Duka mendalam menyelimuti Indonesia setelah tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S di bawah misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) gugur akibat serangan artileri militer Israel Defense Forces di wilayah Lebanon Selatan.
Serangan tersebut terjadi di kawasan garis demarkasi atau Blue Line, yang merupakan zona bebas senjata antara Lebanon dan Israel sebagaimana diatur dalam Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Resolusi 1701 tahun 2006. Insiden ini dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Mahfuz Sidik Pengamat politik Timur Tengah menilai situasi keamanan di kawasan tersebut semakin berbahaya bagi pasukan penjaga perdamaian.
“Serangan beruntun militer Israel di wilayah Blue Line membuat pasukan penjaga perdamaian menjadi sangat rentan. Meskipun memiliki kewenangan self-defense, serangan dengan rudal membuat mereka sulit melindungi diri,” ujar Mahfuz dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026).
Ia juga menyoroti pola berulang dari tindakan militer Israel yang dinilai kerap melanggar kesepakatan internasional, termasuk selama periode gencatan senjata di Gaza.
“Apa yang terjadi ini bukan peristiwa tunggal. Ini pola berulang dari tindakan militer Israel yang sering melanggar kesepakatan, termasuk serangan terhadap warga sipil di Gaza,” tegasnya.
Atas insiden tersebut, Mahfuz mendesak pemerintah Indonesia untuk menunda dan mengkaji ulang rencana pengiriman pasukan penjaga perdamaian ke Gaza dalam skema pasukan stabilisasi internasional.
“Saya mendesak pemerintah untuk menunda dan mengkaji ulang rencana pengiriman pasukan ke Gaza. Tidak ada jaminan keamanan di tengah situasi seperti ini,” katanya.
Menurutnya, risiko yang akan dihadapi pasukan Indonesia di Gaza jauh lebih tinggi, terlebih dengan adanya wacana pelibatan pasukan internasional dalam upaya perlucutan senjata kelompok bersenjata.
“Jika pasukan stabilisasi internasional ditugaskan untuk perlucutan senjata, itu akan sangat berbahaya bagi keselamatan prajurit kita,” ungkap Mahfuz yang juga Ketua Komisi I DPR RI 2010-2017.
Ia juga menilai hingga saat ini belum ada tanda-tanda penyesalan dari pihak Israel atas berbagai pelanggaran yang terjadi, serta minimnya tekanan dari komunitas internasional.
Peristiwa gugurnya tiga prajurit TNI ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah dalam mempertimbangkan keterlibatan lebih jauh dalam misi perdamaian di kawasan konflik aktif seperti Gaza.(faz/ipg)




