Kurs rupiah terhadap US Dollar (USD) kembali mengalami pelemahan. Berdasarkan data per Senin (30/3) pukul 3.59 East Time (EDT), saat ini kurs rupiah berada pada angka Rp 17.002 per USD.
Dikutip dari Bloomberg pada Selasa (31/3) angka tersebut merosot 0,13 persen atau 22 poin dari penutupan sebelumnya yang berada pada angka Rp 16.980 per USD.
Dalam satu tahun terakhir, data menunjukkan bahwa rupiah pernah berada di level terkuat yakni Rp 16.079 per USD dan level paling lemah di angka Rp 17.224 per USD.
Sebelumnya, pengamat Pasar Modal Ibrahim Assuabi memproyeksikan nilai tukar rupiah berpotensi kembali melemah seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat perang antara AS-Israel dengan Iran.
"Bukan karena BI melakukan intervensi. Karena tadinya Trump ini, kan, mau menyerang instalasi listrik nuklir untuk energi itu di Iran," ujarnya kepada kumparan.
Dia bahkan memproyeksikan rupiah dapat bergerak ke kisaran Rp 17.050 dalam beberapa hari perdagangan ke depan.
Di sisi lain, Ibrahim menyebut kebijakan BI yang membatasi transaksi dolar merupakan bagian dari strategi untuk menahan pelemahan rupiah agar tidak terlalu dalam.
Dia menambahkan, besaran intervensi BI baru akan terlihat dari data cadangan devisa yang dirilis setiap awal bulan. Dari data tersebut, pasar dapat mengukur seberapa besar dana yang digunakan bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Ke depan, ia menilai tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut, terutama jika konflik di Timur Tengah belum mereda dan jalur distribusi energi global tetap terganggu.





