Komisi IV Ingatkan Ancaman Karhutla Saat Kemarau Panjang 2026

liputan6.com
10 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv Singh meminta Kementerian Kehutanan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah yang memiliki potensi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla sebagai langkah antisipasi menjelang musim kemarau panjang 2026.

"Koordinasi dengan daerah-daerah rawan harus terus diperkuat. Sekarang memang sudah ada apel dan jambore, tapi harus ditingkatkan lagi dengan kesiapan nyata di lapangan," kata Rajiv seperti dilansir Antara, Selasa (31/3).

Advertisement

BACA JUGA: Bos Antam Minta Transaksi Perak Bebas PPN 12% dan Penyetaraan PPh 22 Emas

Ia mengatakan langkah kesiapsiagaan seperti apel siaga dan jambore karhutla yang telah dilakukan perlu ditingkatkan lagi, tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diikuti dengan langkah konkret di lapangan.

Menurut ia, sejumlah wilayah di Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda awal peningkatan titik panas. Salah satu daerah yang telah terdeteksi munculnya hotspot, seperti di Provinsi Riau, yang menyebar di sejumlah provinsi lain dalam beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Provinsi Riau tercatat sebagai wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi di Pulau Sumatera pada periode 1 Januari hingga 25 Maret 2026, yakni 302 titik panas dari total 582 titik panas di Sumatra.

Sementara berdasarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), luas areal karhutla di Riau tercatat 2.713,26 hektare dalam kurun waktu 1 Januari hingga 24 Maret 2026.

"Seperti di Riau, titik panas sudah mulai muncul. Ini harus jadi peringatan dini, apalagi kita akan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang," ujarnya.

Selain itu, BMKG juga memprediksi musim kemarau 2026 akan datang secara bertahap mulai April hingga Juni dan berpotensi berlangsung lebih kering di sejumlah wilayah, khususnya Sumatera bagian tengah dan selatan, Kalimantan, serta sebagian Sulawesi.

"Ini kombinasi sangat berbahaya. Kemarau datang lebih cepat, lebih kering, dan lebih panjang," kata Rajiv.

"Data BMKG harus jadi alarm serius bagi kita semua. Jangan sampai kita kecolongan seperti tahun-tahun sebelumnya," imbuhnya.

Ia menambahkan karhutla terjadi tidak melulu karena faktor cuaca. Aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar masih menjadi penyumbang utama terjadinya karhutla di Indonesia.

Setiap memasuki musim kemarau, lanjut Rajiv, jumlah titik panas cenderung meningkat signifikan dengan konsentrasi terbesar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Oleh karena itu, langkah yang perlu diperkuat, antara lain optimalisasi deteksi dini hotspot, peningkatan patroli terpadu di wilayah rawan, kesiapan sarana pemadaman sejak dini, serta pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan.

"Kalau titik api bisa diketahui sejak awal, penanganannya jauh lebih mudah dan biaya yang dikeluarkan juga tidak sebesar ketika api sudah meluas," katanya.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Clara Shinta Masih Sekamar dengan Alexander Usai Bongkar VCS, Pilih Selesaikan Masalah Berdua di Luar Negeri
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Airlangga Bilang ASN WFH Tiap Jumat Agar Efisien dan Modern, Negara Ini Contohnya!
• 20 jam laludisway.id
thumb
Foto: Sampah Menggunung, Tembok Pasar Induk Kramat Jati Ambruk
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Rapat DK PBB Bahas Gugurnya Prajurit TNI: Dalih Israel, Kecaman Negara-negara
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Satgas PRR Bangun 3 Jenis Jembatan Darurat, Rajut Akses di Sumatera
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.