Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, telah mencatat 16 kali erupsi dalam satu hari. Kejadian ini terjadi pada Rabu dalam rentang waktu dari pukul 00.31 WIB hingga 08.42 WIB.
"Sebanyak 16 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-22 mm dan lama gempa 92-164 detik," ujar Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian dalam laporan tertulis, Rabu (1/4).
Dari pengamatan kegempaan lainnya tercatat satu kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 25 mm dan lama gempa 13 detik, kemudian satu kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 20 mm, S-P 5 detik dan lama gempa 23 detik.
"Gunung Semeru juga mengalami satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 38 mm, S-P 15 detik dan lama gempa 57 detik," tuturnya.
Erupsi paling tinggi tercatat pada pukul 05.55 WIB dengan ketinggian kolom letusan yang mencapai 1.100 meter di atas puncak gunung. Tinggi ini setara dengan 4.776 meter di atas permukaan laut.
Letusan pertama di hari itu terjadi pada pukul 00.31 WIB dengan tinggi kolom letusan sekitar 500 meter. Meskipun visual dari letusan terakhir tidak teramati akibat tertutup kabut, pengamatan menunjukkan bahwa aktivitas erupsi di Gunung Semeru terus berlangsung dengan intensitas yang bervariasi.
Karakteristik Erupsi dan Dampaknya Kolom abu dan arah penyebaranKolom abu yang dihasilkan dari letusan Gunung Semeru teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang. Arah penyebarannya menuju barat daya, dan saat laporan terbaru dibuat, erupsi masih dalam proses, menunjukkan bahwa aktivitas volcanik tidak mengendur.
Jenis gempa yang terdeteksiSelama periode pendataan yang ditetapkan, Gunung Semeru mengalami 53 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo antara 11 hingga 22 mm dan 26 kali gempa guguran dengan amplitudo 4 hingga 7 mm. Terdapat juga satu kali gempa embusan dengan amplitudo 6 mm. Data ini menunjukkan tingginya frekuensi aktivitas seismik yang berhubungan dengan erupsi.
Potensi bahaya dari erupsiBerdasarkan pengamatan, potensi bahaya yang timbul dari erupsi ini sangat perlu diperhatikan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung. Dampak dari kolom abu, aliran lahar, serta lontaran batu pijar dapat berpengaruh besar terhadap keselamatan warga.
Status Siaga Gunung SemeruStatus Gunung Semeru saat ini ditetapkan dalam kategori Siaga atau Level III. Hal ini menandakan bahwa masyarakat diharapkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap setiap potensi bahaya yang mungkin timbul akibat aktivitas gunung.
Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat. Mereka diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak gunung. Selain itu, meningkatkan kewaspadaan dalam radius 500 meter dari tepi sungai yang berpotensi terdampak aliran lahar juga menjadi perhatian utama.
Masyarakat harus menghindari aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru, di mana risiko bahaya dari lontaran batu pijar menjadi sangat tinggi. Langkah-langkah mitigasi tersebut dapat membantu meminimalkan risiko yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik ini.





