Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, optimistis pelebaran defisit APBN 2026 tidak akan melebihi 3 persen di tengah lonjakan harga energi global.
Dia mengatakan, proyeksi tersebut dihitung dengan asumsi minyak mentah dunia rata-rata USD 100 per barel sepanjang tahun.
“Sekarang hitungan kita, kita kendalikan 2,9 persen,” kata Purbaya di Kantor Danantara Indonesia, Jakarta, Rabu (1/4).
Di sisi lain, Purbaya melihat adanya tren penurunan harga minyak dunia. Namun, menurut dia, pemerintah tetap menghitung kemungkinan terburuk, saat minyak dunia konsisten berada pada harga USD 100 per barel.
Dia menuturkan, setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel berpotensi menambah defisit sekitar Rp 6 triliun.
“Yang jelas, setiap USD 1 per barel naik itu sekitar Rp 6 triliun tambahan defisitnya. Tapi ini udah kita hitung semua kan, nanti dengan, even dengan rata-rata USD 100 (per barel) pun, kita sudah kunci defisitnya di bawah 3 persen, sekitar 2,9, jadi nggak masalah,” jelasnya.
Menurut catatan Kemenkeu, hingga Februari 2026 defisit APBN mencapai Rp 135,7 triliun. Realisasi itu setara dengan 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).





