JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia mengecam Israel dalam sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang membahas soal gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian Pasukan Sementara PBB di Lebanon alias UNIFIL.
“Indonesia mengutuk keras serangan Israel di Lebanon selatan yang merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan kesatuan wilayah Lebanon,” kata Wakil Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, dalam rapat DK PBB yang disiarkan langsung di kanal YouTube PBB, United Nations, Selasa (31/3/2026).
Baca juga: RI di DK PBB: Kami Tak Terima atas Pembunuhan 3 Prajurit TNI di Lebanon!
Umar Hadi menangkap ada pengkritik yang mengemukakan penilaian bahwa gugurnya tiga prajurit TNI itu karena posisi mereka ada di tengah peperangan aktif.
“Namun ‘framing’ itu mengabaikan pertanyaan mendasar: Siapa yang bertanggung jawab menciptakan dan melanggengkan zona permusuhan aktif itu? Eskalasi terkini ini tidak muncul di ruang hampa. Ini muncul dari serangan berulang oleh militer Israel ke teritori Lebanon,” kata Umar Hadi dalam bahas Inggris.
Baca juga: Prabowo Berduka Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon
Pertemuan DK PBB ke-10127 ini juga dihadiri oleh Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon. Dia terlihat mengetik di gawainya saat Umar Hadi mengkritik Israel.
“Indonesia terus bersolidaritas dengan pemerintah dan rakyat Lebanon,” kata Umar.
Dia melanjutkan, serangan berulang ke wilayah Lebanon itu sengaja menargetkan UNIFIL dan menghalangi pasukan perdamaian menjalankan Resolusi DK PBB Nomor 1701 yang mengamanatkan solusi damai untuk Lebanon.
Serangan itu juga dinilainya merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan.
“Serta dapat dianggap sebagai kejahatan perang,” ujar Umar Hadi.
Baca juga: 3 Prajuritnya Gugur di Lebanon, Indonesia Desak Pertemuan Dewan Keamanan PBB
Indonesia kemudian mendorong agar PBB menggelar penyelidikan yang menyeluruh dan transparan atas peristiwa penyerangan yang menewaskan pasukan UNIFIL dari Indonesia di Lebanon selatan pada 29 dan 20 Maret 2026.
“Izinkan saya memperjelas, kami meminta investigasi oleh PBB, bukan alasan dari Israel,” kata Umar Hadi.
Umar Hadi sebut prajurit yang gugur dan terlukaUmar Hadi menyebutkan satu per satu nama prajurit TNI yang gugur maupun yang terluka di Lebanon dalam peristiwa 29 dan 30 Maret lalu.
Tiga orang yang gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon (27), Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar (33), Sertu Muhammad Nur Ichwan (25).
“Ini adalah kehilangan besar untuk Indonesia, juga kehilangan besar untuk kita semua, untuk PBB, untuk Dewan Keamanan ini, dan untuk setiap masyarakat yang memandang bahwa penjaga perdamaian adalah simbol harapan dan perdamaian,” kata Umar Hadi.
Kata dia, Farizal gugur saat bertugas di pos Adchit Al Qusayr. Adapun Zulmi dan Nur Ichwan tewas saat bertugas mendukung penyediaan logistik di Banni Hayyan.
Lima prajurit yang luka-luka juga dia sebut namanya di forum ini. Mereka adalah Kapten Sultan Wiryan Maulana, Praka Rico Pramudia, Praka Arief Kurniawan, Praka Bayu Prakoso, dan Deni Riyanto.
“Para penjaga perdamaian itu gugur dan terluka ketika mengemban mandat yang dipercayakan kepada mereka oleh Dewan Keamanan PBB ini,” kata Umar Hadi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




