Invasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung semakin mengkhawatirkan karena mulai menyingkirkan populasi ikan lokal. Warga dan pemancing di sekitar Jembatan Kampung Melayu menyadari betul hilangnya keanekaragaman ikan di perairan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Agus, pemancing yang sudah lama menjadikan Ciliwung sebagai spot favoritnya, mengungkapkan, ikan lokal kini sangat sulit ditemukan. Ikan sapu-sapu yang dulunya jarang terlihat kini justru menguasai sungai.
"Dulu jarang banget, sekarang tiap kali liat sungai pasti ada. Dulu masih banyak mujair, ikan kecil-kecil. Sekarang kalah sama sapu-sapu," ungkap Agus.
Hilangnya ikan lokal ini tak lepas dari kondisi sungai yang semakin tercemar, menjadikannya habitat yang justru sangat disukai ikan sapu-sapu. Adi, pemancing lainnya, juga membenarkan bahwa perairan tersebut kini didominasi penuh oleh ikan invasif itu.
"Menurut saya sih begitu, karena jadinya sungai banyak isi ikan sapu-sapu. Bahkan jadi jarang liat jenis ikan lainnya kalau di sungai," sebut Adi.
Kondisi ini diperparah dengan menumpuknya sampah di sungai. Nuzul, warga setempat yang sering membersihkan area sungai, menyebutkan bahwa masalah sampah belum juga usai.
"Dari dulu gini-gini aja, sering dibersihin tapi masih sering muncul sampah," tuturnya.
Di Sungai Ciliwung, populasi ikan sapu-sapu dilaporkan memang mengalami peningkatan sekitar 24 kali lipat dalam 14 tahun terakhir. Dari yang awalnya hanya 12 ekor pada penelitian 2011 menjadi 287 ekor pada penelitian terbaru 2023–2024. Diduga populasi ikan tersebut semakin banyak dalam dua tahun terakhir.





