya selesai, kami barulah kembali. Sebelumnya, kami sekeluarga mengungsi di rumah orang tua di kawasan Simpang Opak, Kabupaten Aceh Tamiang," katanya.
Muhammad Hendra menyebutkan biaya pembersihan lumpur hingga perbaikan rumah menggunakan uang sendiri. Uang didapat dengan menjual emas istri serta meminjam dari keluarga besarnya.
"Semua biayanya dari kantong sendiri. Bantuan pemerintah seperti yang dijanjikan hingga kini belum kami terima. Kami berharap bantuan untuk korban bencana seperti yang dijanjikan bisa segera direalisasikan," katanya.
Menyangkut dengan fasilitas air bersih dan listrik, Muhammad Hendra mengatakan air bersih dan listrik tidak ada masalah lagi. Listrik dan air bersih sudah tersambung normal.
"Kondisi lingkungan pemukiman juga sudah tidak ada lumpur lagi. Hanya saja, jalanan berdebu masih berdebu dari sisa-sisa lumpur bencana tersebut," kata Muhammad Hendra.
Baca juga: Empat bulan bencana Sumatera: Darurat teratasi, rekonstruksi dimulai
Baca juga: Perjuangan ayah memberi tempat berteduh di tengah musibah banjir





