Maraknya peningkatan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta belakangan menjadi sorotan yang menimbulkan kekhawatiran. Jumlahnya yang terus meningkat diduga berkaitan dengan kemampuan adaptasi tinggi serta minimnya pengendalian yang konsisten.
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Triyanto, mengungkapkan pengendalian ikan sapu-sapu ini perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penangkapan massal hingga perbaikan ekosistem sungai.
Triyanto menjelaskan, strategi pengendalian perlu dilakukan dalam dua pendekatan, yakni jangka pendek dan jangka panjang.
“Strategi jangka pendek; monitoring rutin, edukasi masyarakat, dan penangkapan massal,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Selasa (31/3).
Selain itu, kata Triyanto, langkah jangka panjang juga dinilai penting untuk memastikan pengendalian berjalan berkelanjutan.
Di sisi lain, Triyanto menambahkan, aktivitas biologis ikan sapu-sapu turut memperparah kondisi ekosistem sungai, khususnya pada bagian dasar perairan.
“Aktivitas ikan sapu-sapu yang menggali substrat dalam membuat sarang mempercepat erosi sedimen dan merusak struktur dasar sungai, terutama di ekosistem yang sudah rapuh,” lanjut Triyanto.
Triyanto menjelaskan, ledakan populasi tersebut terjadi karena spesies invasif seperti ikan sapu-sapu memiliki keunggulan adaptasi dan reproduksi yang membuatnya mampu menguasai ruang hidup dan sumber daya.
“Ikan sapu-sapu memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat, jumlah telurnya banyak (fekunditasnya tinggi), siklus hidupnya mencapai dewasa cukup cepat dan dapat bereproduksi sepanjang tahun,” terangnya.
Selain banyak ditemukan di kali Ciliwung, pemandangan dari fenomena maraknya kemunculan ikan sapu-sapu ini bahkan terlihat di salah satu aliran sungai sebuah mal di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Selasa (31/3)
Di aliran tersebut tampak ikan sapu-sapu memenuhi permukaan hingga bagian dasar aliran air. Kawanan ikan berwarna gelap tersebut tampak bergerombol di sejumlah titik.





