Ikan sapu-sapu merupakan salah satu ikan dalam famili Loricariidae yang banyak dijumpai di daerah aliran sungai Indonesia. Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Veryl Hasan menyebut ikan ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1970 hingga 1980 sebagai ikan hias. Adapun habitat asli ikan sapu-sapu adalah perairan Amerika Selatan.
Menurut Veryl, ikan sapu-sapu juga sering dimanfaatkan untuk membersihkan akuarium. Ikan tersebut bisa menjamur karena dilepasliarkan pemiliknya. Kini, ikan sapu-sapu ada di hampir seluruh perairan di Indonesia.
“Si pemiliknya ini biasanya bosan ya, kalau sudah bosan biasanya dibuang. Nah kalau sudah dibuang dia akhirnya berkembang biak di tempat kita. Nah itu yang menjadi masalah itu,” terang Veryl saat dihubungi kumparan, Selasa (31/3).
Ia juga menyebutkan bahwa ikan sapu-sapu bersifat predator oportunis, sehingga sapu-sapu tak segan memakan semua yang ada di dekatnya. Termasuk ikan yang ukurannya lebih kecil dan telur ikan lain.
“Dia juga makan tanaman, ya oportunis dia. Karena dia oportunis, dia memakan hampir semua resources yang ada. Itu yang membuat dia itu bisa beradaptasi pada lingkungan yang buruk,” ujarnya.
Hal senada terungkap dalam buku berjudul “Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung” oleh Dewi Elfidasari yang dipublikasikan pada 2020. Menurut catatan Dewi, Ikan sapu-sapu awalnya bertubuh mungil. Namun karena peningkatan kemampuan makan, tubuh ikan sapu-sapu semakin besar dan malah memakan telur ikan lain yang berada satu kolam dengannya. Selain pemiliknya bosan, ini juga jadi faktor mengapa pemilik ikan sapu-sapu akhirnya melepaskan mereka ku ke sungai.
Dalam catatan Dewi, keberadaan ikan sapu-sapu memiliki kemampuan reproduksi yang cepat sehingga mudah menguasai sungai. Ikan ini turut mengganggu keragaman jenis plankton yang merupakan sumber makanan ikan-ikan lain. Ikan sapu-sapu juga menyebarkan parasit dan patogen di Sungai Ciliwung.
Sifat invasif ikan sapu-sapu ditandai dengan penurunan keanekaragaman jenis ikan di Ciliwung. Pada 2010 penurunan mencapai 92,5 persen, hal ini disebabkan karena ikan sapu-sapu tak punya predator kompetitor. Tak heran jika ikan dan hewan endemik Sungai Ciliwung kini sulit ditemukan.
Berdasarkan artikel berjudul "Reinvetarisasi dan Analisis Laju Peningkatan Diversitas Ikan di Sungai Ciliwung" yang dipublikasikan di Jurnal Berita Biologi Vol. 24 No. 2 (2025) oleh Iqbal Mujadid dkk, populasi ikan sapu-sapu di Ciliwung meningkat sekitar 24 kali lipat dalam 14 tahun terakhir. Dari yang awalnya hanya 12 ekor pada penelitian 2011 menjadi 287 ekor pada penelitian terbaru 2023–2024.
Ikan Sapu-sapu Harus DimusnahkanSebagai ikan invasif dengan ketahanan yang dahsyat, Veryl turut mengingatkan bahwa ikan sapu-sapu di perairan Indonesia lebih mudah beradaptasi ketimbang di habitat aslinya.
“Sebenarnya ikan sapu-sapu ini kalau di habitat aslinya itu ikan seperti pada umumnya, dia ada di air jernih, dia juga ada di air mengalir, dia selayaknya ikan sebenarnya. Hanya cuma karena dia itu memiliki kemampuan beradaptasi rentang range kemampuannya dia itu lebih luas daripada ikan yang lain,” terangnya.
“Ya bisa dikatakan bahwa sapu-sapu sekarang di Ciliwung itu sangat adaptif, lebih adaptif daripada saudara-saudara dia yang tinggal di tempat aslinya di Amerika,” imbuhnya.
Ikan sapu-sapu di Indonesia juga tak punya predator langsung. Pemangsa alami ikan sapu-sapu salah satunya berang-berang, namun jumlahnya juga terbatas.
“Predator alaminya praktis enggak ada. Predator alami ya paling banter kalau kalau ada otter misalnya berang-berang tapi kan juga jumlahnya enggak banyak, atau ada biawak atau mungkin burung-burung pun juga pasti akan mikir dua kali kalau mau makan ikan ini sebenarnya,” ujarnya.
Maka, Veryl mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu harus dibasmi. Sifatnya yang invasif dan tak punya predator dapat mengganggu ekosistem perairan.
“Ya emang enggak ada cara lain ya memang harus dimusnahkan ikan ini memang. Ya itu kan selayaknya ini ya apa organisme asing yang masuk ke ekosistem natural itu memang tidak dikehendaki keberadaannya. Ya paling realistis ya memang harus membasmi ikan ini,” tegasnya.
Jangan Langsung Dibuang, Ikan Sapu-sapu Bisa DimanfaatkanVeryl mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada upaya yang dilakukan secara masif oleh pemerintah. Upaya mengurangi populasi ikan sapu-sapu umumnya dilakukan oleh masyarakat secara sukarela.
Ia menyarankan agar pemerintah membuat regulasi yang melarang masuknya ikan-ikan asing ke habitat alami. Setelah itu, baru masuk ke aksi pemusnahan ikan sapu-sapu.
Ikan sapu-sapu tak serta merta dimusnahkan begitu saja. Veryl menyarankan agar kandungan protein dalam ikan sapu-sapu dimanfaatkan lebih lanjut. Ikan sapu-sapu dapat diolah menjadi pakan ikan hingga unggas.
“Nah sebenarnya ikan ini juga sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk untuk kebutuhan pakan gitu, misalnya dia dihancurkan untuk substitusi pada tepung ikan. Kemudian dia [ikan sapu-sapu] sebagai substitusi kebutuhan untuk protein di unggas,” terangnya.
“Jadi dia tidak terbuang percuma resources dia tidak terbuang percuma karkasnya, proteinnya tidak terbuang percuma,” imbuhnya.
Menurutnya, ikan sapu-sapu sebenarnya bisa saja dikonsumsi manusia. Sebab ikan ini adalah ikan konsumsi di habitat alaminya. Masalahnya, di Indonesia, ikan ini hidup di tempat dengan polusi tinggi.
“Seandainya, kalau kita berandai-andai budidaya ikan sapu-sapu, kita taruh di kolam yang yang bersih. Ya enggak apa-apa, bagus-bagus saja. Tapi masalahnya ketika dia establish di tempat yang kotor, [mengandung] logam berat, bakteri, dan lain-lain,” ujarnya.





