EtIndonesia. Hingga Kamis, 26 Maret, sebanyak 784 warga di daratan Tiongkok telah menandatangani petisi yang menyerukan peninjauan menyeluruh dan penghentian sementara transplantasi organ manusia. Aksi ini dilaporkan terus mendapat tekanan dari pihak berwenang.
Penggagas inisiatif ini, seorang warga Guangzhou bernama Gao Fei, pada 8 Maret 2026 mengirimkan “Surat Seruan Darurat” kepada lima lembaga pemerintah, termasuk Kantor Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, Kantor Dewan Negara, Kementerian Keamanan Publik, Komisi Pengawas Nasional, dan Komisi Kesehatan Nasional. Surat tersebut diterima antara 11 hingga 12 Maret.
Dalam surat tersebut disebutkan bahwa sejak pemerintah Tiongkok mendorong “legalisasi” transplantasi organ secara paksa, rasa takut di masyarakat terus meningkat. Banyak kasus yang melibatkan “kematian otak” dilaporkan secara mencurigakan terkonsentrasi pada kelompok usia muda.
Selain itu, proses distribusi organ dinilai tidak transparan, dengan berbagai tudingan tentang “kejahatan tersembunyi” dan “pasar gelap organ” yang terus bermunculan, sehingga merusak kepercayaan publik dan rasa aman.
Surat tersebut menyerukan agar seluruh aktivitas transplantasi organ manusia ditinjau ulang secara menyeluruh dan dihentikan sementara, serta meminta pemerintah memberikan penjelasan terbuka dan transparan atas kekhawatiran masyarakat.
(Tangkapan layar halaman web)Dalam suratnya, Gao Fei menulis: “Setiap kehidupan adalah sesuatu yang sakral dan utuh, bukan ‘komponen biologis’ yang bisa dibongkar dan diperdagangkan oleh negara atau kelompok kepentingan.”
Selain mengirim surat, Gao Fei juga meluncurkan petisi online. Hingga 26 Maret, jumlah penandatangan mencapai 784 orang.
Namun, aksi ini mendapat tekanan dari pihak kepolisian. Gao Fei mengungkapkan bahwa ia menerima telepon dari polisi pada dini hari dan diminta datang ke kantor polisi untuk “memberikan keterangan”. Ia juga terpaksa pindah dari tempat tinggalnya karena pemilik rumah melakukan “renovasi”, sehingga ia kesulitan mencari tempat tinggal. Selain itu, ia juga menerima panggilan dari pihak berwenang di daerah asalnya.
Pada saat yang sama, sebagian konten yang dia bagikan di WeChat diblokir, tautan petisi tidak bisa diakses, dan akun publik WeChat miliknya diblokir permanen setelah hanya digunakan beberapa hari.
Meski demikian, Gao Fei tetap mempublikasikan seluruh komunikasi dengan pihak berwenang di media sosial, dan menyatakan: “Jika pemerintah tidak bisa transparan, maka kita semua tidak bisa hidup dengan layak.”
Isu rantai industri gelap transplantasi organ di Tiongkok telah terungkap sejak tahun 2006. Sejak itu, sejumlah investigasi independen internasional menuduh adanya praktik pengambilan organ secara paksa terhadap praktisi Falun Gong.
Saat ini, sumber donor organ disebut-sebut telah meluas dari kelompok tertentu ke masyarakat umum. Banyak laporan mengenai hilangnya anak-anak dan orang dewasa muda di daratan Tiongkok, yang mana oleh sebagian masyarakat dicurigai terkait dengan praktik pengambilan organ paksa.
Menurut laporan media, seorang pengacara HAM Tiongkok, Shen Guoliang, menyatakan dalam wawancara bahwa praktik pengambilan organ “telah menjadi sebuah industri” dan “cukup luas terjadi, sehingga masyarakat tidak lagi merasa aman.”
Ia juga menyebut praktik tersebut sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan paling berdarah di planet ini”, serta menyerukan agar pemerintah dan masyarakat internasional tidak menganggap isu ini sebagai urusan internal Tiongkok, melainkan segera mengambil tindakan untuk mengungkap dan menghentikannya. (Hui)





