Manusia memang sering memperumit sebuah definisi. Misalnya tentang arti hidup itu sendiri; pengertian-pengertian berdasarkan ilmu sudah banyak dikemukakan oleh para ahli, namun bagi Tan Malaka hidup berarti bukan atau tidak mati. Cukuplah kata “tidak mati” menutup semua perdebatan tentang apa itu hidup.
Sekarang manusia berlomba untuk menghidupkan hidupnya. Mengapa? Bukankah sekedar bernafas dan bergerak manusia sudah hidup? “manusia hidup untuk menghidupkan orang lain” kata Sam Ratulangi.
Oh jadi karena itu toh, manusia belum bisa dikatakan hidup apabila belum bermanfaat bagi orang lain. namun apa yang diharapkan dari filosofi itu justru tak terlihat dalam praktek kehidupan manusia sehari-hari. Mereka lupa dengan hakikat hidup itu sendiri.
Ada pula yang beranggapan bahwa menghidupkan orang lain harus selalu berhubungan dengan materi; memberi uang kepada si miskin, memberi pakaian, makanan, setelah itu selesai—beres dan hiduplah orang itu.
Jadilah kita masyarakat yang tingkat kebermanfaatan diukur dari seberapa besar sumbangan materi kita kepada peradaban. Fungsi kemanusiaan digantikan dengan fungsi capital. Manusia menjadi hamba uang kata alkitab. Lalu apakah uang memang benar-benar sumber dari segala kejahatan? Tidak!
Cara pandang manusia itulah yang keliru tentang uang. Sejak kecil kita sudah diajar agar belajar dengan rajin supaya kalau besar bisa menjadi “orang”. Nah memangnya waktu itu kita siapa? Hewan atau tumbuhan? Sekali lagi “hidup” atau “jadi orang” diukur dari segi keberhasilan ekonomi belaka.
Perebutan kasta untuk menjaga belanga inilah yang membuat pandangan orang tentang uang berubah. Uang yang tadinya hanyalah alat untuk mencapai kesejahteraan telah berubah menjadi tuan dan raja untuk kepentingan sendiri. manusia menjadi robot-robot yang diatur oleh waktu—sibuk seperti semut, bukan untuk mempersiapkan musim hujan tapi lebih dari itu, sebagai penguasa atas manusia yang lain.
Di tengah persaingan itu, sebutlah ia si klandestin yang menjadi apatis dengan kemunafikan dan ketamakan manusia. Ia memutuskan untuk lari dari keramaian dan mengkritik keadaan tanpa banyak berbuat. Ia telah menawan dirinya di puncak menara yang disusun dari buku-buku.
Ia marah, geram, dan putus asa. Meski sesekali ia mengecek WA dan timeline twitternya ia tetap saja menemui kehampaan. Ia dipenuhi kehawatiran tentang masa depan. Pengetahuannya begitu luas namun ia tidak pernah bisa mendapatkan teman diskusi karena semua manusia kecuali ia, sibuk dalam membangun hidup masing-masing.
Ia mendeklarasikan hidupnya sebagai orang yang anti kemapanan. Bahkan membayangkan dirinya sebagai tokoh sejarah yang berjuang di bawah tanah menentang ketidakadilan. Setidaknya para tokoh sejarah itu memiliki hobi yang sama dengannya yaitu membaca buku. Ia adalah penganut cara berpikir dari Susan Wiggs, “you’re never alone when you’re reading a book”.
Suatu waktu ia membaca artikel Riduan Sitomorang dalam Geotimes tanggal 24 september 2017 yang membahas tentang sumpah pemuda. Konon sumpah pemuda adalah puncak dari prosa-prosa Muhammad Yamin. Dalam artikel tersebut ditulis sastra adalah pelecut dan penentu bahkan pencipta keindonesiaan.
Si klandestin sangat terpengaruh dengan artikel itu. Ia begitu bersemangat untuk menjadi seorang penulis—sastrawan. Ia tidak kaya, nasibnya bahkan tak jelas. Ia hanya seorang yang menganggur akibat dari kombinasi kemalasan mencari pekerjaan dan sulitnya menemukan pekerjaan yang layak di negeri ini—bahkan untuk seorang sarjana, kalau pun ada upahnya jauh dari layak!
Namun untuk menjadi penulis atau sastrawan di negeri ini pun sama menderitanya dengan seorang sarjana yang tidak “bekerja”. Mengapa kata “bekerja” diberi tanda kutip (“)? Karena ada kerumitan dalam mendefinisikan bekerja di negeri ini. masyarakat di Negara si klandestin selalu mengaitkan bekerja itu seperti ASN, dokter, pilot, polisi, pengusaha dan seterusnya. Lalu di manakah penulis, penyair, sastrawan? Ia tidak tahu!
Namun sudahlah, ia tidak mau menjadi bagian dari kemapanan dunia yang munafik itu. Ia memilih jalan kesunyian, tenggelam dalam puisi, esai, dan novel yang tak pernah dihargai oleh penerbit-penerbit besar yang rupanya telah ternoda oleh kapitalisme. Untunglah si klandestin menemukan penerbit independen yang mau menerbitkan karyanya.
Si klandestin sudah puas setelah melahirkan bayi ideologis pertamanya. Ia telah menemukan dunianya meski jauh dari kata sejahtera. Ia tidak tahu sampai berapa lama kehidupannya akan seperti itu. Setidaknya ia telah menjadi “orang”—ia hidup!
Baginya hidup adalah miliknya tanpa harus dibatasi oleh definisi literal atau pun spiritual. Si klandestin memilih jalan yang berbeda dalam membangun peradaban. Ia tidak punya uang untuk membantu orang miskin namun ia punya ide untuk menggelitik penguasa dan membangkitkan kesadaran social.
Bukankah semua agama besar mewariskan kitab suci yang mengubah hidup banyak orang? Begitulah si klandestin berpikir. Hidup tak selalu tentang materi. Mengubah masyarakat bisa juga dilakukan dengan jalan sastra—kebudayaan. Sebagaimana kitab suci yang tak lekang oleh waktu maka kitab sastra pun demikian.
Seberapa buruk kehidupannya sekarang, si klandestin tetap mengingat kata-kata Pramoedya Ananta Toer, “orang boleh pandai setinggi langit namun selama tak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan arus pusaran sejarah”. Si klandestin tetap bertahan pada pilihan hidupnya, menulis dalam kesunyian.
Pernah ia mendapatkan belas kasihan dari beberapa sahabatnya; mereka tahu kebutuhannya sehingga memberinya sejumlah uang. Ia sangat bersyukur dengan kebaikan hati teman-temannya. Ia pun langsung menulis daftar buku yang harus ia beli. Pada saat yang sama ia harus membeli kebutuhan pribadi lainnya yang juga penting. Sewaktu merenung, ia mulai menghitung jumlah biaya yang harus dikeluarkan.
Defisit! Ya uangnya tidak cukup jika harus membeli kedua-duanya. Sejurus waktu ia pun teringat kata-kata Tan Malaka dalam Madilog, “selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi”. Bagi si klandestin itulah definisi dari hidup.





