Dari Kampung ke Ibu Kota, Cerita Pendatang Coba Peruntungan di Jakarta

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Arus balik Lebaran tak hanya membawa warga kembali ke rutinitas, tetapi juga menghadirkan gelombang harapan baru.

Sejumlah pendatang tiba di Jakarta dengan mimpi memperbaiki hidup, sebagian datang dengan rencana matang, sebagian lainnya bermodalkan tekad dan jaringan keluarga.

Di balik angka-angka urbanisasi yang terus bergerak, tersimpan cerita personal tentang keberanian, keraguan, dan perjuangan untuk bertahan di kota yang tak pernah benar-benar berhenti.

Rian Maulana (24), pemuda asal Brebes, Jawa Tengah, adalah salah satu wajah dari arus pendatang pasca Lebaran tahun ini.

Ia tiba di Jakarta pada H+4 Lebaran, 25 Maret 2026, setelah menempuh perjalanan panjang menggunakan bus malam menuju Terminal Pulogebang.

“Ini pertama kalinya saya keluar jauh dari kampung. Jujur agak kaget juga pas sampai sini,” ujar Rian saat dihubungi Kompas.com, Jumat (27/3/2026).

Dengan bekal Rp 1,2 juta dari sisa THR dan tabungan, Rian datang tanpa kepastian pekerjaan.

Ia hanya membawa satu peluang: ajakan sepupunya, Muslim (31), yang telah lebih dulu merantau dan bekerja di konveksi sepatu di kawasan Cakung, Jakarta Timur.

Hari-hari awal di Jakarta langsung memperlihatkan realitas yang berbeda dari bayangannya.

“Saya pikir Jakarta itu gampang cari kerja. Ternyata enggak segampang itu. Saingan banyak, biaya hidup juga tinggi,” katanya.

Kini, Rian mulai membantu pekerjaan ringan di tempat sepupunya, memotong bahan hingga mengelem sepatu, meski belum berstatus pekerja tetap. Ia menyadari bahwa waktu dan uang yang dimilikinya terbatas.

Baca juga: Jalan Gelap di Banten dan Evaluasi Pelayanan Publik Pasca-Mudik

Kisah Rian tak berdiri sendiri. Banyak pendatang nekat ke ibu kota melalui jaringan sosial, kerabat atau teman sekampung yang lebih dulu menetap di Jakarta. Muslim, sepupu Rian, mengakui pola ini sudah lama terjadi.

“Biasanya satu orang berhasil bertahan, nanti dia tarik adik, sepupu, atau teman sekampung. Jadi kayak berantai,” kata dia.

Namun, ia juga tak menutup mata terhadap keterbatasan yang ada. Meski telah lima tahun bekerja di Jakarta, kondisi ekonominya masih bergantung pada sistem borongan.

Meski begitu, ia tetap memilih membantu Rian di awal perantauan, memberi tempat tinggal dan akses awal ke pekerjaan.

“Namanya keluarga, tetap dibantu. Walaupun ya jadi beban juga karena kondisi saya sendiri pas-pasan,” ucap dia.

Realitas Biaya Hidup dan Adaptasi

Bagi pendatang baru, tantangan terbesar bukan hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga bertahan di tengah biaya hidup yang tinggi.

Rian menyebut pengeluaran makan harian bisa mencapai Rp 20.000-30.000 jika berhemat. Ia tinggal di kontrakan kecil bersama sepupunya, berbagi ruang dengan keterbatasan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Kalau malam agak sempit, tapi ya disyukuri dulu. Yang penting ada tempat istirahat,” kata dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
TikTok Minta Larangan Akun Anak di Bawah 16 Tahun Berlaku di Semua Medsos
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
Netizen Ramai-Ramai Jodohkan Fuji dengan Reza Arap, Haji Faisal Angkat Bicara
• 16 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Menkop Minta Koperasi Tinggalkan Simpan Pinjam, Masuk Sektor Strategis
• 56 menit laludisway.id
thumb
Rusia Yakin Iran Akan Laporkan Kelebihan Radiasi ke IAEA di Tengah Ketegangan
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Hasil Final FIFA Series 2026: Timnas Indonesia Kalah Tipis 0-1 dari Bulgaria
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.