Spesies invasif seperti ikan sapu-sapu, berkembang pesat di sungai Jakarta dewasa ini. Ikan jenis tersebut saat ini sudah dianggap mengganggu rantai makanan, merusak dasar sungai, dan mengalahkan populasi ikan lokal.
Fenomena maraknya ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta kerap dianggap sebagai penyebab utama hilangnya populasi ikan lokal. Namun, pegiat lingkungan Arief Kamarudin, meluruskan anggapan tersebut.
Menurut Arief, faktor utama rusaknya ekosistem sungai, yang berujung pada berkurangnya populasi ikan asli, justru berasal dari sampah dan limbah yang dibuang manusia.
“Yang bikin ikan asli itu habis sebenarnya manusia, karena banyak limbah dan sampah. Keberadaan ikan sapu-sapu memperparah,” kata Arief kepada kumparan, Senin (30/3).
Ia menjelaskan, kondisi sungai seperti Ciliwung saat ini menghadapi tiga persoalan besar yang saling berkaitan.
Limbah menjadi masalah utama, disusul sampah, lalu keberadaan ikan invasif seperti sapu-sapu.
“Kalau boleh bilang, Ciliwung itu punya tiga masalah, yaitu limbah, sampah, baru sapu-sapu,” ujarnya.
Limbah dan Sampah, Pemicu Utama Kerusakan Ekosistem
Arief menuturkan, limbah, baik dari rumah tangga maupun industri kecil, menjadi penyebab utama menurunnya kualitas air.
Kondisi ini berdampak langsung pada kadar oksigen terlarut di dalam sungai. Akibatnya, banyak ikan lokal tidak mampu bertahan hidup.
“Ikan asli itu butuh lingkungan yang sehat. Kalau airnya sudah tercemar, oksigennya rendah, mereka nggak bisa survive,” jelasnya.
Selain limbah, tumpukan sampah juga memperburuk kondisi sungai. Sampah tidak hanya mengotori aliran air, tetapi juga mengganggu ruang hidup dan tempat berkembang biak ikan.
Di sejumlah titik, Arief menyebut ikan lokal masih bisa ditemukan, namun jumlahnya sangat terbatas dan hanya jenis-jenis yang mampu beradaptasi di lingkungan tercemar.
“Masih ada (ikan lokal), tapi cuma ikan-ikan tertentu yang kuat di kondisi kayak gitu,” katanya.
Sapu-Sapu Memperparah Kondisi
Di tengah kondisi sungai yang sudah tercemar, ikan sapu-sapu justru mampu bertahan dan berkembang pesat. Inilah yang kemudian membuat populasinya terlihat mendominasi.
Menurut Arief, ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif yang dapat mengambil alih ruang dan sumber makanan dari ikan lokal.
“Dia kuat di air yang oksigennya rendah, jadi di saat ikan lain mati, dia malah berkembang,” ujarnya.
Selain itu, ikan sapu-sapu juga dikenal agresif dalam memanfaatkan sumber daya di sungai, mulai dari makanan hingga ruang untuk berkembang biak. Dampaknya, ikan lokal semakin tersingkir.
“Kalau ruang dan makanan diambil semua, ikan asli nggak kebagian. Lama-lama hilang,” kata Arief.
Meski begitu, ia menegaskan kembali bahwa keberadaan sapu-sapu bukan akar masalah utama.
“Sapu-sapu itu efek, bukan penyebab utama. Penyebab utamanya tetap limbah dan sampah,” tegasnya.
Perlu Fokus ke Akar Masalah
Arief menilai, penanganan persoalan sungai tidak bisa hanya berfokus pada pengendalian ikan sapu-sapu.
Tanpa perbaikan kualitas lingkungan, upaya tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan.
“Kalau sapu-sapunya hilang tapi limbah sama sampahnya masih banyak, ya enggak akan berubah banyak,” ujarnya.
Ia juga melihat fenomena viralnya ikan sapu-sapu sebagai peluang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi sungai.
“Dari sapu-sapu orang jadi tahu ternyata sungai kita masalahnya besar,” katanya.





